Sentani, Jubi – Pengalaman pahit untuk mengejar ketertinggalan di dunia pendidikan pernah dirasakan seorang pejuang keluarga dari Kampung Abar. Mama Yemima Abalkoy, seorang warga di Kampung Abar, Kabupaten Jayapura, Papua ini pernah ditolak pemerintah saat mengajukan bantuan dana pendidikan, beberapa tahun silam. Namun, bukannya hanya bersedih dan berdiam diri, ia tetap berjuang menyekolahkan anaknya hingga sarjana dari hasil penjualan gerabah.
Ditemui Jubi di rumahnya, Sabtu (22/06/2024) Mama Yemima Abalkoy bercerita, setelah suaminya meninggal dunia, ia memboyong ketujuh anaknya untuk pulang ke kampung halamannya di Abar, disitulah awal mula ia menekuni pembuatan gerabah.
“Saya didorong oleh kakak perempuan tertua saya, kakak Barbie suruh saya untuk belajar buat gerabah, kakak bilang gerabah itu bisa tolong perekonomian keluarga saya,” kata Abalkoy.

Tidak hanya kehilangan suaminya, Abalkoy juga harus rela kehilangan kedua anak lelakinya lagi, namun dengan ketegaran hatinya ia tetap melangkah untuk mengerjakan gerabah, untuk menyekolahkan kelima anak-anaknya dan kebutuhan lainnya.
“Ini foto – foto waktu mama punya anak laki-laki bungsu wisuda, mama tidak ikut hadir, mama sedih sekali dan terharu, dengan kebaikan Tuhan, mama punya anak bisa wisuda tahun ini,” ujarnya.
Sambil menahan haru, mama Yemima Abalkoy juga mengatakan ia pernah ditolak pemerintah, saat mengurus beasiswa bagi anak lelaki bungsunya. Ia juga mengatakan mereka menolak, karena katanya ia memiliki usaha gerabah jadi tidak bisa dikasih bantuan beasiswa.

“Untuk jual gerabah keluar kampung mama tidak pernah jual, biasa mama tunggu orang pesan dan itu kebanyakan dari luar kota, seperti Biak dan Timika,” ujarnya.
Untuk keuntungan, lanjutnya, ia jarang dapat pelanggan untuk beli gerabah, tapi kalau dapat pesanan dari luar kota ia bisa Merauke keuntungan sebesar Rp7 juta.
“Biaya hidup di kampung sini juga besar, semenjak orang-orang kenal uang, tidak sama kayak mama punya zaman dulu. Sekarang semua orang tidak saling menghargai, tidak baku tolong, zaman mama dulu kecil itu, setiap janda diperhatikan sama Ondoafi, ada lahan kebun yang masyarakat bersihkan untuk janda itu garap, tapi sekarang beda, mama harus berjuang sendiri,” ujarnya.

Sementara untuk harga, Gerabah yang dijual harganya Rp50 ribu sampai Rp250 ribu, sesuai ukurannya. Untuk pemesanan kebanyakan pelanggan langsung mendatangi rumah mama Yemima Abalkoy.
“Mama tidak pernah jual gerabah keluar kampung karena biaya transportasinya sulit, jadi mama tunggu orang-orang yang biasa pesan gerabah, ini bukan barang yang cepat busuk jadi mama biasa buat saja terus kasih tinggal, tunggu orang datang beli,” ujarnya.
Mama Yemima Abalkoy juga berharap salah satu cucu-cucunya dapat meneruskan usaha yang sekarang digelutinya. (*)











Discussion about this post