Lebak Banten, Jubi – Konsolidasi perempuan pemimpin masyarakat adat Nusantara sebagai perempuan penjaga identitas budaya dan wilayah adat digelar di Desa Guradog, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Kamis (07/08/2025).
Konsolidasi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS).
Aleta Kornelia Baun pejuang lingkungan Masyarakat Adat Tiga Batu Tungku Nusa Tenggara Timur atau NTT sebagai narasumber dalam konsolidasi itu mengatakan konsolidasi perempuan pemimpin adat dilatarbelakangi karena perempuan merupakan penjaga kedaulatan pangan, adat, ekologis budaya dan wilayah adat tapi sebagian besar perempuan adat hampir tidak dikenal masyarakat dan pemerintah.
Buka hanya sekadar menjaga kedaulatan, tapi sebagai penanggung jawab besar dalam merawat identitas budaya kampung dan wilayah adat.
Diharapkan dari konsolidasi ini ada hasil yang baik, untuk memperkuat perempuan pemimpin masyarakat adat Nusantara memberi manfaat secara kolektif.
Selama ini perempuan adat berperan dalam melestarikan pengetahuan-pengetahuan tradisional mempertahankan pengetahuan seni-seni.
Selain itu, konsolidasi ini juga penting untuk memperkuat perempuan-perempuan adat yang selama ini berjuang di kampung-kampung.
Untuk itu menurutnya, perlu konsolidasi perempuan pemimpin masyarakat adat Nusantara karena saat ini perempuan adat itu belum sepenuhnya dianggap belum dilihat dan dihargai baik oleh pemerintah bahkan masyarakat di sekitar kampung kita sendiri.
Aleta Kornelia Baun bersyukur dari sekian banyak perempuan di NTT, ia bisa keluar sebagai pejuang. Untuk menjadi pejuang dan pemimpin itu hal yang tidak gampang karena banyak tantangan yang dihadapi.
“Tapi dari tantangan itu datang untuk kita agar kita menemukan strategis ide untuk tetap semangat berkarya,” kata Aleta.
Ia juga menceritakan tentang perjuangannya menjaga tanah dan berhasil menghentikan perusahaan tambang yang menghancurkan tanah leluhurnya.
Berbagai tantangan pun ia hadapi saat memimpin perlawanan dengan menggerakkan kampung-kampung dan juga mengerjakan jaringan masyarakat adat untuk sama-sama berjuang menghentikan perusahaan tambang di NTT.
“Dalam perjuangan saya ada lucunya, ada sedih dan ada senangnya. Saya melakukan perlawanan saat itu saya banyak dapat kekerasan dari orang-orang yang tidak suka atas apa yang saya lakukan,” ujarnya.
Ia mengatakan, dari perjuangan panjang yang dilakukannya, ia mendapatkan dukungan dari masyarakat. Banyak pihak ikut mendukung perjuangannya menjaga lingkungan dan tanah adatnya dari perusahaan tambang.
Sehingga beberapa perusahaan yang beroperasi di wilayah adat masyarakat Tiga Batu Tungku NTT berhenti dengan sendirinya. Dari perjuangannya ia juga berhasil duduk sebagai anggota DPR utusan masyarakat adat Tiga Batu Tungku di NTT.
Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Rukka Sombolinggi berharap, dari konsolidasi perempuan pemimpin masyarakat adat ini, perempuan bisa saling memperkuat.
Sebab, kini banyak perempuan adat yang berjuang mempertahankan wilayahnya adatnya. Ada yang sudah menang tapi tidak bisa menjadi apa-apa karena hubungan dengan tanah sangat lemah.
Katanya, kalau hubungan dengan tanah leluhur hanya dilihat sebagai benda mati atau benda ekonomi untuk menghasilkan uang, bisa dipastikan hidup masyarakat adat atau perempuan adat akan tetap sulit mempertahankan tanah itu bahkan tidak akan merebutnya.
“Jadi penghargaan terhadap leluhur di tanah-tanah leluhur kita itu dengan memperkuat hubungan dengan tanah leluhur dengan alam sekitar kita, saya yakin itu ada di tangan perempuan. Dan saya yakin perempuan-perempuan ada disini hatinya tidak akan bertekuk lutut,” kata Rukka.(*)










Discussion about this post