Jayapura, Jubi — Seorang saudara kembar siam dari Papua Nugini mengalami koma setelah menjalani operasi pemisahan dan rekonstruksi selama dua belas jam di Australia.
Tom dan Sawong, yang menyatu di perut bagian bawah, menjalani operasi darurat yang tidak direncanakan di Rumah Sakit Anak Sydney pada hari Minggu setelah kondisi Tom memburuk dengan cepat. Demikian dikutip Jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Selasa (9/12/2025).
Bayi kecil yang lemah itu meninggal beberapa menit setelah dipisahkan dari saudaranya, sementara Sawong berada dalam kondisi kritis tetapi stabil.
Tim multidisiplin besar membutuhkan waktu tujuh jam untuk memisahkan bayi-bayi tersebut dan lima jam lagi untuk menangani Sawong.
Seorang juru bicara keluarga mengatakan kepada RNZ Pasific bahwa pada satu tahap negosiasi, rumah sakit meminta AU$2 juta untuk mengoperasi si kembar, tetapi dana dan jaminan tersebut tidak dapat dipenuhi.
Sawong diperkirakan akan tetap koma di unit perawatan intensif selama berminggu-minggu, untuk mengurangi pergerakan dan rasa sakit selama masa penyembuhan.
Bayi berusia dua bulan tersebut dievakuasi melalui medivak dari Port Moresby ke Sydney pada Kamis (4/12/2025) setelah mendapat saran medis untuk segera menjalani operasi.
Keputusan ini diambil setelah berminggu-minggu terjadi perdebatan sengit mengenai kelayakan pemisahan bedah, negara mana yang akan menerima kasus tersebut dan melaksanakan operasi, serta bagaimana pembiayaannya.
Rumah Sakit Anak Sydney menolak berkomentar sebelum operasi karena orang tua si kembar meminta privasi total.
Jurgen Ruh, juru bicara keluarga, mengatakan operasi itu awalnya direncanakan dilakukan minggu ini, namun muncul kekhawatiran bahwa kondisi Tom akan memperburuk kesehatan Sawong.
Si kembar berbagi hati, kandung kemih, dan sebagian saluran pencernaan, tetapi memiliki anggota tubuh dan alat kelamin masing-masing. Mereka juga menderita spina bifida — cacat tabung saraf yang memengaruhi perkembangan tulang belakang dan sumsum tulang belakang bayi baru lahir. Tom menderita cacat jantung bawaan, hanya memiliki satu ginjal, serta kelainan fungsi paru-paru.
“Setelah melakukan penyelidikan sebelum operasi, tim medis di Sydney mengatakan bahwa merupakan suatu keajaiban Tom bisa bertahan hidup selama dua bulan,” kata Ruh.
Pahit Manis
Meskipun operasi rumit itu berhasil, hasilnya pahit sekaligus manis bagi orang tua, Fetima dan Kevin.
“Saya pikir itu luar biasa. Setelah operasi, seorang perawat menyerahkan anak laki-laki itu kepada mereka dan mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memeluknya,” ujarnya.
“Satu tubuh dengan dua jiwa masuk ke ruang operasi, lalu kami memiliki dua tubuh dan dua jiwa. Sedihnya, kami kehilangan Tom, tetapi dengan senang hati kami melaporkan bahwa kami masih memiliki dua jiwa.”
Ruh sebelumnya mengatakan kepada RNZ Pasifik bahwa orang tua anak laki-laki itu telah melalui “rollercoaster” emosi sejak si kembar lahir di sebuah desa terpencil di Provinsi Morobe pada 9 Oktober.
“Mereka sudah menerima kenyataan bahwa mereka akan kehilangan Tom, si kembar yang lebih lemah, dan banyak air mata yang tertumpah selama proses itu,” ujarnya.
RNZ Pasifik mengetahui bahwa orang tua tersebut telah menghubungi pemerintah PNG untuk meminta pendanaan, tetapi Ruh tidak bersedia mengonfirmasi hal ini.
ABC melaporkan bahwa rumah sakit telah meminta pembayaran sebelum si kembar dipindahkan dari PNG. Namun, Ruh mengatakan sejauh yang ia ketahui, tidak ada uang yang berpindah tangan.
Ketika ditanya mengenai pendanaan, ia berkata, “Itu adalah campuran pendanaan yang membutuhkan waktu lama untuk diorganisir.”
“Seharusnya tidak butuh waktu delapan minggu untuk memisahkan si kembar. Seharusnya bisa dilakukan dalam delapan hari, tetapi tidak ada jalur rujukan ke rumah sakit asing,” kata Ruh. Ia menyalahkan sistem kesehatan PNG dan mengatakan bayi yang lahir prematur atau dengan cacat lahir sering kali “hilang dalam sistem tersebut”.
“Perjalanan kami sangat mengecewakan, terutama dari segi dukungan dari Rumah Sakit Umum Port Moresby. Lalu, ada penundaan dalam membawa mereka ke Australia. Kami menjajaki opsi yang lebih cepat, tetapi kami tidak mendapat dukungan apa pun,” katanya.
Berpacu dengan Waktu
Dokter di Rumah Sakit Umum Port Moresby awalnya menjajaki kemungkinan memindahkan si kembar ke Sydney, tetapi rencana itu gagal ketika pendanaan dari lembaga amal ditarik.
Pihak rumah sakit kemudian menyarankan pasangan tersebut untuk tetap tinggal di PNG atau menghadapi risiko kematian salah satu atau kedua anak mereka.
Direktur medis, Dr. Kone Sobi, mengatakan terdapat beberapa pertimbangan penting dalam keputusan akhir tersebut. “Intinya adalah kedua bayi kembar ini memiliki kelainan bawaan yang signifikan, dan kami merasa bahwa meskipun dirawat di unit yang sangat terspesialisasi, peluang bertahan hidup tetap sangat kecil,” katanya.
“Prognosisnya sangat buruk dan masa depan si kembar tidak dapat diprediksi,” tambahnya.
Anak laki-laki tersebut dipindahkan ke Rumah Sakit Swasta Paradise di Port Moresby dua minggu lalu untuk menghindari infeksi silang dari bayi lain, terutama malaria.
Di tengah meningkatnya tekanan publik di PNG dan Australia, tim multidisiplin dari Rumah Sakit Anak Sydney terbang ke Port Moresby pada 21 November untuk menilai kondisi si kembar. Saat itu, berat gabungan keduanya hanya 2,9 kg, dan Tom — si kembar yang lebih kecil — bergantung pada Sawong untuk tetap hidup.
Dalam suratnya kepada para dokter di PNG, tim Sydney menyatakan bahwa operasi itu memungkinkan dilakukan. Meskipun Sawong memiliki peluang cukup besar untuk bertahan hidup, Tom tidak demikian.
“Alasan pemisahan dini adalah karena Sawong bekerja sangat keras untuk mendukung Tom. Itulah sebabnya tim merekomendasikan pemindahan sesegera mungkin dengan transportasi khusus yang dilengkapi tim medis dan perawat,” demikian surat tersebut.
“Mereka akan menjalani beberapa pemeriksaan, termasuk pemindaian MRI dan CT-scan dengan kontras untuk menentukan anatomi dan suplai pembuluh darah mereka.”
“Tim multidisiplin yang terdiri dari ahli bedah hati, bedah kolorektal, urologi, anestesi jantung, kardiologi, neonatologi, dan radiologi intervensional kemudian akan mempersiapkan pemisahan si kembar,” demikian bunyi surat itu.
Tim tersebut akan didukung oleh perawat dan staf pendukung lainnya. (*)











Discussion about this post