Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Orang asli Papua mesti mengenal budaya sendiri

August 24, 2023
Waktu Membaca: 5 mins read
0
Penulis: - Editor:
budaya

Orang asli Papua. – Jubi/JubiTV

Oleh: Sepi Wanimbo

RELATED POSTS

Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura

Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

West Papua National Committee (KNPB) issues demands over alleged civilian casualties in Puncak Military Operation.

Sebelum melanjutkan artikel ini pertama-tama kita mesti memahami apa itu budaya. Kata ”budaya” berasal dari bahasa Sansekerta “buddhayah”, yakni bentuk jamak dari “buddhi” (akal). Jadi, budaya adalah segala hal yang bersangkutan dengan akal.

Selain itu kata budaya juga berarti “budi dan daya” atau daya dari budi. Jadi budaya adalah segala daya dari budi, yakni cipta, rasa dan karsa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia budaya artinya pikiran, akal budi, hasil, adat istiadat atau sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat-istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni bahasa, sebagaimana juga budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia, sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwarisi secara genetis.

Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Mengapa orang asli Papua atau OAP perlu mengenal budaya sendiri? Karena generasi sekaranglah yang akan melanjutkan nilai-nilai budaya sebagai identitas suatu bangsa untuk membedakan diri dengan bangsa lain. Sebagai penguat, ada tujuh alasan lain mengapa budaya diperkenalkan (Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia “KBBI” Edisi ke-3. Jakarta: Balai Pustaka, 2000, hlm. 169).

perempuan Papua
Ilustrasi, Perempuan asli Papua. – Jubi/pmb.brin_.go_.id

Wujud budaya perlu diperkenalkan pada generasi muda Papua sejak dini

Budaya yang dimiliki oleh setiap bangsa merupakan perilaku yang telah dibentuk sejak lama. Baik yang nantinya berupa kebendaan, maupun non kebendaan. Tujuh wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat, yaitu, agama dan ilmu pengetahuan, organisasi, kesenian, bahasa, teknologi dan mata pencaharian.

Generasi muda Papua perlu mengenal budayanya

Setelah melihat semua wujud budaya yang penting dalam kehidupan sehari-hari, maka tidak ada alasan untuk tidak mengenal budaya atau tradisi yang masih terjaga. Bahkan di lain pihak, lingkungan dan alam pun ikut dilestarikan.

Hemat penulis ada beberapa alasan sehingga orang asli Papua mesti memahami budaya sendiri:

Mempertahankan makna

Generasi muda Papua perlu dikenalkan makna dari budaya bangsanya secara bertahap. Makna tidak dapat dipahami secara langsung, karena pemikiran generasi berbeda dengan orang dewasa.

Perlu mengulang-ulang bahasa budaya akan membantu ingatan dan pemahaman makna secara mendalam bagi generasi muda setelah mereka dewasa.

Makna budaya perlu dipertahankan untuk mempertahankan fungsi dan tujuan awal budaya itu dibangun. Makna bisa saja bergeser, bahkan hilang meskipun wujudnya masih ada. Ini karena fungsi dan tujuan awal tidak diajarkan sesuai bahasa. Sehingga ketika zaman berganti hilang karena tidak difungsikan dengan baik.

Menghargai karya anak bangsa

Alasan generasi muda Papua perlu mengenal budaya sendiri sama seperti memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri. Dengan mengenal budayanya, generasi muda pada akhirnya mengenal asal-usulnya. Identitas ini akan dibawa kemana-mana karena tentu mereka merasa memiliki karya.

Ketika dewasa anak muda Papua tidak lupa asal-usul dirinya. Tidak malu ketika berhadapan dengan bangsa lain.

Penghargaan terhadap karya budaya sendiri mampu meningkatkan kepercayaan diri. Sehingga tidak gampang terpengaruh oleh budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya sendiri.

Memupuk rasa toleransi sejak dini

Setelah generasi muda Papua mampu menghargai budayanya, maka mereka mampu memberikan banyak toleransi atas budaya sendiri dan budaya lain. Toleransi ini memungkinkan adanya berbagai macam budaya dalam satu bangsa.

Ketika memiliki banyak budaya, generasi muda yang telah mengenal budaya akan mengetahui karakteristik setiap budayanya. Kelebihan dan kekurangan dalam budaya mampu diatasi dan dimaksimalkan. Sehingga tidak mudah dipecah-belah oleh budaya luar.

Mempererat kesatuan dan persatuan

Perbedaan pada setiap budaya yang dimiliki bangsa sebenarnya bukan kelemahan. Ini termasuk kelebihan yang dapat mengisi kekurangan antarbudaya yang satu dengan lainnya. Sehingga mampu mempererat kesatuan dan persatuan bangsa. Hal tersebut jelas perlu dikenalkan sejak dini.

Bagaimana keterkaitan budaya yang satu dengan budaya yang lain? Dengan memahami keterkaitan antarbudaya, maka akan muncul rasa saling membutuhkan, bukan malah saling mengungguli dan meremehkan.

Mempertahankan keunikan budaya

Sama halnya dengan alasan generasi muda Papua perlu mengenal budaya untuk mempertahankan makna, mempertahankan keunikan sangat diperlukan. Keunikan ini menjadi pembeda dengan bangsa lain.

Sejalan dengan makna, keunikan seperti atribut budaya memiliki lambang. Sebisa mungkin harus dipertahankan.

Atribut budaya yang menyimpan makna harus berjalan beriringan. Atribut tidak sekadar visualisasi keunikan, makna tidak sekadar esensi tanpa wadah. Keduanya saling berkaitan. Maka anak muda Papua perlu dikenalkan secara menyeluruh tidak setengah-setengah.

Bagian penting dari sejarah bangsa

Presiden pertama Ir. Soekarno pernah berkata “Jas Merah”. Atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ini artinya termasuk budaya bangsa.

Kegiatan yang terus-menerus dilakukan hingga menjadi budaya jelas menorehkan rekam jejak generasi. Rekam jejak tersebut bagian dari perkembangan zaman, yang membuktikan bahwa keberadaan sekarang tidak mungkin terjadi jika tidak didahului jejak budaya sebelumnya. Seperti hukum sebab-akibat, anak muda Papua perlu diperkenalkan dengan budaya agar mengetahui pelajaran dan hikmahnya. Hikmah ini bisa dijadikan teladan dalam kehidupannya.

Kekayaan yang berharga

Perkembangan zaman dapat menyebabkan kebutuhan ekonomi berubah. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi budaya bangsa. Padahal sebenarnya budaya bangsa, termasuk kekayaan dan warisan nenek moyang OAP yang sangat berharga. Produk budaya tidak dapat dibeli, melainkan dihasilkan terus-menerus oleh anak bangsa itu sendiri.

Jika digali terus, keunikan budaya dapat menjadi kekayaan yang dapat ditingkatkan menjadi pemenuh kebutuhan masyarakat dalam bidang ekonomi. Contohnya, ketika ada pameran karya budaya, budaya yang dimiliki dapat disematkan brand tertentu sebagai identitas budaya.

Brand yang ada pada budaya sendiri mampu menarik bangsa lain untuk mengenal budaya kita, tetapi tidak berarti memiliki. Karena dengan brand, pemilik budaya asli memiliki hak kekayaan intelektual yang tidak bisa dijiplak. Inilah pentingnya bagi generasi muda Papua tahu kekayaan budayanya.

Apakah tujuh alasan generasi muda Papua mengenal budaya sendiri dimaksimalkan, dapat memupuk rasa bangga dan cinta generasi muda Papua terhadap budayanya sendiri? Seterusnya dalam jangka panjang akan menjadi tradisi yang tidak berhenti waktu ke waktu sampai selama-lamanya. (yd.blog.um.ac.id, 25 April 2022)

Sejak Tuhan menciptakan langit dan bumi serta isinya, lalu Tuhan sendiri menciptakan  orang asli Papua. Kemudian OAP ditempatkan untuk hidup, beranak cucu, berkarya dan berkembang di Bumi Cenderawasih Papua. Demikian juga Tuhan menciptakan kekayaan alam, manusia lalu memberikan tempat yang sama dengan orang lain di dunia ini dengan gaya, bahasa, budaya yang sangat berbeda.

Papua terdiri dari 250-an suku, budaya, bahasa, kesenian dan lainnya. Sejak Tuhan menciptakan orang asli Papua, sejak itu juga nenek moyang mereka hidup damai, tentram, nyaman, dan berbudaya.

Penopang ekonomi, kesenian, politik, pemimpin lokal dan bahasa dijaga secara baik.

orang asli Papua
Orang asli Papua. – Jubi/Dok

Penulis sendiri berasal dari suku Lani. Lahir dan besar di kampung dan budaya Lani di Kampung Onggeme, Tiom Wamena (Lanny Jaya).

Sebagai orang Lani, saya mengenal bangsa, budaya, bahasa dan kesenian daerah saya, serta bagaimana membuat honai—bagaimana membuat honai laki-laki, honai perempuan/wanita, kandang/dapur, pagar, kebun, pana, busur, juga saya mengenal pakaian laki-laki koteka, “kobewak” dan pakaian perempuan cawat “tali”, membuat noken tas “yum” untuk isi ubi, sayur, dan lain-lain.

Tentang mengenal nilai-nilai budaya semuanya sudah diajar oleh orang tua sejak dulu di honai laki-laki. Dan bagi wanita diajar tentang budayanya di honai perempuan, sehingga sangat mengenal tentang pribadi, asal, suku, bahasa, budaya, ekonomi, dan kesenian.

Saat ini nilai budaya yang diwariskan oleh nenek moyang orang asli Papua terdiri dari 250-an suku, bahasa, budaya, kesenian, kearifan lokal dan lain-lain ini semakin berubah artinya. Seiring perkembangan teknologi orang asli Papua semakin ikut arus, tidak punya prinsip yang baik untuk mempertahankan budaya sebagai identitasnya sebagai OAP.

Kita bisa lihat saja bahasa daerahnya sudah tidak digunakan lagi, lagu bahasa daerahnya tidak dinyanyikan lagi. Keseniannya dulu lain tetapi sekarang sudah sangat berbeda lagi, pakaian perempuan yang layak dipakai oleh perempuan saja, tetapi saat ini laki-laki yang pakai pakaian perempuan, pakaian milik laki-laki koteka dulunya untuk perempuan dilarang pakai atau tidak tau pakai koteka, tetapi sekarang perempuan sudah menggunakan pakaian laki-laki. Artinya, perempuan pakai koteka, dulunya tidur di honai sekarang sudah tidak bisa tidur lagi di honai.

Ini sudah kehilangan akal sehat, kehilangan budayanya, tradisinya dan kehilangan asal-usul serta bangsanya sendiri, wilayahnya sendiri, kotanya sendiri dan daerahnya sendiri.

Kini saatnya kita menyelamatkan budaya orang asli Papua. Oleh karena itu, perlu langkah bijak yang diambil oleh semua pemangku kepentingan (sekolah atau kampus, gereja, LSM atau komunitas-komunitas dan tentu pemerintah), untuk mengajarkan bagaimana pentingnya merawat budaya orang asli Papua.

Pemerintah daerah jangan diam, tetapi harus menelurkan regulasi untuk menyelamatkan budaya orang asli Papua. Jika regulasi sudah diterbitkan sebaiknya disosialisasikan kepada masyarakat.

Pater Frans sering menyampaikan, orang asli Papua wajib mencintai dan melestarikan budayanya. Karena kebudayaan orang asli Papua yang unik dan sakral akan menjadi kebanggaan tersendiri terhadap dunia luar dan pewarta Injil Yesus Kristus akan tumbuh dan berkembang terhadap orang Papua. Karena kebudayaan, moral, integritas dan kewibawaan akan terpancar menjadi cahaya hidup dan menjadi berkat untuk orang lain. (*)

*Penulis adalah Ketua Umum DPD-PPDI Provinsi Papua Pegunungan, Ketua Umum DPD-PPKL dan AB Provinsi Papua Pegunungan, anggota Departemen Litban PGBWP, dan Pendiri Forum Pemuda Kristen Di Tanah Papua (FPK-TP)

Tags: Budayaorang asli papuaPapua
ShareTweetSendShareShare
Dewi Wulandari

Dewi Wulandari

Related Posts

Sarmi
Opini

IPM Sarmi mandek dan logika pembangunan yang terbalik

April 11, 2026
dana abadi
Opini

Membangun dana abadi Papua untuk beasiswa dengan skema pembiayaan dipercepat

April 8, 2026
Dana
Opini

Triliunan Hilang, Masa Depan Terabaikan: Kisah Dana Abadi Papua yang Tak Pernah Ada

March 25, 2026
Leluhur
Opini

Ketika Leluhur Mengajari Kita Cara Merawat Bumi

March 11, 2026
freeport Papua
Opini

Dana Abadi Papua: Mengubah kekayaan alam menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang

March 11, 2026
Damai
Opini

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

March 10, 2026

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara