Jayapura, Jubi – Pemimpin Oposisi Kepulauan Solomon, Matthew Wale menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan pembunuhan warga sipil di West Papua, khususnya di Kabupaten Dogiyai, di mana kembali terjadi hilangnya nyawa orang Melanesia.
Wale mengatakan laporan pembunuhan tersebut, termasuk terhadap seorang anak di bawah umur, sangat mengkhawatirkan dan menimbulkan pertanyaan serius terkait perlindungan terhadap komunitas asli Melanesia. Demikian dikutip test.jubi.id dari laman indepthsolomons.com.sb, Selasa (7/4/2026)
“Rakyat Kepulauan Solomon memiliki hubungan sejarah, budaya, dan leluhur yang kuat dengan masyarakat Papua Barat, dan insiden seperti ini beresonansi di seluruh kawasan kita,” ujarnya.
Pemimpin oposisi itu menegaskan bahwa keselamatan, martabat, dan hak asasi seluruh orang Melanesia harus dijunjung tinggi setiap saat.
“Sesama orang Melanesia harus berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Papua Barat, dan saya mendesak para pemimpin kawasan, khususnya pemimpin Melanesia, untuk bersuara serta memastikan keadilan ditegakkan dan perdamaian yang berkelanjutan menjadi prioritas,” kata Wale.
Pada 31 Maret 2026, kekerasan serius pecah di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, yang mengakibatkan tewasnya sejumlah warga sipil asli Melanesia serta sedikitnya satu anggota polisi, menandai krisis baru di wilayah tersebut. Laporan menyebutkan aparat keamanan melepaskan tembakan setelah kematian seorang polisi, yang menyebabkan korban di kalangan warga sipil dan memaksa penduduk mengungsi ke wilayah sekitar.
Rincian utama insiden tersebut meliputi:
- Korban: Sedikitnya lima warga sipil Papua, termasuk seorang anak di bawah umur, dilaporkan tewas. Laporan awal menyebutkan total enam korban jiwa, dengan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
- Pemicu kejadian: Kekerasan bermula pada 31 Maret di Kampung Moanemani, ketika seorang anggota polisi Papua, Juventus Edowai, ditemukan tewas di dekat sebuah gereja.
- Respons aparat: Menyusul kematian polisi tersebut, aparat keamanan dilaporkan menembaki area pasar dan rumah-rumah warga di Kampung Ikebo.
- Situasi terkini: Kondisi masih tegang, dengan laporan adanya pemblokiran wilayah serta patroli intensif oleh aparat kepolisian.
Insiden ini mengikuti pola konflik berkepanjangan di Dogiyai dan wilayah Papua Tengah yang lebih luas, yang sepanjang 2025 hingga awal 2026 kerap dilanda kekerasan, konflik bersenjata, sengketa wilayah, serta tuduhan pelanggaran hak asasi manusia oleh aparat keamanan.(*)









Discussion about this post