Jayapura, Jubi- Beberapa korban bencana tanah longsor di Provinsi Enga Papua Nugini menerima pasokan makanan dari lembaga bantuan pada Selasa (4/6/2024). Dilaporkan bantuan akan lebih banyak lagi diberikan hari ini, Kamis (6/6/2024).
“Hal ini terjadi ketika Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB melaporkan lebih banyak batu yang jatuh di wilayah tersebut,” kata laporan yang dikutip test.jubi.id dari rnz.co.nz, Kamis (6/6/2024)
Mohamud Omer, yang bekerja untuk IOM di lapangan, mengatakan 7.847 orang di daerah tersebut terkena dampak tanah longsor sementara sekitar 1.650 orang mengungsi dari rumah mereka.
Pusat Bencana Nasional PNG mengatakan lebih dari 2.000 orang tertimbun tanah longsor, namun jumlah sebenarnya tidak diketahui.
“Masih belum ada informasi lebih lanjut dari pemerintah [mengenai jumlah korban tersebut],” kata Omer.
Dia berharap akan ada gambaran yang lebih jelas karena semakin banyak jenazah yang ditemukan.
National melaporkan 11 jenazah kini telah ditemukan. Di antara korban tewas terdapat dua anak berusia delapan dan 12 tahun.
Sejak awal bencana – yang melanda desa Yambali pada pukul 03.00, 24 Mei 2024– penduduk kampung setempat telah menggunakan tangan dan sekop untuk menggali jenazah.
“Orang-orang masih menggali, mencari keluarga mereka di bawah puing-puing. Batu-batu besar itu sangat, sangat besar dan melampaui kapasitas orang-orang.” katanya.
Omer mengatakan jalan raya utama yang menyediakan akses termudah ke desa Yambali masih tertutup puing-puing.
“Informasi yang kami dengar dari pemerintah masih menunggu update dari tim penilai geoteknik.”
Para insinyur telah dikerahkan oleh Angkatan Pertahanan PNG dan tim dari Selandia Baru yang memberikan bantuan. Sementara itu, perbekalan disalurkan melalui jalur alternatif, lanjutnya.
Laporan IOM mengatakan tim Bencana dan Respons Australia di lapangan sedang mengawasi pendirian tenda.
Dua unit alat berat sedang meratakan tanah untuk menampung tambahan tenda pengungsian bagi warga yang mengungsi dari rumahnya.
Hingga Senin, jumlah ekskavator di lokasi tersebut berjumlah empat unit.
Bahan pangan yang dibagikan antara lain beras, ikan kaleng, minyak goreng, gula pasir, dan garam beryodium. IOM memperbarui catatan untuk memastikan distribusi bantuan antar keluarga berjalan adil.
Sedangkan Pasukan Bencana Papua Nugini membantu pendistribusian dan juga menjaga ketertiban.
IOM dan World Vision kini bersiap untuk mendistribusikan barang-barang non-makanan.
Laporan lain dari IOM mengatakan kekhawatiran keamanan dilaporkan di lokasi di mana para pengungsi sedang membangun tempat penampungan, sehingga “memerlukan pengelolaan situasi yang hati-hati”.
Koresponden RNZ Pasifik Scott Waide mengatakan para politisi di negara tersebut kini memberikan perhatian lebih kepada Enga.
Hanya ada sedikit tanggapan politik pada tahap awal krisis ini hingga sidang parlemen dimulai minggu lalu. Para anggota parlemen telah terganggu oleh rencana mosi tidak percaya terhadap Perdana Menteri James Marape yang kemungkinan akan terjadi minggu ini.
“Selama sidang parlemen, ketua parlemen pada dasarnya memarahi semua politisi dengan mengatakan bahwa fokus kami telah beralih dari Enga ke mosi tidak percaya,” kata Waide.
“Kemudian beberapa anggota parlemen lainnya berdiri dan menyampaikan belasungkawa,” tambahnya.
“Saya rasa orang-orang di tingkat politik sekarang lebih berhati-hati dalam memberikan perhatian mereka.” katanya.
UNICEF tingkatkan respon bencana
Sementara itu menurut postcourier.com.pg sekitar 40 persen korban bencana di Kampung Mulitaka, Provinsi Enga adalah anak-anak berusia di bawah 16 tahun.
Hal ini menyebabkan United Nations Children’s Fund atau UNICEF mengintensifkan tanggap daruratnya.
Upaya pencarian dan pemulihan dipimpin pasukan pertahanan PNG dalam kondisi alam yang menantang, dengan medan yang belum stabil dan jalan-jalan rusak membatasi akses ke zona bencana longsor. “Kami bekerja sama dengan pihak berwenang Papua Nugini dan organisasi masyarakat untuk memberikan dukungan penting kepada para penyintas bencana mengerikan ini,” kata Perwakilan UNICEF di PNG Angela Kearney.
“Sekarang jelas bahwa lebih dari 40 persen dari mereka yang terkena dampak adalah anak-anak di bawah usia 16 tahun yang sangat trauma karena telah kehilangan keluarga, rumah dan mata pencaharian mereka,“ kata Kearney seraya menambahkan sebagai respon awal UNICEF telah mendistribusikan sejumlah perlengkapan kebersihan yang berisi ember, jerigen dan sabun serta pembalut wanita yang dapat digunakan kembali, kain serba guna dan barang-barang lainnya yang telah diserahkan kepada Otoritas Kesehatan di Provinsi Enga, PNG. (*)











Discussion about this post