Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Pasifik

Nenek Miliakere Lewasau dari Fiji tetap pertahankan tradisi menganyam

January 6, 2023
Waktu Membaca: 2 mins read
0
Penulis: - Editor:
Fiji

Nenek Miliakere Lewasau dari Kampung Nasoqo di Naitasiri, dataran tinggi Fiji. - Jubi/Fiji Times

Jayapura, Jubi – Selama beberapa dekade, para wanita di dataran tinggi Naitasiri Fiji tetap mempertahankan tradisi leluhur anyaman keranjang menggunakan sumber daya alam yang melimpah di dekat kampung tempat tinggal mereka.

Sayangnya, banyak kaum perempuan sudah kehilangan minat untuk tetap mempertahankan ketrampilan anyaman ini karena pengaruh perubahan dari luar sehingga mempengaruhi gaya hidup mereka.

RELATED POSTS

Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura

Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Mahasiswa kedokteran UPNG gelar pameran karier

Berbeda dengan nenek Miliakere Lewasau, meski sudah tua tetapi menekuni tradisi anyaman ini dan tidak akan membiarkan pengetahuan seni dari nenek moyangnya hilang dari jari-jarinya.

Perempuan berusia 72 tahun dari Kampung Nasoqo di Naitasiri, terus rajin dan tekun menenun warisan leluhurnya.

Fiji Times menemui Mama Lewasau di rumahnya usai kembali mengikuti pemungutan suara pada pra-pemungutan suara Pemilu 2022, 14 Desember lalu.

Dia mengatakan keranjangnya dirancang dari tanaman merambat yang disebut wa me atau wa midri, sejenis tanaman rambat dengan akar udara yang panjang.

Menurut dia, dia belajar menenun setelah dia menikah dan pindah ke kampung suaminya.

“Saya belajar dari seseorang yang datang ke kampung kami untuk mengajar para perempuan. Hanya saya dan ibu dari Wainibuka yang menjalankan praktik menenun ini. Sayangnya, dia [perempuan Wainibuka] sudah meninggal dunia, jadi tinggal saya saja,” ujarnya.

Nenek Lewasau mengatakan tanaman merambat harus direndam dalam air terlebih dahulu sebelum bagian dalam tanaman dikerok untuk mendapatkan produk akhir berbentuk tali yang digunakan untuk menenun.

“Putraku pergi mengambil tanaman sebelum aku mulai mempersiapkan.

Pola menenunnya seperti menenun tikar,” katanya sebagaimana dilansir https://www.fijitimes.com/art-of-weaving-lewasau-keeps-ancient-practice-alive.

Dia mengatakan produk akhir digunakan untuk membuat keranjang ikan, membangun rumah dan kasau rumah pengikat.

Nenek Miliakere Lewasau berkata ketika keranjang sudah siap, dia akan menjualnya di Suva.

“Saya menjual keranjang saya di stan bus Suva dan juga di pasar loak. Saya terkadang mengambil sekitar lima atau enam keranjang dan menjual semuanya dan kembali ke rumah dan menghasilkan lebih banyak lagi,” katanya.

“Saya juga menjualnya ke pedagang pasar karena mereka menggunakan keranjang untuk membawa dan mengemas tomat dan sayuran lainnya,” tambahnya.

Dia mengatakan uang yang diperoleh dari penjualan keranjangnya telah membantu menopang keluarganya untuk kebutuhan sehari-hari.

“Saya juga mengajari keluarga saya menenun karena ini bisa menjadi cara mereka menghasilkan uang di masa depan,” katanya.

Nenek Miliakere Lewasau mengatakan pengetahuan menenun dengan cepat menghilang di kampung.

“Saya sering pergi ke kampung terdekat dan mengajari para perempuan cara menenun sehingga mereka bisa memiliki sumber penghasilan sendiri,” katanya.

Pesannya kepada perempuan kampung agar bisa memanfaatkan sumber daya alamnya dan jangan menunggu bantuan pemerintah.

“Kami memiliki tanah, air, laut, dan sumber daya alam yang dapat kami gunakan untuk mencari nafkah dan terus mempraktikkan seni dan keterampilan tradisional kami,” katanya. (*)

Tags: FijiNenek Miliakere LewasauPapuaPasifiktradisi menganyam
ShareTweetSendShareShare
News Desk

News Desk

Related Posts

UPNG
Pasifik

Mahasiswa kedokteran UPNG gelar pameran karier

April 25, 2026
menganyam
Pasifik

Menganyam untuk hidup

April 25, 2026
BBM
Pasifik

Menkeu Kepulauan Marshall memperingatkan tentang stok pasokan BBM

April 25, 2026
Kanaky
Pasifik

Perjalanan berkelanjutan Kaledonia Baru menuju penentuan nasib sendiri

April 25, 2026
Manele
Pasifik

1 Mei jadi penentu nasib PM Manele dan batas kekuasaan pemerintah

April 24, 2026
MoU
Pasifik

Papua Nugini dan AS tandatangani MoU kesehatan

April 24, 2026

Recommended Stories

DOB

DOB berikan ruang OAP menduduki jabatan struktural

July 20, 2022
Yapen

Seleksi DPRK Kepulauan Yapen Mekanisme Pengangkatan diproses di tingkat distrik

October 6, 2024
keamanan

Keamanan berperan penting dalam pertumbuhan pariwisata

April 21, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara