Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Headline

Kehangatan Peta dan kegembiraan “anak kaleng” saat hari raya di Jayapura

March 18, 2026
Waktu Membaca: 4 mins read
0
Penulis: Sujarwo Husain - Editor: Jean Bisay
Jayapura

Ilustrasi "anak kaleng" dibuat menggunakan AI

Jayapura, Jubi – Tumpukan minuman kaleng berwarna-warni tersusun rapi di sisi kasir toko-toko di Jayapura. Orang-orang datang dan pergi, mengangkat kardus-kardus minuman ke atas kendaraan mereka. Pemandangan itu berulang saban tahun, menjadi penanda tak tertulis bahwa hari raya sudah di ambang pintu.

Di kota ini, minuman kaleng bukan sekadar barang dagangan musiman. Ia telah menjelma menjadi simbol sosial, penanda kesiapan menyambut tamu, sekaligus bagian dari tradisi yang hidup dalam keseharian warga, baik saat Natal maupun Idulfitri.

RELATED POSTS

Jayapura Civil Registry Office updates Population Data, focuses on Indigenous Papuans

Jaringan internet dan telepon di Jayapura terganggu selama lima jam

Restoran hotel di Jayapura ramai pengunjung selama Ramadan

Bagi masyarakat di ibu kota Papua, tumpukan minuman kaleng adalah isyarat hadirnya sebuah kebiasaan yang lebih besar, Peta atau pegang tangan. Tradisi ini bukan hanya ritual berjabat tangan, melainkan praktik sosial yang mempertemukan orang-orang lintas agama, lintas suku, dalam suasana terbuka.

Saat hari raya tiba, pintu-pintu rumah di Jayapura seolah kehilangan batasnya. Tetangga, kerabat, hingga kawan datang tanpa sekat, saling bersalaman, berbagi cerita, dan merawat hubungan yang telah lama terjalin.

Pegang tangan telah menjadi kebiasaan yang mengakar. Ia hidup dalam ingatan kolektif warga, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk silaturahmi yang egaliter—siapa pun boleh datang, siapa pun diterima.

“Saya kurang tahu sejak kapan kebiasaan itu ada. Tapi waktu masih muda dahulu saya dan teman-teman dengan latar belakang berbeda juga sering bertamu ke orang-orang yang merayakan hari raya,” kata H. Rustam yang sudah 47 tahun menetap di Polimak, Kota Jayapura.

Dari tradisi itu pula lahir fenomena yang oleh warga disebut “anak kaleng”. Istilah yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna sosial yang khas. Ia merujuk pada rombongan anak-anak yang berkeliling dari rumah ke rumah, datang untuk berjabat tangan dan ikut merasakan suasana hari raya.

Gabriel atau biasa akrab disapa Gabi, anak 11 tahun, menjadi bagian dari kelompok itu. Bersama teman-temannya, ia menyusuri jalanan, mengetuk pintu rumah demi rumah, berharap mendapatkan minuman kaleng atau bingkisan kecil.

“Sering, setiap hari raya, mau lebaran atau natal kah, kita jalan pegang tangan. Biasanya jalan kaki dengan teman-teman ke rumah-rumah,” kata Gabi.

Perjalanan mereka sering berakhir dengan tas atau kantong plastik yang terisi penuh. Kadang minuman, kadang makanan ringan, sesekali juga uang yang mereka sebut sebagai “THR”. Namun lebih dari itu, ada pengalaman sosial yang mereka bawa pulang—perjumpaan yang membentuk ingatan masa kecil.

Jayapura
Ilustrasi infografis kehangatan Peta dan kegembiraan “anak kaleng” saat hari raya di Jayapura. – Jubi/Leon Ohee

Perekat Kerukunan

Di Jayapura, tetangga kerap menjadi orang pertama yang datang untuk Peta. Hubungan yang dibangun dari kedekatan geografis itu berkembang menjadi kedekatan sosial yang kuat.

“Kita biasanya satu kompleks kalau pintu rumah tetangga terbuka, kita pasti bertamu duluan,” kata Yusuf, warga Batu Putih.

Silaturahmi itu tidak berhenti pada formalitas berjabat tangan. Ia dilanjutkan dengan percakapan ringan—tentang keluarga, kesehatan, atau keseharian—yang membuat suasana menjadi hangat dan akrab.

Tradisi ini bertahan di tengah perubahan zaman. Ia memberi warna tersendiri bagi perayaan hari raya di Jayapura, menghadirkan rasa persaudaraan yang sulit ditemukan di banyak kota lain.

“Kalau hari raya sudah tiba, kita sudah tahu harus tetap pegang tangan. Ke tetangga duluan baru nanti ke rumah-rumah teman yang lain,” ujar Yusuf.

Bagi Rustam, menyediakan minuman kaleng bagi anak-anak adalah bagian dari rasa syukur. Ia menyiapkan meja khusus di rumahnya, dipenuhi minuman dan bingkisan kecil sebagai bentuk kesiapan menyambut siapa pun yang datang.

“Sudah dari dulu begitu, kita sudah tahu pasti anak-anak akan datang bertamu. Jadi kita selalu siapkan bingkisan untuk mereka. Siapa pun tamunya kita harus tetap sambut dengan penuh syukur, karena bikin kita senang juga kalau rumah banyak tamu,” ujar Rustam.

Kohesi Sosial yang Mengakar

Antropolog dari Universitas Cenderawasih, Dr. Hanro Yonathan Lekitoo, melihat Peta sebagai bentuk kohesi sosial yang telah tumbuh jauh sebelum modernitas menjangkau Papua.

Ia mengenang masa kecilnya pada 1970-an di Miei, Teluk Wondama. Saat itu, keterbatasan infrastruktur tidak menghalangi orang untuk menjaga hubungan.

“Waktu itu belum ada motor atau sepeda. Kami jalan kaki hanya untuk Pegang Tangan ke orang tua punya teman-teman,” kenang Hanro.

Bagi Hanro, Peta adalah praktik solidaritas yang sederhana namun kuat. Orang datang, makan bersama, dan membangun kedekatan tanpa motif lain. Meski demikian, ia mencatat bahwa praktik ini kini mulai bersinggungan dengan dimensi sosial lain, termasuk status dan ekonomi.

Namun, esensi Peta sebagai perekat sosial tetap relevan. Ia menjadi ruang rekonsiliasi, tempat hubungan yang renggang bisa kembali dirajut.

“Ini kesempatan untuk saling memaafkan. Hubungan yang sempat retak bisa nyambung lagi saat kedua tangan saling menggenggam,” tuturnya.

“Anak Kaleng” sebagai Duta Perdamaian

Di antara semua elemen dalam tradisi ini, anak-anak menjadi representasi paling jujur dari makna kebersamaan. Mereka berjalan berkelompok, membawa kantong plastik, mendatangi rumah demi rumah, melintasi batas agama tanpa beban.

Menurut Hanro, kebahagiaan yang mereka rasakan bukan semata karena bingkisan yang didapat.

“Dorang (mereka) jalan dengan kantong plastik bukan karena kelaparan atau ingin dapat sesuatu, tetapi itu bagian dari sukacita. Sukacita bersama dengan yang punya hari raya itu,” kata Hanro.

Di sisi lain, tuan rumah menyambut mereka dengan kesiapan yang sama.

“Yang punya hari raya itu juga dia kasih dengan sukacita. Jadi mereka sudah siapkan juga. Oh ini untuk anak-anak kecil kalau datang saya langsung kasih,” ujar Hanro.

Dalam praktik yang tampak sederhana itu, tersimpan mekanisme sosial yang bekerja secara alami. Anak-anak, tanpa disadari, menjadi perantara nilai—membawa cerita tentang kebaikan, menyebarkan pengalaman tentang penerimaan.

“Kita perlu bersyukur kepada Tuhan kasih kita berbeda-beda, tetapi ada cara yang Tuhan pakai untuk membangun hubungan yang tidak perlu kita bicarakan secara istimewa seperti Pancasila karena gerakan kohesi sosial itu terjadi dari hal-hal kecil seperti ini,” ucapnya.

Tradisi Peta dan fenomena anak kaleng, dalam pandangan Hanro, adalah fondasi yang menjaga masyarakat plural tetap terikat.

“Karena itu sebenarnya ada di dalam nurani, ada di dalam batin masyarakat yang plural, bahwa kita harus saling menolong, saling mengasihi. Fenomena-fenomena kecil yang dibangun oleh masyarakat di akar rumput inilah yang menjadi bagian yang mempersatukan kita,” ucapnya. (*)

Tags: anak kalenghari rayaJayapurakegembiraan anak kalengPeta
ShareTweetSendShareShare
Jean Bisay

Jean Bisay

Related Posts

odong-odong
Indepth Story

Pemuda Papua yang mencari nafkah dari odong-odong

April 23, 2026
Pasukan Non-organik
Indepth Story

Kekerasan tentara non-organik terhadap Orang Asli Papua terus berulang

April 21, 2026
Daniel Hanasbey
Indepth Story

Kisah Daniel Hanasbey, pesepakbola Papua pertama di Eropa

April 21, 2026
Poster film dokumenter Pesta Babi - Dok. Jubi
Indepth Story

Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

April 19, 2026
Pasar Lama Sentani
Indepth Story

Pasar Lama Sentani, tetap hidup dan menghidupi

April 18, 2026
Persipura Experience
Indepth Story

Persipura Experience obati kerinduan pencinta Persipura

April 11, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

DOB

DOB berikan ruang OAP menduduki jabatan struktural

July 20, 2022
Yapen

Seleksi DPRK Kepulauan Yapen Mekanisme Pengangkatan diproses di tingkat distrik

October 6, 2024
keamanan

Keamanan berperan penting dalam pertumbuhan pariwisata

April 21, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara