Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Melihat Papua dari Bawah

November 6, 2025
Waktu Membaca: 2 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Alberth Yomo
Papua

Anggalih Bayu Muh Kamim

Oleh: Anggalih Bayu Muh Kamim

RELATED POSTS

Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura

Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

West Papua National Committee (KNPB) issues demands over alleged civilian casualties in Puncak Military Operation.

Kajian Pusat Penelitian Kependudukan LIPI (2019) di Provinsi Papua Barat menemukan bahwa layanan pendidikan yang diberikan pemerintah tidak sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari orang Papua, serta jauh dari mode penghidupan yang mereka jalani lintas generasi. Kajian tersebut menunjukkan bahwa kurikulum yang terus berubah di tingkat nasional dan minimnya fasilitasi dari pemerintah membuat orang Papua sulit memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan penghidupannya.

Upaya rekonstruksi dan perbaikan kebijakan layanan pendidikan yang selaras dengan pelestarian kearifan lokal dan pengelolaan sumber daya menjadi penting untuk meningkatkan pemenuhan hak-hak dasar orang Papua.

Keluar dari Stigma

Kajian yang kami lakukan di salah satu daerah di Provinsi Papua Barat menemukan adanya stigma yang diberikan kepada siswa yang lebih memilih pergi ke kebun pala—penopang utama penghidupan rumah tangga—dibanding bersekolah.

Siswa yang membantu orang tuanya di kebun kerap dianggap “malas” dan “enggan bersekolah.” Sementara itu, orang tua yang menghabiskan waktu dari pagi hingga sore untuk mengelola dusun pala juga distigma seolah-olah “tidak mampu mendampingi anaknya belajar.” Para guru pun mengaku kesulitan mendampingi siswa, karena murid sering kali dianggap sudah “kelelahan” setelah bekerja di kebun.

Alih-alih melanjutkan stigma tersebut, sebaiknya kita melihat kegiatan berkebun di dusun pala sebagai bagian dari proses pendidikan yang langsung menunjang penghidupan keluarga. Pergi ke kebun sejatinya adalah proses belajar, karena di dalam aktivitas itu anak memperoleh pewarisan pengetahuan dari orang tua: mengenali bagian pohon pala yang dapat dikelola hingga kelak mampu membangun rumah tangga sendiri.

Pembelajaran seperti ini juga menjaga keutuhan komunitas dan mencegah gesekan sosial, sebab setiap rumah tangga telah mengetahui batas kebun yang menjadi hak kelola keluarganya secara turun-temurun.

Kesadaran Bersama

Pendidikan yang kontekstual mampu menjaga keutuhan dusun pala agar tidak terancam oleh proyek-proyek dari pihak luar. Warga yang memahami komunitasnya akan lebih mudah melestarikan lingkungan tanpa merusak ruang hidup mereka.

Industrialisasi dapat dikembangkan secara bertahap dengan menyiapkan materi dan sarana pembelajaran yang sesuai dengan aktivitas berkebun. Dengan demikian, setelah lulus, siswa dapat langsung bergabung dengan unit-unit ekonomi yang telah disiapkan untuk mengolah hasil bumi.

Langkah ini penting untuk mencegah masalah yang muncul akibat materi pembelajaran yang tidak kontekstual—seperti kesulitan lulusan sekolah memperoleh pekerjaan, sementara di sisi lain mereka enggan kembali berkebun.

Hal ini sejalan dengan kajian sebelumnya yang menemukan bahwa ketika pendidikan tidak sesuai dengan basis penghidupan rumah tangga, anak muda cenderung enggan melanjutkan pekerjaan orang tuanya sebagai petani atau pekebun (White, 2012). Akibatnya, banyak keluarga menjual lahan demi membiayai pendidikan anak, sehingga generasi muda kehilangan akses untuk mengelola lahan dan hidup dari berkebun (Nugraha & Herawati, 2017).

Unit ekonomi yang disiapkan harus sesuai dengan kebutuhan dan pengetahuan lokal tanpa mengorbankan aspek lingkungan maupun sosial. Contohnya dapat dilihat dari keberhasilan industrialisasi tengkawang oleh masyarakat adat di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, yang mampu menjaga hutan adat, melestarikan pengetahuan lokal, sekaligus meningkatkan skala ekonomi rumah tangga.

Pendekatan ini memosisikan warga sebagai guru bagi anak-anak Papua di akar rumput dan membantu mengawasi mereka agar terhindar dari kenakalan remaja seperti konsumsi minuman keras.

Pengembangan pendidikan kontekstual perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari tingkat dasar hingga menengah, bahkan dalam jangka panjang dengan mendorong siswa dari komunitas adat melanjutkan pendidikan ke jurusan yang sesuai dengan moda penghidupan di daerah asal.

Langkah ini akan membangun sistem pendidikan yang mencegah generasi muda meninggalkan kampung halamannya dan mengurangi pengangguran setelah lulus. Pendidikan yang kontekstual membuat orang Papua dapat meningkatkan kesejahteraannya tanpa kehilangan budaya dan ruang hidupnya. (*)

( Penulis adalah Koordinator Lapangan dan Peneliti Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi dan IPB University )

Tags: Layanan PendidikanPapua
ShareTweetSendShareShare
News Desk

News Desk

Related Posts

Sarmi
Opini

IPM Sarmi mandek dan logika pembangunan yang terbalik

April 11, 2026
dana abadi
Opini

Membangun dana abadi Papua untuk beasiswa dengan skema pembiayaan dipercepat

April 8, 2026
Dana
Opini

Triliunan Hilang, Masa Depan Terabaikan: Kisah Dana Abadi Papua yang Tak Pernah Ada

March 25, 2026
Leluhur
Opini

Ketika Leluhur Mengajari Kita Cara Merawat Bumi

March 11, 2026
freeport Papua
Opini

Dana Abadi Papua: Mengubah kekayaan alam menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang

March 11, 2026
Damai
Opini

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

March 10, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara