Jayapura, Jubi – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua atau KPw BI Papua kembali menyelenggarakan Festival Cenderawasih atau Fescen di bekas terminal Papua Trade Center atau PTC Entrop, Kota Jayapura, Papua, Jumat 13 Juni 2025 hingga Minggu 15 Juni 2025.
Festival Cenderawasih 2025, adalah yang kedua kalinya diselenggarakan dengan tema ‘Mendorong Perekonomian Papua yang Berkelanjutan melalui Pengembangan UMKM, Pariwisata, Investasi, dan Digitalisasi’.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Papua, Faturachman menjelaskan tema tersebut sesuai dengan tujuan dari festival yang akan diselenggarakan itu, untuk meningkatkan iklim investasi dan mendorong sumber ekonomi baru yang berkelanjutan di Papua, seperti sektor perdagangan UMKM baik konvensional atau syariah dan pariwisata lokal.
“Beberapa waktu lalu [pada 10-11 Mei 2025] kami berkolaborasi menyelenggarakan open trip Birdwatching di Tablasupa (Kabupaten Jayapura). Wisatawan lokal cukup antusias karena [paket trip] langsung habis,” katanya saat Bincang-bincang Media di sebuah hotel di Jayapura, Jumat (16/5/2025) malam.
Menurut Faturachman, kegiatan itu merupakan salah satu rangkaian acara menuju Fescen 2025. Rangkaian acara lainnya, yaitu pendampingan dan sertifikasi halal bagi UMKM, pelatihan dan sertifikasi juru sembelih halal (Juleha), tabligh akbar dan kampanye wakaf, serta ekspedisi rupiah berdaulat 2025.
Selain itu, ada juga berbagai kompetisi untuk menyemarakkan Fescen 2025 seperti kompetisi literasi perpustakaan, literasi investasi, dan pariwisata, serta ekonomi dan keuangan syariah.
Analis Yunior Tim Implementasi KEKDA BI Papua, Tigo Saktiansyah menyebutkan Fescen 2025 melibatkan sekitar 40 UMKM dari bidang fesyen, makanan dan minuman, kreatif, dan pariwisata.
Tigo menambahkan ada tujuh kegiatan yang akan dilaksanakan pada puncak Fescen 2025. Empat diantaranya sama seperti sebelumnya yaitu Showcasing dan Business Matching, Competition, Talkshow, dan Culture and Music Festival. Sementara tiga hal yang baru yaitu Sustainable Tourism Exhibition, Sharia dan Halal Fair, dan Inclusive Economic Growth.
“Dalam Inclusive Economic Growth, kami berkolaborasi dengan Charles Toto, juru masak hutan, yang akan menunjukkan pengelolaan pangan lokal yang bersumber dari hutan. Selain itu, nanti juga kami sediakan booth zona kuliner inklusif untuk merangkul seluruh lapisan masyarakat, seperti komunitas adat, disabilitas, perempuan, dan lainnya bersaing dalam praktik ekonomi berkelanjutan,” katanya. (*)











Discussion about this post