Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Fenomena komunitas lokal “gadungan” di Papua

February 1, 2022
Waktu Membaca: 4 mins read
0
Penulis: - Editor:

Warning: Trying to access array offset on false in /home/jubi/test.jubi.id/wp-content/themes/jnews/class/Image/ImageNormalLoad.php on line 70

Warning: Trying to access array offset on false in /home/jubi/test.jubi.id/wp-content/themes/jnews/class/Image/ImageNormalLoad.php on line 73

 

RELATED POSTS

Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura

Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

West Papua National Committee (KNPB) issues demands over alleged civilian casualties in Puncak Military Operation.

Oleh: Aris Yeimo*

Pada artikel ini, penulis secara sadar, dengan sendirinya menghindari penyebutan komunitas lokal “gadungan” yang mana. Penulis hanya ingin mengidentifikasi watak dasar berbagai komunitas lokal di Papua, sehingga bagi penulis, kata “gadungan” layak untuk dilabelkan kepada komunitas-komunitas tersebut.

Mengapa penulis menggunakan kata “gadungan”? Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan gadungan adalah palsu; bukan sebenarnya; tentang penyamaran seseorang atau sekelompok orang. Terminologi ini kiranya tepat dilabelkan kepada komunitas-komunitas dimaksud.

Artikel ini dimaksudkan agar orang muda asli Papua kritis dan mampu membedakan mana komunitas yang benar-benar lahir dari keprihatinan dan mana yang benar-benar “gadungan”. Sebab, kedua jenis komunitas ini sangat berpotensi lahir di tengah situasi Papua yang serba kacau balau; kemiskinan; marginalisasi; konflik ideologi NKRI dan Papua Merdeka; pemekaran yang dipaksakan; dan situasi lainnya yang sedang diciptakondisikan oleh negara.

Realitas komunitas “gadungan”

Per hari ini, banyak komunitas lokal “gadungan” yang dibentuk di berbagai daerah di lima wilayah adat di Tanah Papua. Di dalamnya tergabung sejumlah orang muda asli Papua. Ada yang menyebut diri mereka intelektual muda, aktivis, tokoh pemuda, pemerhati masalah sosial, pemerhati lingkungan, mantan ketua BEM, dan sebutan lainnya..

Berbagai komunitas lokal “gadungan” ini tentu dilandasi dengan AD/ART atau semacam semangat bersama. Selain itu, ada visi dan misi sebagai penuntun arah gerak komunitas.

Alasan mendasar dibentuknya berbagai komunitas yang paling sering kita dengar bersama adalah sebagai bentuk keprihatinan terhadap realitas sosial yang terjadi di Papua.

Peran berbagai komunitas lokal “gadungan” ini sangat beragam. Ada yang bergerak di bidang sosial-kemasyarakatan, budaya, ekonomi, politik, pendidikan, lingkungan, teknologi, dan sebagainya.

Setiap komunitas menjalankan perannya sesuai visi-misi komunitasnya masing-masing. Mereka juga bergerak sambil menarik sebanyak mungkin simpati dari rakyat.

Kalau kita sedikit jeli melihat fenomena ini, tidak menutup kemungkinan kita akan bertanya-tanya, mengapa berbagai komunitas lokal “gadungan” ini dibentuk atau terbentuk di tengah situasi Papua yang sedang chaos? Siapa aktor intelektualnya? Siapa penyokong dana? Apa saja tupoksi komunitas tersebut? Sejauh mana sumbangsih komunitas tersebut terhadap realitas sosial?

Di sini, peran aktor intelektual dan penyokong dana sangat penting. Apapun indahnya susunan kata-kata pada pamflet ataupun baliho; apapun manisnya narasi yang dibangun di ujung megaphone; apapun kritisnya artikel yang ditulis; toh tetap saja kepentingan aktor intelektual dan penyokong dana tidak bisa diabaikan begitu saja. Artinya, kepentingan terselubung mereka harus diakomodir. Mau-tidak mau, suka-tidak suka.

Peran aktor intelektual dan penyokong dana sangat mudah terbaca melalui ketidak-independensitasnya arah gerak komunitas lokal “gadungan” tersebut. Akan sangat nampak pula ketidak-konsistensiannya. Atau dalam bahasa sederhana yang sering dikatakan Pastor Dr. Neles Tebay (alm), “bicara lain, tulis lain, buat lain”.

Terhadap realitas ini, hipotesa penulis adalah bahwa berbagai komunitas lokal “gadungan” ini dibentuk dengan satu tujuan, yakni mengalihkan perhatian orang muda asli Papua atas realitas hari ini. Orang muda semakin diarahkan menjadi pribadi apatis, tidak kritis dan mudah ikut arus. Selain itu, orang muda atau bahkan rakyat seakan dijadikan domba yang sedang digiring ke tempat pembantaian untuk dibantai melalui kehadiran berbagai komunitas lokal “gadungan” ini.

Watak komunitas “gadungan”

Hipotesis penulis di atas akan didukung dengan penjabaran watak komunitas lokal “gadungan”. Ada beberapa jenis watak yang ingin penulis utarakan di sini.

Pertama, uang. Tentu uang sangat dibutuhkan dalam upaya mendirikan sebuah komunitas. Uang digunakan sebagai pendukung berbagai aktivitas yang hendak diselenggarakan. Namun, uang juga bisa menjadi malapetaka ketika gerak komunitas berbasis pada kepentingan aktor intelektual dan penyokong dana. Uang menjadi penyukses kepentingan jahat aktor intelektual dan penyokong dana melalui gerak komunitas yang sudah “terorkestrasi”.

Kedua, fasilitas. Demi memuluskan kepentingan aktor intelektual dan penyokong dana, maka tidak jarang komunitas difasilitasi dengan berbagai macam fasilitas seperti mobil, motor, hotel, restoran, café, proyek dalam bentuk PT/CV, dan berbagai fasilitas lainnya. Ketersediaan fasilitas yang memadai sangat memungkinkan terciptanya keterikatan yang tersistemik antara komunitas dan kepentingan aktor intelektual dan penyokong dana.

Ketiga, jabatan. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa organisasi atau komunitas tertentu sering dijadikan sebagai batu loncatan, untuk menjadi pejabat di bidang tertentu. Ini sangat memuakkan. Sejarah Papua mencatat itu.

Bahwa ketika menjadi mahasiswa, tidak jarang sebagian orang muda berteriak lantang menuntut keadilan bagi rakyat. Akan tetapi ketika ditawar dengan jabatan, mulut yang dulunya menuntut keadilan itu benar-benar dibungkam. Sekali lagi, ini sangat memuakkan!

Selain ketiga watak yang diutarakan penulis, para pembaca boleh menambah atau membantahnya. Bagi penulis, ketiga watak ini paling sering mendominasi gerak komunitas-komunitas lokal “gadungan”.

Orang muda asli Papua harus kritis

Tentu penulis menyadari bahwa setelah membaca artikel ini, para pembaca yang budiman mungkin saja mengatakan: penulis terlalu memudahkan persoalan atau penulis tidak memahami dinamika yang terjadi dalam tubuh komunitas, sehingga dengan gampang menduga ada berbagai komunitas lokal “gadungan”.

Pada pengantar artikel, secara eksplisit penulis berupaya menghindari penyebutan komunitas-komunitas “gadungan” secara spesifik. Alasannya karena ada juga komunitas lokal yang benar-benar dibentuk atas dorongan hati nurani. Dampak positif komunitas yang bergerak dengan hati nurani sudah dirasakan oleh penulis dan mungkin rakyat umumnya.

Penulis hanya ingin mengantar orang muda asli Papua, agar kritis memetakan aktor intelektual dan penyokong dana. Pemetaan aktor sangatlah penting. Di situ, akan dengan sangat jelas kita mengetahui arah gerak sebuah komunitas.

Sejarah ilmu pengetahuan dan gerakan revolusi di seluruh dunia memberi dalil itu. Bahwa arah gerak suatu komunitas sangat bergantung pada aktor intelektual dan penyokong dana sebagai pemain di belakang layar.

Hendaklah sebuah komunitas orang muda asli Papua dibentuk secara independen; bebas dari keterikatan tertentu agar kita bisa memperjuangkan keadilan demi kebaikan bersama (bonum commune).

Kita menginginkan setiap komunitas orang muda asli Papua benar-benar bersih dari segala kepentingan jahat aktor intelektual dan penyokong dana. Kita tidak ingin lagi seperti domba yang digiring kedua kalinya ke tempat pembantaian untuk dibantai. (*)

*Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Timoteus Marten

 

Tags: opiniPapua
ShareTweetSendShareShare
Victor Mambor

Victor Mambor

Related Posts

Sarmi
Opini

IPM Sarmi mandek dan logika pembangunan yang terbalik

April 11, 2026
dana abadi
Opini

Membangun dana abadi Papua untuk beasiswa dengan skema pembiayaan dipercepat

April 8, 2026
Dana
Opini

Triliunan Hilang, Masa Depan Terabaikan: Kisah Dana Abadi Papua yang Tak Pernah Ada

March 25, 2026
Leluhur
Opini

Ketika Leluhur Mengajari Kita Cara Merawat Bumi

March 11, 2026
freeport Papua
Opini

Dana Abadi Papua: Mengubah kekayaan alam menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang

March 11, 2026
Damai
Opini

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

March 10, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Distrik Klayili

Masyarakat Distrik Klayili palang jalan, tuntut adanya perbaikan

June 30, 2025
Pilkada Serentak 2024, Komnas HAM

Kunjungi Jubi, Tim Komnas HAM minta masukan soal pilkada di Papua

October 28, 2024
Gunung Semeru

Gunung Semeru erupsi dan terekam getaran banjir lahar dingin

January 30, 2024

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara