Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Features

Biak 1944: Neraka di Tanah Pasifik

April 17, 2025
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Dominggus A. Mampioper - Editor: Alberth Yomo
Biak

1. Pasukan infanteri Amerika dan tank Sherman mendekati landasan udara Mokmer pada Juni 1944. Pasukan Jepang bertahan gigih dengan membentengi gua-gua di pulau tersebut – Jubi/warfarehistorynetwork.com

Jayapura, Jubi – Pulau Biak, yang terletak di tepi Samudra Pasifik, memiliki posisi strategis yang sangat penting dalam Perang Dunia Kedua, khususnya dalam kampanye Perang Pasifik antara Amerika Serikat dan Jepang. Perang ini dimulai ketika Jepang melancarkan serangan mendadak ke pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, pada 7 Desember 1941, menewaskan lebih dari 2.300 warga Amerika.

Setelah itu, pada 10 Januari 1942, tentara Kekaisaran Jepang menginvasi Biak, yang saat itu merupakan bagian dari Nederlands Nieuw Guinea. Semua warga Belanda di sana ditahan pada 8 Maret 1942. Jepang kemudian membangun infrastruktur militer di Biak, termasuk tiga lapangan udara: Mokmer (kini Bandara Frans Kaisiepo), Sorido, dan Borokoe (sekarang Manuhua). Sementara itu, Amerika Serikat membangun pangkalan dan lapangan udara di Kepulauan Padaido dan Pulau Numfor.

RELATED POSTS

Mahasiswa kedokteran UPNG gelar pameran karier

Menganyam untuk hidup

Papua Nugini dan AS tandatangani MoU kesehatan

Jepang juga membangun sistem pertahanan tersembunyi di dalam gua-gua, yang saat itu tidak diketahui oleh pasukan Sekutu. Mereka bertahan di Biak hingga 1944, saat pasukan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas MacArthur melancarkan serangan ke pulau tersebut.

Pendaratan di Biak

Pendaratan pasukan Amerika terjadi pada 27 Mei 1944 di dekat Bosnik. Awalnya, perlawanan Jepang tampak ringan—banyak perwira Amerika menduga bahwa pasukan Jepang telah meninggalkan pulau. Namun kenyataannya, Jepang sengaja menahan tembakan, menyusun kembali posisi, dan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan.

“Secara strategis, Biak harus direbut. Jepang telah membangun tiga lapangan udara di pulau itu—Mokmer, Sorido, dan Borokoe. Menguasai lapangan udara ini bukan hanya akan mencegah musuh menggunakannya, tetapi juga memungkinkan pesawat pengebom Amerika menyerang Filipina, hanya 800 mil jauhnya,” tulis David Alan Johnson dalam artikelnya The Battle of Biak: A Terrifying Glimpse into the Soul of Mankind (warfarehistorynetwork.com).

Namun, perencana militer Amerika meremehkan kekuatan Jepang di Biak. Mereka memperkirakan hanya ada 4.400 tentara Jepang di pulau itu, padahal jumlah sebenarnya lebih dari 11.400. Mereka juga mengira operasi ini hanya memerlukan waktu seminggu—sebuah perkiraan yang keliru.

Pertempuran Tiga Bulan di Pulau Gua

2. Gua yang dihancurkan tentara AS di Biak, bau menyengat keluar dari mulut gua – Jubi/warfarehistorynetwork.com

Sebanyak 12.000 tentara Sekutu mendarat di Biak. Namun, terumbu karang di sekitar pulau membuat kapal pendarat konvensional tidak dapat digunakan. Sebagai gantinya, digunakan kendaraan amfibi LVT dan DUKW yang bisa melintasi karang dan membawa pasukan serta perbekalan ke pantai.

Meskipun pendaratan berjalan lancar, pertempuran darat justru menjadi sangat sengit dan memakan waktu. Jepang memanfaatkan gua-gua batu kapur sebagai pertahanan alami. Mereka membangun terowongan, dapur, klinik, bahkan instalasi listrik di dalam gua, serta memposisikan artileri dan mortir untuk menyerang secara tersembunyi.

Divisi ke-41 Amerika Serikat dibuat frustrasi oleh taktik ini. “Dengan cepat menjadi jelas bahwa merebut Biak akan menjadi usaha yang panjang dan suram,” tulis Johnson.

Gua-gua itu tidak hanya dalam, tetapi juga saling terhubung. Di Parai, ditemukan gua enam kamar lengkap dengan fasilitas medis dan perlengkapan. Jepang kerap melakukan penyergapan diam-diam dari gua-gua tersebut.

Resimen ke-163 tiba pada 1 Juni 1944 untuk memperkuat Resimen ke-41. Lapangan udara Mokmer berhasil direbut pada 7 Juni, tetapi belum bisa digunakan karena terus-menerus ditembaki oleh pasukan Jepang yang bertahan di gua-gua terdekat.

Pengeboman Gua dan Serangan Balasan

Beberapa gua kecil dihancurkan dengan pemboman oleh pesawat tempur Curtiss P-40 Tomahawk. Sementara gua yang lebih besar ditutup secara perlahan oleh infanteri menggunakan granat, bensin, dan penyembur api. Ketika bensin dibakar di dalam gua, ledakan keras sering kali terdengar, menandakan amunisi Jepang ikut meledak.

3. Sampul buku karya Letjen Robert Eichelberger: Our Jungle Road to Tokyo – Jubi/ist

Letnan Jenderal Robert Eichelberger dalam bukunya Our Jungle Road to Tokyo menulis:

“Ketika kami memasuki gua-gua itu, aroma mayat yang menyengat menyambut kami. Rupanya gasoline dan granat telah melakukan tugasnya dengan baik.”

Serangan balasan Jepang terjadi pada malam 21–22 Juni. Sebanyak 109 tentara Jepang menyerbu posisi Resimen ke-186, meneriakkan “banzai.” Serangan itu berhasil dipatahkan, seluruh penyerang tewas.

Pertempuran untuk membersihkan Gua Barat berlangsung selama 10 hari. Akhir Juni, setelah posisi Jepang berhasil direbut, lapangan udara Mokmer mulai beroperasi dan menjadi basis untuk melanjutkan serangan ke Filipina, sesuai dengan janji Jenderal MacArthur: “I shall return.” (*)

Tags: BiakPasifikPerang Dunia II
ShareTweetSendShareShare
Arga Reysamputra

Arga Reysamputra

Related Posts

Poster film dokumenter Pesta Babi - Dok. Jubi
Indepth Story

Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

April 19, 2026
Papua
Domberai

Kasih Rumbai Koteka, menyalakan harapan anak putus sekolah di Papua Barat

April 12, 2026
pedagang pakaian
Features

Potret lesu pedagang pakaian kaki lima jelang Idulfitri di Jayapura

March 17, 2026
Kuasa hukum
Saireri

KPU Waropen digugat kuasa hukumnya, diduga lakukan wanprestasi

February 23, 2026
OPD
Saireri

Bupati ajak seluruh OPD jaga kebersihan lingkungan di Waropen

February 20, 2026
DPRK Waropen
Saireri

Pansus DPRK Waropen untuk melindungi batas wilayah dan mengawasi penambangan liar

February 11, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Prosesi penyerahan peta tiga wilayah adat kepada PJ Bupati sebagai simbol selesainya pemetaan tiga wilayah adat tersebut, kepada PJ Bupati Kabupaten Jayawijaya, di Aula Hotel Gran Sartika, Jl Bhayangkara, Kota Wamena, Papua, Rabu (9/10/2024). - Jubi/ Ratty Auparai

Lokakarya pemetaan tiga wilayah adat Suku Lanny di Jayawijaya

October 9, 2024
Jayapura

Pemkot Jayapura harap di Hari Kartini perempuan berperan aktif memutus penyebaran Covid-19

April 21, 2022
Pemprov Papua Pegunungan

Pemprov Papua Pegunungan launching identitas kependudukan digital

April 5, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara