Oleh: Aroon Aymaus Esyah
Berbicara mengenai gereja selalu menjadi topik yang luas dan beragam, baik dari segi gereja sebagai institusi maupun gereja sebagai persekutuan iman. Gereja sebagai institusi berarti struktur yang memiliki aturan, hierarki, kepemimpinan, dan umat. Gereja sebagai persekutuan iman berarti kumpulan orang yang percaya kepada Tuhan. Dua pengertian ini sejatinya tidak dapat dipisahkan, melainkan saling melengkapi.
Tulisan ini adalah sebuah refleksi kritis tentang situasi Gereja Katolik di Papua, khususnya terkait pengelolaan derma. Gereja secara institusional bertindak sebagai pengelola derma, sementara umat berperan sebagai penyumbang. Relasi ini semestinya bersifat timbal balik dan transparan, sehingga derma benar-benar kembali menjadi berkat bagi umat.
Pengertian Gereja dan Derma
Menurut KBBI, gereja adalah “bangunan tempat ibadah umat Kristiani, dan perkumpulan umat Kristen yang memiliki keyakinan dan ajaran yang sama.” Dalam arti yuridis, gereja adalah persekutuan orang-orang yang dibaptis dalam Kristus (lih. kan. 96, 204, 205). Gereja dipahami sebagai sakramen keselamatan dan Tubuh Mistik Kristus (Rom. 16:25–27; 1 Kor. 10:11; Kol. 1:18, 24), yang menampakkan diri melalui tanda-tanda sakramental dan struktur communio.
Derma menurut KBBI adalah “sumbangan atau pemberian sukarela, baik berupa uang, barang, atau layanan, yang ditujukan untuk membantu orang lain atau kepentingan umum.” Dalam konteks gereja, derma adalah wujud nyata kasih Kristus — bukan sekadar pemberian materi, tetapi sebuah tindakan iman untuk memperkuat solidaritas dengan sesama, terutama mereka yang miskin dan menderita.
Tiga Fokus Pembahasan
Tulisan ini membatasi diri pada tiga hal:
- Pengelolaan derma oleh gereja – terutama pada level keuskupan.
- Pertanyaan apakah derma kembali kepada umat – sesuai tujuan awalnya.
- Refleksi penulis – sebagai ajakan untuk koreksi dan perbaikan.
Kunci Brankas Derma Ada di Tangan Keuskupan
Derma sepenuhnya berasal dari umat Katolik. Karena itu, pengelolaannya menjadi tanggung jawab hierarki gereja: uskup, pastor, diakon, dan para biarawan-biarawati.
Pertanyaan mendasar yang selalu muncul di benak umat adalah: “Ke mana derma itu pergi? Mengapa tidak terasa kembali dalam kehidupan umat?”
Bagi banyak umat, derma bukan sekadar uang yang dimasukkan ke kotak persembahan. Itu adalah pemberian yang disertai doa dan pengharapan. Umat ingin melihat derma tersebut dikelola dengan bijaksana, agar menjadi sarana keselamatan dan berkat bagi sesama yang paling membutuhkan.
Kondisi Ekonomi Umat
Mayoritas umat di Papua hidup dengan penghasilan yang sangat terbatas. Banyak yang hanya berkebun, menjual hasil tani atau pinang, dengan penghasilan harian Rp5.000–Rp10.000. Dari hasil yang sedikit itu, sebagian tetap mereka sisihkan untuk derma pada hari Minggu.
Bayangkan: dengan segala kekurangan, mereka tetap memberi. Umat datang dengan hati penuh harapan, bersujud di lorong gereja, berdoa untuk dirinya yang lemah. Harapan mereka sederhana: agar derma itu kembali menjadi berkat — entah melalui bantuan langsung, dukungan pendidikan, atau penguatan ekonomi keluarga.
Menunggu Derma Pulang
Secara teori, gereja memiliki berbagai unit bantuan: DSP (Dana Sosial Paroki) – membantu umat yang membutuhkan, – Dana Solidaritas Paroki – bantuan dari keuskupan untuk paroki, – DANPAMIS (Dana Papa Miskin) – dari kolekte dan persembahan bulanan, untuk umat yang kesulitan ekonomi, – dan Dana Pemberdayaan Umat – untuk pelatihan usaha kecil di bidang pertanian, perikanan, atau keterampilan.
Namun, dalam praktik, bantuan nyata sering kali tidak terlihat di tingkat paroki. Banyak umat miskin — janda, duda, yatim-piatu — tetap menunggu. Harapan mereka seakan tidak pernah sampai.
Keuskupan seharusnya tidak menunggu umat datang meminta, tetapi proaktif mendatangi dan mendengar jeritan mereka. Gereja dipanggil untuk menjadi suara kenabian, hadir bagi yang miskin dan lemah (Luk 4:18; Luk 5:31–32; Mzm 22:24).
Pertanyaannya: kapan derma itu kembali? Menunggu terlalu lama membuat harapan umat berubah menjadi kekecewaan.
Refleksi
Situasi ini menjadi cermin bagi gereja di Papua: apakah doa dan ibadah benar-benar menyentuh kehidupan umat? Apakah derma yang dikumpulkan sudah digunakan untuk menghadirkan wajah Kristus bagi yang menderita?
Sayangnya, umat Papua sering kali terlalu menghormati hierarki gereja, sehingga jarang mengkritisi ketidakadilan atau ketimpangan. Gereja akhirnya cenderung menutup diri dan menjauh dari misi Yesus yang datang untuk yang miskin dan tertindas.
Kini saatnya gereja mengembalikan peran institusionalnya sebagai tubuh Kristus yang hidup, bukan sekadar mesin ritual. Derma harus menjadi berkat yang nyata, bukan hanya angka dalam laporan keuangan.(*)
(Penulis adalah Mahasiswa Unipa, Jurusan Antropologi Sosial dan Budaya)











Discussion about this post