Sentani, Jubi – Maggot atau larva dari lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) sebagai salah satu solusi untuk pengelolaan sampah sisa makanan.
Fasilitator Pengelolaan Sampah Yayasan WWF Program Papua, Dony Kristiawan kepada Jubi mengatakan 60 persen sampah di Kabupaten Jayapura adalah sampah sisa makanan.
Pihaknya pun mendorong Dinas Lingkungan Hidup agar sampah sisa makanan bisa dikelola sebelum dibuang semua ke tempat pembuangan akhir atau TPA, melalui kebijakan.
Menurutnya, alam sudah menyediakan solusi untuk mengatasi permasalahan, salah satunya dengan BSF yang sudah tersedia di alam Papua. Jadi, solusinya berbasis alam.
“Lalat BSF itu tidak membawa penyakit, dia hanya hinggap dan bertelur di sampah sisa makanan. Jadi, telur menetas menjadi maggot (larva) itu yang akan mengurai sampah itu,” kata Dony Kristiawan di kantornya, Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (5/10/2025).
Katanya, dari sampah sisa makanan yang diuraikan oleh maggot menghasilkan pupuk frass (seperti butiran pasir dan tidak berbau) dan kualitas lebih baik dari pada umumnya.
“Proses pengomposan [melalui maggot] 20 kali lebih cepat dibandingkan proses pengomposan menggunakan bakteri atau makhluk lainnya,” ucapnya.
Selain itu, maggot juga dapat dimanfaatkan sebagai suplemen untuk ternak seperti ikan atau unggas, tetapi bukan pengganti pakan utama.
Ia mengatakan, tujuan budidaya maggot untuk mengurangi atau mengelola sampah sisa makanan, bukan menciptakan sampah yang baru.
Katanya menambahkan sampah sisa makanan menghasilkan gas metana yang menyebabkan pemanasan global, sehingga, dengan mengurangi dan pengelolaan sampah sisa makanan dan kampanye makan sampai habis (tanpa sisa) dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).
“Karena banyak yang salah kaprah, karena mau budidaya, makanan sengaja disisakan untuk budidaya maggot padahal bukan itu tujuannya. Tujuan utamanya adalah pengelolaan sampah sisa makanan,” ucapnya.
Sementara itu, warga Sentani, Ardini (28) mengatakan bahwa sehari-sehari makanan di rumahnya jarang ada sisa, karena selalu habis dimakan oleh keluarganya. Kalaupun ada sisa, biasanya diberikan ke peliharaanya.
“Kalau di rumah, sampah basah [sisa makanan] hanya tulang-tulang ikan. Kalau ada sisa nasi atau ikan biasanya dikasihkan ke kucing atau ayam, kebetulan ada pelihara ayam,” katanya. (*)











Discussion about this post