Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Rilis Pers

Senator RI sebut Tanah Papua butuh kepemimpinan yang mendengar

January 19, 2026
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Arjuna Pademme
Senator

Senator Republik Indonesia dari daerah pemilihan Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor - IST

Jakarta, Jubi – Senator Republik Indonesia dari daerah pemilihan Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor menyatakan yang dibutuhkan Tanah Papua tidak butuh lembaga ‘gemuk’ namun sistem kepemimpinan yang mendengar.

Pernyataan itu disampaikan Finsen Mayor dalam siaran pers tertulis yang diterima Jubi, Minggu (18/1/2026) malam.

RELATED POSTS

Senator Lis Tabuni kecam keras insiden Puncak yang menewaskan 9 warga

Pengaruh kepemimpinan dan iklim sekolah serta budaya organisasi terhadap kinerja guru di SMA Negeri Paniai

Kepemimpinan dan sistem politik tradisional Papua (4/4)

Ia mengatakan, problem Tanah Papua bukan terletak pada kekurangan lembaga, melainkan ketiadaan ruang dialog yang jujur, tulus, dan setara antara negara dan rakyat Papua.

Finsen Mayor menilai pendekatan pembangunan di Tanah Papua selama ini masih terjebak pada logika struktural yang gemuk, birokratis, dan sarat kepentingan politik, tetapi miskin fungsi dan dampak nyata bagi masyarakat adat.

Menurut Mayor, kunci awal penyelesaian masalah Papua seharusnya sederhana, negara bertanya langsung kepada rakyat Papua. Dialog semacam itu dianggap harus difasilitasi oleh tim independen dan kredibel.

“Presiden tinggal tanya saja, masyarakat Papua maunya apa? Sawit atau sagu? Itu harus dibicarakan langsung,” ujar Finsen Mayor.

Paul Mayor pun secara tegas mendorong Presiden melibatkan BRIN (sebelumnya LIPI) untuk memetakan tokoh-tokoh Papua yang layak diajak bicara.

“Akademisi BRIN itu melihat [Tanah] Papua secara lurus, objektif, bukan berdasarkan kepentingan politik,” ucapnya.

Ia menyebut sejumlah akademisi nasional yang selama ini konsisten dan memahami situasi Tanah Papua secara mendalam, seperti Ikrar Nusa Bhakti dan Adriana Elizabeth. Keduanya dinilai sebagai contoh figur yang seharusnya dilibatkan negara.

Paul Mayor juga mengkritik keras pembentukan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEP OKP) yang dipimpin Felix Wanggai.

Menurutnya, lembaga ini hanya memperpanjang rantai birokrasi yang sebelumnya sudah ada, seperti BP3OKP dan UP4B.

“Dari dulu lembaganya ganti-ganti nama. Strukturnya makin gemuk, tapi fungsinya tidak terasa,” ujarnya.

Dalam kondisi negara sedang melakukan efisiensi dan pemangkasan anggaran, menurut Mayor, pembentukan lembaga baru justru kontraproduktif.

Ia menilai terlalu banyak institusi yang dikirim Jakarta untuk mengurus Papua, tetapi tanpa koordinasi yang jelas dan akuntabilitas publik.

“Yang terlihat hanya koordinasi, makan-makan, rapat-rapat. Apa output-nya? Tidak jelas,” katanya.

Sebagai anggota DPD RI, Paul Finsen Mayor mengungkapkan bahwa hingga kini dirinya dan senator dari Tanah Papua lainnya belum pernah diajak berdialog secara serius oleh pimpinan KEP OKP. Bahkan koordinasi formal dengan DPD maupun DPR RI belum dilakukan.

“Padahal ada 24 anggota DPD dan 18 anggota DPR RI dari enam provinsi di Papua. Kami ini ujung tombak aspirasi rakyat Papua,” ucapnya.

Ia menyayangkan absennya ruang komunikasi resmi antara lembaga baru tersebut dengan perwakilan politik Papua di Senayan. Menurutnya, dialog seharusnya dimulai dari mereka yang memang dipilih langsung oleh rakyat.

Finsen Mayor pun mengusulkan solusi struktural yang lebih kuat dan tegas, yaitu pembentukan Menteri Koordinator Percepatan Pembangunan Papua.

Menurutnya, persoalan Tanah Papua terlalu kompleks untuk ditangani oleh badan yang kewenangannya terbatas.

“Papua itu butuh Menko. Bukan simbol. Bukan wakil. Harus setingkat menteri,” ujarnya.

Ia bahkan mengusulkan pembentukan Menko Otonomi Khusus yang mengoordinasikan wilayah-wilayah khusus seperti Papua, Aceh, DKI Jakarta, dan Yogyakarta, agar kebijakan pembangunan tidak diseragamkan dan lebih kontekstual.

Negarawan Harus Bicara Jujur Mayor menegaskan bahwa sikap kritisnya bukan didorong oleh kemarahan, melainkan oleh tanggung jawab moral sebagai negarawan dan pemimpin adat.

“Saya ini disumpah pakai kitab suci. Kalau saya tidak bicara jujur, Tuhan Yesus marah,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa selain sebagai senator, dirinya adalah Mananwir, pemimpin adat tertinggi yang mandatnya bersifat seumur hidup. Karena itu, ia merasa berkewajiban menyuarakan kebenaran tanpa kepentingan politik jangka pendek.

Mayor mengingatkan para bahwa selama ini Jakarta sering bersikap “buta dan tuli” terhadap situasi di Tanah Papua. Ia juga memperingatkan agar masyarakat Papua tidak terjebak pada sikap apatis akibat suaranya tidak didengar.

Ia mengaitkan kegagalan pendekatan pembangunan seragam dengan sejarah panjang kebijakan pusat di Papua, termasuk contoh Operasi Koteka 1975, yang menunjukkan bagaimana kebijakan tanpa pemahaman budaya justru melahirkan penderitaan baru.

“Papua tidak bisa dibangun dengan pendekatan yang disamakan dengan daerah lain,” tegasnya.

Meski begitu Finsen Mayor menyampaikan keyakinannya bahwa Presiden Prabowo Subianto adalah sosok negarawan yang tulus dan mau mendengar.

“Pak Presiden orang baik. Kalau beliau dengar suara jujur dari Papua, saya yakin Papua ke depan bisa lebih baik,” ujarnya.

Ia berharap Presiden membuka ruang dialog langsung dengan perwakilan rakyat Papua, tanpa perantara politik, demi masa depan Papua dan Indonesia menuju 2045.

“Kunci Indonesia emas itu satu: dengar jeritan rakyat di semua daerah, termasuk Papua,” katanya. (*)

Lanjut Baca
Tags: KepemimpinanPaul Finsen MayorSenator Republik Indonesia
ShareTweetSendShareShare
News Desk

News Desk

Related Posts

Komnas
Rilis Pers

Komnas HAM sampaikan pemantauan enam kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua

April 25, 2026
The Central Executive Board of the Komite Nasional Papua Barat (BPP-KNPB) delivered an official statement outlining its position on alleged military actions against civilians in Puncak Regency. The press conference was held in Waena, Jayapura City, Papua, on Monday (April 20, 2026). — Jubi/Aida Ulim
Rilis Pers

KNPB: Hentikan operasi militer dan pengiriman pasukan di Tanah Papua

April 25, 2026
WWF
Rilis Pers

Hari Bumi: WWF Program Papua dorong aksi selamatkan bumi

April 25, 2026
AlDP
Rilis Pers

AlDP desak Komnas HAM RI selidiki dugaan pelanggaran HAM berat di Puncak

April 22, 2026
GMKI
Rilis Pers

Peristiwa Puncak: PBH GMKI desak evaluasi keberadaan Satgas Habema

April 22, 2026
PGI
Rilis Pers

PGI: Hentikan Kekerasan Bersenjata

April 21, 2026

Discussion about this post

Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara