Jayapura, Jubi – Tantangan yang semakin besar masih dihadapi oleh pihak berwenang dan kelompok kemanusiaan untuk memberikan bantuan kepada para penyintas longsor. Akses jalan menuju lokasi bencana sulit sehingga menghambat penyaluran bantuan kepada korban, termasuk perempuan dan anak-anak, yang terkena dampak bencana tanah longsor di Papua Nugini.
“Dua minggu setelah bencana longsor di Kampung Yambali di Provinsi Enga, bantuan kemanusiaan masih terhambat karena kurangnya akses jalan, ketegangan antar suku, dan perintah evakuasi baru,” demikian dikutip Jubi.id dari rnz.co.nz, Sabtu (8/6/2024).
Kelompok-kelompok kemanusiaan merawat lebih dari seribu orang yang terkena dampak tanah longsor di Papua Nugini, banyak di antaranya adalah perempuan dan anak-anak yatim piatu.
Pencarian jenazah secara resmi telah berakhir dan setidaknya 670 orang kini dianggap hilang, sementara lokasi tanah longsor di Enga kini ditetapkan sebagai lokasi pemakaman.

Direktur internasional kelompok kemanusiaan CARE yang berbasis di PNG, Justine McMahon berbicara dengan pembawa acara Pacific Waves Susana Suisuiki.
Pusat Bencana Nasional PNG mengatakan lebih dari 2.000 orang terkubur hidup-hidup akibat tanah longsor yang terjadi pada hari Jumat di Provinsi terpencil Enga.
Pemerintah Australia telah mengirimkan ahli teknik dan bantuan awal sebesar $ 2,5 juta karena jumlah korban tewas terus meningkat. Menteri wilayah Pasifik Pat Conroy mengatakan situasi di wilayah bencana “sangat suram” dan menyampaikan bela sungkawa kepada PNG. “Saya diberi tahu akses hanya dapat dicapai melalui helicopter, sehingga upaya pencarian dan pemulasaran jenazah sangatlah, sangat menantang,” katanya kepada ABC News Breakfast.
Hal senada dalam akun twitter @SenatorWong, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan Australia mendukung kerja sama antara mitra Quad untuk membantu Papua Nugini dalam proses pemulihan dari tanah longsor yang tragis.
“Pada saat dibutuhkan, Quad memberikan bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana yang praktis dan efektif di seluruh Indo-Pasifik,” kata Penny Wong. (*)











Discussion about this post