Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Derma Pergi Dari Lorong Gereja Namun Tak Kembali

September 15, 2025
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Alberth Yomo
gereja

Oleh: Aroon Aymaus Esyah

RELATED POSTS

Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura

Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

West Papua National Committee (KNPB) issues demands over alleged civilian casualties in Puncak Military Operation.

Berbicara mengenai gereja selalu menjadi topik yang luas dan beragam, baik dari segi gereja sebagai institusi maupun gereja sebagai persekutuan iman. Gereja sebagai institusi berarti struktur yang memiliki aturan, hierarki, kepemimpinan, dan umat. Gereja sebagai persekutuan iman berarti kumpulan orang yang percaya kepada Tuhan. Dua pengertian ini sejatinya tidak dapat dipisahkan, melainkan saling melengkapi.

Tulisan ini adalah sebuah refleksi kritis tentang situasi Gereja Katolik di Papua, khususnya terkait pengelolaan derma. Gereja secara institusional bertindak sebagai pengelola derma, sementara umat berperan sebagai penyumbang. Relasi ini semestinya bersifat timbal balik dan transparan, sehingga derma benar-benar kembali menjadi berkat bagi umat.

Pengertian Gereja dan Derma

Menurut KBBI, gereja adalah “bangunan tempat ibadah umat Kristiani, dan perkumpulan umat Kristen yang memiliki keyakinan dan ajaran yang sama.” Dalam arti yuridis, gereja adalah persekutuan orang-orang yang dibaptis dalam Kristus (lih. kan. 96, 204, 205). Gereja dipahami sebagai sakramen keselamatan dan Tubuh Mistik Kristus (Rom. 16:25–27; 1 Kor. 10:11; Kol. 1:18, 24), yang menampakkan diri melalui tanda-tanda sakramental dan struktur communio.

Derma menurut KBBI adalah “sumbangan atau pemberian sukarela, baik berupa uang, barang, atau layanan, yang ditujukan untuk membantu orang lain atau kepentingan umum.” Dalam konteks gereja, derma adalah wujud nyata kasih Kristus — bukan sekadar pemberian materi, tetapi sebuah tindakan iman untuk memperkuat solidaritas dengan sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita.

Tiga Fokus Pembahasan

Tulisan ini membatasi diri pada tiga hal:

  1. Pengelolaan derma oleh gereja – terutama pada level keuskupan.
  2. Pertanyaan apakah derma kembali kepada umat – sesuai tujuan awalnya.
  3. Refleksi penulis – sebagai ajakan untuk koreksi dan perbaikan.

Kunci Brankas Derma Ada di Tangan Keuskupan

Derma sepenuhnya berasal dari umat Katolik. Karena itu, pengelolaannya menjadi tanggung jawab hierarki gereja: uskup, pastor, diakon, dan para biarawan-biarawati.

Pertanyaan mendasar yang selalu muncul di benak umat adalah: “Ke mana derma itu pergi? Mengapa tidak terasa kembali dalam kehidupan umat?”

Bagi banyak umat, derma bukan sekadar uang yang dimasukkan ke kotak persembahan. Itu adalah pemberian yang disertai doa dan pengharapan. Umat ingin melihat derma tersebut dikelola dengan bijaksana, agar menjadi sarana keselamatan dan berkat bagi sesama yang paling membutuhkan.

Kondisi Ekonomi Umat

Mayoritas umat di Papua hidup dengan penghasilan yang sangat terbatas. Banyak yang hanya berkebun, menjual hasil tani atau pinang, dengan penghasilan harian Rp5.000–Rp10.000. Dari hasil yang sedikit itu, sebagian tetap mereka sisihkan untuk derma pada hari Minggu.

Bayangkan: dengan segala kekurangan, mereka tetap memberi. Umat datang dengan hati penuh harapan, bersujud di lorong gereja, berdoa untuk dirinya yang lemah. Harapan mereka sederhana: agar derma itu kembali menjadi berkat — entah melalui bantuan langsung, dukungan pendidikan, atau penguatan ekonomi keluarga.

Menunggu Derma Pulang

Secara teori, gereja memiliki berbagai unit bantuan:  DSP (Dana Sosial Paroki) – membantu umat yang membutuhkan, – Dana Solidaritas Paroki – bantuan dari keuskupan untuk paroki, – DANPAMIS (Dana Papa Miskin) – dari kolekte dan persembahan bulanan, untuk umat yang kesulitan ekonomi, – dan Dana Pemberdayaan Umat – untuk pelatihan usaha kecil di bidang pertanian, perikanan, atau keterampilan.

Namun, dalam praktik, bantuan nyata sering kali tidak terlihat di tingkat paroki. Banyak umat miskin — janda, duda, yatim-piatu — tetap menunggu. Harapan mereka seakan tidak pernah sampai.

Keuskupan seharusnya tidak menunggu umat datang meminta, tetapi proaktif mendatangi dan mendengar jeritan mereka. Gereja dipanggil untuk menjadi suara kenabian, hadir bagi yang miskin dan lemah (Luk 4:18; Luk 5:31–32; Mzm 22:24).

Pertanyaannya: kapan derma itu kembali? Menunggu terlalu lama membuat harapan umat berubah menjadi kekecewaan.

Refleksi

Situasi ini menjadi cermin bagi gereja di Papua: apakah doa dan ibadah benar-benar menyentuh kehidupan umat? Apakah derma yang dikumpulkan sudah digunakan untuk menghadirkan wajah Kristus bagi yang menderita?

Sayangnya, umat Papua sering kali terlalu menghormati hierarki gereja, sehingga jarang mengkritisi ketidakadilan atau ketimpangan. Gereja akhirnya cenderung menutup diri dan menjauh dari misi Yesus yang datang untuk yang miskin dan tertindas.

Kini saatnya gereja mengembalikan peran institusionalnya sebagai tubuh Kristus yang hidup, bukan sekadar mesin ritual. Derma harus menjadi berkat yang nyata, bukan hanya angka dalam laporan keuangan.(*)

 (Penulis adalah Mahasiswa Unipa, Jurusan Antropologi Sosial dan Budaya)

Tags: DermagerejaGereja KatolikPapua
ShareTweetSendShareShare
News Desk

News Desk

Related Posts

Sarmi
Opini

IPM Sarmi mandek dan logika pembangunan yang terbalik

April 11, 2026
dana abadi
Opini

Membangun dana abadi Papua untuk beasiswa dengan skema pembiayaan dipercepat

April 8, 2026
Dana
Opini

Triliunan Hilang, Masa Depan Terabaikan: Kisah Dana Abadi Papua yang Tak Pernah Ada

March 25, 2026
Leluhur
Opini

Ketika Leluhur Mengajari Kita Cara Merawat Bumi

March 11, 2026
freeport Papua
Opini

Dana Abadi Papua: Mengubah kekayaan alam menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang

March 11, 2026
Damai
Opini

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

March 10, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Covid-19, RSUD Abepura

RSUD Abepura diminta percepat pembayaran insentif Covid-19

December 20, 2023
Bendungan Sadawarna

Jokowi resmikan Bendungan Sadawarna di Subang

December 27, 2022
Pelabuhan Jayapura, Pas Masuk Pelabuhan

Pelabuhan Jayapura uji coba pembayaran pas masuk pelabuhan dengan e-money 

December 10, 2024

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara