Jayapura, Jubi – Viloki Gohil, pelaksana tugas kepala eksekutif Foundation for Rural Integrated Enterprises and Development (FRIEND) Fiji, mengatakan kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM) akan memberikan tekanan yang lebih besar pada ketahanan pangan di masyarakat pedesaan.
Lebih lanjut kata dia, mengatakan kenaikan harga BBM diperkirakan akan secara signifikan memengaruhi biaya transportasi, terutama untuk desa-desa terpencil yang bergantung pada perahu dan truk untuk mengakses pasar dan pasokan penting.
“Ini pasti akan memengaruhi segalanya sekarang, terutama biaya transportasi karena letak komunitas kami yang terpencil,” katanya sebagaimana dilansir test.jubi.id dari laman www.fijitimes.com.fj
Gohil mengatakan bahwa daerah pedesaan paling rentan selama bencana dan krisis BBM, terutama pada saat rantai pasokan terganggu.
“Dalam situasi banjir, ketika tidak ada akses ke kota, semuanya terputus. Saat itulah ketahanan pangan menjadi sangat penting,” tambahnya.
Oleh karena itu, ia mendesak masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah pedesaan, untuk berkebun di halaman belakang rumah dan bertani secara komunal.
“Kami mendorong keluarga untuk menanam sayuran dan umbi-umbian sendiri agar mereka tidak sepenuhnya bergantung pada makanan yang dibeli di took,” katanya.
Untuk mengatasi masalah ketahanan pangan, katanya, masyarakat mulai menggunakan teknik pengolahan dan pengawetan makanan.
“Kami mengajari mereka cara mengawetkan makanan tanpa bahan pengawet agar bisa bertahan lebih lama dan digunakan saat keadaan darurat,” katanya.
Dia mengatakan pendekatan ini memastikan bahwa meskipun jalur transportasi terpengaruh oleh tingginya biaya bahan bakar atau peristiwa cuaca ekstrem, rumah tangga di pedesaan tetap memiliki akses ke makanan bergizi.
Foundation for Rural Integrated Enterprises & Development (FRIEND) Fiji, sebuah organisasi yang memperkuat dalam mendampingi masyarakat pedesaan(*)











Discussion about this post