Oleh: Anggalih Bayu Muh Kamim
Kajian Pusat Penelitian Kependudukan LIPI (2019) di Provinsi Papua Barat menemukan bahwa layanan pendidikan yang diberikan pemerintah tidak sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari orang Papua, serta jauh dari mode penghidupan yang mereka jalani lintas generasi. Kajian tersebut menunjukkan bahwa kurikulum yang terus berubah di tingkat nasional dan minimnya fasilitasi dari pemerintah membuat orang Papua sulit memperoleh pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan penghidupannya.
Upaya rekonstruksi dan perbaikan kebijakan layanan pendidikan yang selaras dengan pelestarian kearifan lokal dan pengelolaan sumber daya menjadi penting untuk meningkatkan pemenuhan hak-hak dasar orang Papua.
Keluar dari Stigma
Kajian yang kami lakukan di salah satu daerah di Provinsi Papua Barat menemukan adanya stigma yang diberikan kepada siswa yang lebih memilih pergi ke kebun pala—penopang utama penghidupan rumah tangga—dibanding bersekolah.
Siswa yang membantu orang tuanya di kebun kerap dianggap “malas” dan “enggan bersekolah.” Sementara itu, orang tua yang menghabiskan waktu dari pagi hingga sore untuk mengelola dusun pala juga distigma seolah-olah “tidak mampu mendampingi anaknya belajar.” Para guru pun mengaku kesulitan mendampingi siswa, karena murid sering kali dianggap sudah “kelelahan” setelah bekerja di kebun.
Alih-alih melanjutkan stigma tersebut, sebaiknya kita melihat kegiatan berkebun di dusun pala sebagai bagian dari proses pendidikan yang langsung menunjang penghidupan keluarga. Pergi ke kebun sejatinya adalah proses belajar, karena di dalam aktivitas itu anak memperoleh pewarisan pengetahuan dari orang tua: mengenali bagian pohon pala yang dapat dikelola hingga kelak mampu membangun rumah tangga sendiri.
Pembelajaran seperti ini juga menjaga keutuhan komunitas dan mencegah gesekan sosial, sebab setiap rumah tangga telah mengetahui batas kebun yang menjadi hak kelola keluarganya secara turun-temurun.
Kesadaran Bersama
Pendidikan yang kontekstual mampu menjaga keutuhan dusun pala agar tidak terancam oleh proyek-proyek dari pihak luar. Warga yang memahami komunitasnya akan lebih mudah melestarikan lingkungan tanpa merusak ruang hidup mereka.
Industrialisasi dapat dikembangkan secara bertahap dengan menyiapkan materi dan sarana pembelajaran yang sesuai dengan aktivitas berkebun. Dengan demikian, setelah lulus, siswa dapat langsung bergabung dengan unit-unit ekonomi yang telah disiapkan untuk mengolah hasil bumi.
Langkah ini penting untuk mencegah masalah yang muncul akibat materi pembelajaran yang tidak kontekstual—seperti kesulitan lulusan sekolah memperoleh pekerjaan, sementara di sisi lain mereka enggan kembali berkebun.
Hal ini sejalan dengan kajian sebelumnya yang menemukan bahwa ketika pendidikan tidak sesuai dengan basis penghidupan rumah tangga, anak muda cenderung enggan melanjutkan pekerjaan orang tuanya sebagai petani atau pekebun (White, 2012). Akibatnya, banyak keluarga menjual lahan demi membiayai pendidikan anak, sehingga generasi muda kehilangan akses untuk mengelola lahan dan hidup dari berkebun (Nugraha & Herawati, 2017).
Unit ekonomi yang disiapkan harus sesuai dengan kebutuhan dan pengetahuan lokal tanpa mengorbankan aspek lingkungan maupun sosial. Contohnya dapat dilihat dari keberhasilan industrialisasi tengkawang oleh masyarakat adat di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, yang mampu menjaga hutan adat, melestarikan pengetahuan lokal, sekaligus meningkatkan skala ekonomi rumah tangga.
Pendekatan ini memosisikan warga sebagai guru bagi anak-anak Papua di akar rumput dan membantu mengawasi mereka agar terhindar dari kenakalan remaja seperti konsumsi minuman keras.
Pengembangan pendidikan kontekstual perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari tingkat dasar hingga menengah, bahkan dalam jangka panjang dengan mendorong siswa dari komunitas adat melanjutkan pendidikan ke jurusan yang sesuai dengan moda penghidupan di daerah asal.
Langkah ini akan membangun sistem pendidikan yang mencegah generasi muda meninggalkan kampung halamannya dan mengurangi pengangguran setelah lulus. Pendidikan yang kontekstual membuat orang Papua dapat meningkatkan kesejahteraannya tanpa kehilangan budaya dan ruang hidupnya. (*)
( Penulis adalah Koordinator Lapangan dan Peneliti Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi dan IPB University )











Discussion about this post