Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Features

‘Menoken gerabah’ di Kampung Abar, menjaga tradisi lewat tanah liat

February 11, 2025
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Fitri Ramadhani - Editor: Edho Sinaga
Peserta belajar membuat gerabah menggunakan mesin putar. -Jubi/Fitri Ramadhani

Peserta belajar membuat gerabah menggunakan mesin putar. -Jubi/Fitri Ramadhani

Jayapura, Jubi – Sabtu pagi di Sentani, Jayapura, Papua, hujan baru saja reda. Udara segar ikut menyambut perjalanan menuju Kampung Abar, sebuah kampung kecil di tepi Danau Sentani.

Kampung ini menyimpan warisan budaya yang telah bertahan selama 13 generasi, yakni seni membuat gerabah.

RELATED POSTS

Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura

Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

West Papua National Committee (KNPB) issues demands over alleged civilian casualties in Puncak Military Operation.

Perjalanan ke Kampung Abar tidaklah lama. Dari Dermaga Yahim, peserta kegiatan Menoken Gerabah hanya perlu menumpang perahu motor selama kurang dari 10 menit.

Perajin dan pengajar, Beatriks Felle mempraktikkan cara membuat gerabah menggunakan mesin putar kepada peserta. -Jubi/Fitri Ramadhani
Perajin dan pengajar, Beatriks Felle mempraktikkan cara membuat gerabah menggunakan mesin putar kepada peserta. -Jubi/Fitri Ramadhani

Dengan tarif Rp60.000, peserta mendapatkan fasilitas antar-jemput perahu dan konsumsi. Setibanya di kampung, mereka disambut hangat oleh Naftali Felle, Ketua Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional Titian Hidup.

Ketua Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional “Titian Hidup”, Naftali Felle (baju biru topi merah) menyambut peserta kegiatan Menoken Gerabah. Jubi/Fitri Ramadhani
Ketua Kelompok Pengrajin Gerabah Tradisional “Titian Hidup”, Naftali Felle (baju biru topi merah) menyambut peserta kegiatan Menoken Gerabah. Jubi/Fitri Ramadhani

Di bawah arahan Naftali, para peserta langsung didampingi menuju sanggar tempat mereka akan belajar membuat gerabah. Di sana, tiga perempuan pengrajin sudah bersiap menjadi mentor yakni, Lince Doyapo, Beatriks Felle, dan Marsina Pahabol.

“Di sini, semua peserta harus siap tangannya kotor,” ujar Naftali Felle. “Semua harus mencoba membuat sesuatu dari tanah liat.”
Tanah liat yang digunakan telah melalui berbagai tahap persiapan. Ada yang mencoba membentuk pot bunga secara manual, ada yang memanfaatkan cetakan berbentuk honai, tifa, bintang laut, dan daun, sementara beberapa lainnya mencoba teknik menggunakan mesin putar.

Belajar sabar lewat gerabah

Bagi Yokbeth Felle (24), pengalaman ini menjadi tantangan tersendiri. Ia mengaku tak menyangka proses pembuatan gerabah ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

“Ternyata sulit sekali. Saya coba beberapa kali salah, ulang lagi, salah lagi,” ujarnya sembari tersenyum.

Namun, justru dalam proses ini ia menemukan makna mendalam.

“Ini mengajarkan kesabaran. Dan yang terpenting, kegiatan ini membuat saya lebih menghargai budaya lokal,” tambahnya.

Yokbeth berharap anak-anak muda Kampung Abar tetap melestarikan tradisi gerabah ini. “Semoga kita semua bisa lebih menghargai gerabah sebagai bagian dari kearifan lokal Papua,” katanya.

Infografis
Infografis

Dari laki-laki ke perempuan

Seni gerabah di Kampung Abar telah bertahan hingga generasi ke-13. Menariknya, ada pergeseran peran dalam proses pembuatannya.

“Awalnya, hanya laki-laki yang membuat gerabah,” jelas Naftali Felle.

“Namun, sejak generasi ketujuh atau kedelapan, perempuan mulai mengambil alih.”

Meskipun kini mayoritas perajin adalah perempuan, laki-laki tetap berperan penting, terutama dalam menyiapkan bahan baku. Mereka bertugas mencari dan mengolah tanah liat yang berasal dari sekitar kampung.

“Kami punya tanah sendiri di belakang kampung ini,” ujar Naftali.

Ada lima jenis tanah liat yang tersedia: merah, coklat, kuning, hitam, dan putih. Dari semuanya, tanah liat hitam dianggap paling berkualitas karena hampir tidak mudah pecah setelah dibakar.

“Kelebihannya, tanah ini sudah bersih secara alami, tidak perlu proses tambahan seperti pengayakan,” tambahnya.

Namun, meskipun tanahnya berwarna hitam, hasil akhir setelah pembakaran akan berubah menjadi merah.

Infografis
Infografis

Gerabah sumber ekonomi

Bagi masyarakat Kampung Abar, gerabah bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber ekonomi. Dengan keterampilan ini, mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi.
Biasanya, pesanan datang langsung ke sanggar.

Pengunjung yang ingin membeli atau memesan gerabah bisa langsung berkoordinasi dengan para pengrajin.

“Pot bunga paling banyak dipesan, harganya mulai Rp50 ribu,” kata Naftali. “Kalau mug Rp25 ribu, dan sempe (wadah tradisional) berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung ukurannya.”

Untuk ukuran sempe yang lebih besar, khusus digunakan oleh kepala suku, harganya bisa mencapai Rp500 ribu.

Namun, membuat gerabah bukan perkara mudah.

“Ini butuh keterampilan dan waktu,” ujar Naftali. “Bukan sesuatu yang bisa dilakukan terburu-buru.”

Meskipun begitu, ia tetap optimistis bahwa gerabah bisa menjadi salah satu pilar ekonomi keluarga di Kampung Abar.

Perajin dan pengajar, Beatriks Felle mempraktikkan cara membuat gerabah menggunakan mesin putar kepada peserta. -Jubi/Fitri Ramadhani
Perajin dan pengajar, Beatriks Felle mempraktikkan cara membuat gerabah menggunakan mesin putar kepada peserta. -Jubi/Fitri Ramadhani

Proses panjang

Sebelum tanah liat bisa digunakan, ada proses panjang yang harus dilalui. Dahulu, bahan baku yang diambil harus disiram air setiap pagi selama dua minggu untuk menghilangkan zat asam di dalamnya.

“Kalau tanah masih asam, saat dikeringkan dan dibakar, ukurannya bisa menyusut hingga lima sentimeter,” jelas Naftali.

Selanjutnya, tanah mengalami tahap pemijatan untuk memastikan tidak ada kerikil kecil yang tertinggal. Sebab, jika ada kerikil yang terlewat, hasil akhir gerabah bisa retak atau pecah saat dibakar.
Namun, kini proses itu telah lebih efisien.

“Sekarang, tanah liat langsung disaring sebelum digunakan,” kata Naftali.

Metodenya cukup sederhana. Tanah liat dilarutkan dalam air, kemudian dipindahkan ke wadah lain menggunakan saringan halus. Setelah mengendap dan mengering, tanah siap digunakan.

“Setelah itu, baru kami campur dengan pasir, perbandingannya 1 kilogram tanah liat dengan 1 gram pasir,” tuturnya.

Perajin dan pengajar, Beatriks Felle mempraktikkan cara membuat gerabah menggunakan mesin putar kepada peserta. -Jubi/Fitri Ramadhani
Perajin dan pengajar, Beatriks Felle mempraktikkan cara membuat gerabah menggunakan mesin putar kepada peserta. -Jubi/Fitri Ramadhani

Menjaga warisan leluhur

Kegiatan Menoken Gerabah ini bukan sekadar wisata budaya. Ini adalah upaya nyata untuk menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Gerabah Kampung Abar tidak hanya berbicara tentang tanah liat yang dibentuk, tetapi juga kisah-kisah leluhur yang tetap hidup dalam setiap lekukan wadah yang dihasilkan.

Bagi Naftali Felle dan komunitasnya, mempertahankan seni gerabah bukan hanya soal ekonomi, tapi juga tentang identitas.

“Kami ingin anak-anak muda tetap mengenal dan melanjutkan tradisi ini,” katanya.

Di Kampung Abar, tanah liat bukan sekadar bahan mentah. Ia adalah cerita yang terus dibentuk, diwariskan, dan dijaga agar tidak hilang ditelan waktu. (*)

Tags: Gerabahkampung abarPapuaSentani
ShareTweetSendShareShare
Reinardo Sinaga

Reinardo Sinaga

Related Posts

Lingkungan Perumahan
Mamta

Perumahan tak ramah lingkungan, bupati Jayapura panggil ratusan pengembang

April 25, 2026
Sampah Sisa makanan
Lingkungan

Sampah sisa makanan berdampak lebih kuat terhadap pemanasan global

April 25, 2026
Sampah
Mamta

Sisa makanan penyumbang sampah terbesar di Kabupaten Jayapura

April 24, 2026
Komunitas IBAYAUW
Lingkungan

Komunitas IBAYAUW bersihkan kawasan Hutan Perempuan

April 24, 2026
Yahamak
Mamta

Yahamak tunjuk Yakolina Kwalik sebagai direktur

April 22, 2026
Ulayat
Mamta

Sekolah dipalang pemilik ulayat, proses belajar di SDN Inpres Harapan terganggu

April 21, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara