Jayapura, Jubi – Rektor Universitas Ottow Geissler, Dr Philipus Ramandei, SE. MSi. Akt CA menyampaikan bahwa pangan lokal bukan hanya kekayaan alam, juga identitas kearifan lokal.
Ini disampaikan Ramandei dalam seminar dan pangan lokal Papua yang digelar Universitas Ottow Geissler berkolaborasi dengan Samdhana Institut, di salah satu hotel di kawasan Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, Selasa (16/12/2025).
“Potensi pangan lokal atau potensi [lainnya] yang ada di Papua, bukan hanya sebatas kekayaan alam, tetapi itulah identitas kita [sebagai] orang Papua,” kata Ramandei.
Ramandei menyebutkan ada sejumlah pangan lokal, seperti sagu, umbi-umbian, pisang, jagung, dan sebagainya. Namun selama ini potensi pangan lokal baik di darat, maupun di laut, belum dikelola secara maksimal.
“Ada pelaku-pelaku usaha yang yang mencoba dan melihat itu [sebagai potensi/peluang], tetapi butuh dukungan. Karena apalah arti niat yang baik tanpa dukungan oleh berbagai pihak, maka tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan,” ucapnya.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Papua, Triwarno Purnomo mengatakan Papua kaya akan sumber daya, termasuk sumber pangan.
“Kita punya semua, mulai dari sagu, kasbi, singkong, petatas, pisang, termasuk juga ulat sagu. Tetapi, kekayaan alam sumber pangan itu masih sangat terbatas pengelolaannya menjadi inovasi produk,” kata Triwarno.
Menurutnya, dalam pengelolaan produk itu, para pelaku UMKM memiliki tantangan terkait pengemasan, akses pembiayaan dan pemasaran yang masih terbatas.
Triwarno mengajak generasi muda untuk meningkatkan kesadaran mengkonsumsi pangan lokal.
“Terutama adik-adik mahasiswa ini , kamu jangan kira pangan lokal itu buat orang-orang tua saja yang jaga kesehatan. Sekarang kan begitu. Adik-adik ini tidak konsumsi pangan lokal, dong hanya tahu buat orang supaya tidak kolesterol atau diabetes,” ujarnya. (*)











Discussion about this post