Jayapura, Jubi – Nelman Kopouw tampak duduk bersandar di sebelah pintu Toko Saga Dok V Bawah. Di depannya, tersusun beberapa lembar keset kaki berwarna-warni. Sesekali tangannya meraba letak barang dagangannya itu, memastikan semuanya sudah tertata rapi.
Sore itu, Minggu (18/1/2026), Nelman baru saja memulai rutinitasnya. Pria berusia 48 tahun penyandang disabilitas netra itu memang sering terlihat menghabiskan waktu siangnya, hingga malam menjemput di depan Toko Saga Dok V Bawah, Jayapura Utara.
Di emperan toko itulah ia menata harapan-harapannya, menyambung hidup dengan berjualan keset dan sapu lidi. Setiap hari, dengan sabar ia menunggu pembeli yang keluar masuk toko.
Nelman bukan satu-satunya. Di beberapa tempat, mulai dari pusat kota, hingga jauh ke kawasan Abepura, rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas netra juga setiap hari berjuang dengan rutinitas yang sama.
Mereka adalah para pejuang yang mencari nafkah di emperan-emperan toko, orang-orang yang memilih untuk tidak menyerah pada keterbatasan yang mereka sandang sejak kecil.

Berjualan demi menyambung hidup
Menjelang malam, keset yang dijual Nelman belum satu pun yang laku. Wajah Nelman sama sekali tak menunjukkan kegelisahan. Ia terlihat tetap bersabar meski belum mendapatkan pembeli.
Kepada Jubi, ia bercerita kondisi itu sudah sering ia rasakan. Katanya, tidak setiap hari ada orang yang membeli barang dagangannya, tapi tak setiap hari pula keset yang ia jual tidak laku.
“Tidak menentu juga, namanya kita jualan pasti ada yang beli ada yang tidak. Itu sudah biasa kita rasakan,” kata Nelman.
Berjualan sudah menjadi pilihan bagi Nelman. Mau tak mau, hanya itu yang bisa ia lakukan demi menyambung hidup dan menafkahi keluarganya. Meski hidup dengan keterbatasan, ia tak pernah berpangku tangan dan pantang dengan belas kasihan orang.
Prinsip itu sudah tertanam dalam hidupnya. Sejak masih duduk di bangku sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa) Biak khusus penyandang disabiltas netra, ia sudah diajarkan untuk hidup mandiri.
“Dulu waktu di sekolah itu guru-guru tekankan, kita harus belajar keterampilan dan lakukan apa saja yang berguna untuk masa depan,” kenangnya.
Nasihat dari para gurunya itu masih terngiang jelas di telinganya: Di mana kalian tinggal, di situ kalian harus hidup, harus tetap mandiri, tidak boleh tergantung kepada orang.

Pesan itulah yang dipegang teguh oleh Nelman yang mulai kehilangan penglihatannya pada usia tiga tahun akibat sakit yang terlambat diobati. Sejak tahun 2000, ia memutuskan untuk mandiri sepenuhnya di Kota Jayapura. Baginya, setiap hari adalah kerja keras. Dalam kamus hidupnya tidak ada istilah tanggal merah atau hari libur.
“Kalau libur, kasihan di rumah mau bagaimana? Kalau orang-orang di kantor kan ada libur, kalau kita ini tidak pernah kena libur,” katanya tersenyum.
Keset dan sapu lidi yang ia jual itu ia beli dari pasar. Keset ia beli dengan harga Rp18 ribu hingga Rp20 ribu dan ia jual Rp40 ribu. Lalu sapu lidi ia beli Rp10 ribu dan dijual seharga Rp20 ribu.
“Keset dan sapu lidi ini kita ambil dari orang, beli langsung di pasar. Untungnya sedikit saja yang kita ambil,” ujarnya.
Hasil dari berjualan keset dan sapu lidi itulah yang ia sisihkan untuk bertahan hidup dan diputar kembali untuk modal, termasuk membayar jasa ojek langganannya.
Setiap hari, Nelman dan rekan-rekannya diantar jemput oleh ojek langganan. Tarifnya disesuaikan dengan jarak. Untuk Nelman yang berjualan di kawasan Dok V harus membayar Rp40 ribu pulang pergi.
“Untuk modal memang lebih besar diongkos ojek. Tapi kita diantar jemput sesuai jam. Saya biasanya keluar itu jam 11 siang paling cepat dan pulang jam 10 malam. Tapi tergantung juga,” katanya.
Kalau rezeki sedang bagus, Nelman bisa meraup penghasilan yang lumayan. Namun tantangan seringkali harus dihadapi ketika cuaca buruk atau musim hujan.

“Ini cuaca lagi tidak bagus, sering hujan. Kalau lagi beruntung bisa bawa pulang Rp200 ribu atau Rp300 ribu. Tapi kalau paling kurang, bisa pulang hanya dengan Rp50 ribu saja,” ujarnya.
Terbiasa dengan kesabaran
Cara berjualan penyandang disabilitas netra di emperan toko sangat pasif. Mereka tidak berjalan berkeliling dan menawarkan barang. Mereka hanya duduk, menunggu calon pembeli datang menghampiri.
Di depan toko Gelael Jayapura, Anike duduk setiap hari. Dia tidak bisa melihat, tapi telinganya sudah hafal suara motor dan langkah kaki orang-orang yang lewat di trotoar itu. Di depannya, ia memegang tumpukan keset yang tersusun rapi, berharap ada yang mampir untuk membeli.
Anike bercerita kalau hidupnya sekarang memang habis di pinggir jalan itu. Dia tidak mau tinggal diam di rumah dan merepotkan orang lain.
”Saya biasanya sudah dari siang sudah di sini. Duduk saja, tunggu siapa tahu ada yang mau beli barang yang saya jual. Yang penting sabar, karena saya tidak tahu kapan orang mau singgah. Kadang dari siang sampai malam belum ada satu pun yang laku,” katanya.
Dia mengaku tidak setiap hari dagangannya habis. Ada kalanya dia harus pulang dengan tangan kosong, padahal dia butuh uang untuk makan dan keperluan sehari-hari.
”Tidak tiap hari orang beli. Kadang ramai, kadang sepi sekali. Tapi saya tidak mau menyerah. Kalau saya tidak jualan, saya mau makan apa? Saya akan tetap berjualan. Saya ingin cari uang sendiri, biar sedikit yang penting hasil keringat sendiri,” ujarnya.
Orang-orang yang sering belanja ke Gelael pasti sudah tidak asing lagi dengan sosoknya. Kehadiran Anike di sana mengundang simpati dari warga yang melihat perjuangannya setiap hari.

Frastia, salah satu warga yang sering belanja di Gelael, mengaku sering merasa tidak tega kalau melihat Anike sedang duduk sendirian saat cuaca Jayapura lagi tidak menentu, kadang panas kadang hujan.
”Saya sering lihat Mama itu duduk di sana. Kadang saya terpikir, bagaimana kalau itu orang tua saya sendiri? Beliau tidak bisa melihat, tapi harus tahan panas dan debu di pinggir jalan supaya bisa makan. Biasanya kalau saya ada uang lebih, saya pasti beli dagangannya supaya Mama bisa dapat uang untuk bawa pulang ke rumah. Beliau itu kuat sekali, saya yang sehat saja kadang masih suka mengeluh,” kata Frastia.
Sama halnya dengan David, seorang karyawan swasta yang setiap sore lewat di kawasan depan Gelael. Menurutnya, apa yang dilakukan Anike adalah bentuk perjuangan hidup yang luar biasa.
”Sering saya lihat beliau duduk tenang sekali menunggu pembeli, padahal orang-orang di sekitarnya sibuk sana-sini. Saya sering singgah sebentar buat beli sesuatu, sekalian tanya kabar. Saya ingin kasih semangat, supaya beliau tahu kalau usahanya itu dihargai sama orang-orang yang biasa lewat di sini,” katanya.
Tidak jauh berbeda dengan Anike, Herman biasanya mangkal di emperan toko di daerah pusat kota. Bermodalkan tongkat dan barang dagangan berupa keset yang tidak seberapa jumlahnya, dia berangkat setiap sore dengan harapan ada orang yang mau berbagi rezeki lewat barang yang dia jual.
”Saya jualan supaya bisa mandiri. Malu kalau harus kasih turun tangan minta uang sama orang yang lewat,” katanya.
Baginya, tantangan terbesarnya bukan cuma soal dagangan yang sepi, tapi juga rasa lelah dan cuaca yang tidak menentu. Tapi dia selalu kuatkan hati demi bisa bertahan hidup.
”Memang capek juga. Tapi saya pikir lagi, kalau saya berhenti, siapa yang kasih saya makan? Jadi saya harus kuat. Kita harus sabar, kadang ada yang beli, kadang cuma tanya-tanya saja, saya tidak apa-apa,” ujarnya.
Perjuangan para penyandang disabilitas netra yang berjualan keset itu jadi pengingat buat siapa saja yang melintas di jalan. Bahwa untuk menyambung hidup, yang dibutuhkan bukan cuma tenaga, tapi juga kesabaran yang besar dan mental yang tidak gampang menyerah pada keadaan.

Di bawah naungan Yayasan Humania
Nelman, Anike, dan sejumlah penyandang disabilitas netra yang berjualan keset dan sapu lidi di emperan-emperan toko itu rupanya bernaung di rumah yang sama. Mereka tinggal dan menetap di sebuah Yayasan bernama Humania di Polimak II Asri.
Perjalanan Yayasan Humania itu punya cerita menarik. Yayasan yang berdiri pada 1998 itu dikelola dan dikoordinir sendiri oleh para penyandang disabilitas netra yang tinggal di sana. Saat ini, ada 33 penyandang disabilitas netra yang bernaung di Yayasan Humania dengan berbagai usia, mulai 30 tahunan hingga 50 tahun lebih.
Diceritakan oleh koordinator yayasan, Stefanus Imbiri yang juga menyandang disabilitas netra, yayasan itu dinamakan Humania sebagai ucapan terima kasih kepada pengusaha berdarah Tionghoa bernama Human yang memiliki usaha toko di kawasan Hamadi.
Sosok tersebut yang memberikan mereka tempat tinggal dan menjadi Yayasan Humania saat ini, yang dulunya adalah gudang jamu.
“Tahun 1997, ada tiga teman dari Biak datang berjualan di Jayapura. Mereka tinggal di Hamadi, dekat toko milik Pak Human. Pak Human yang sering melihat kegigihan mereka merasa tersentuh. Setiap pagi, ia mengantar roti dan teh. Karena jumlah tunanetra yang datang dari Biak ke Jayapura semakin banyak, Pak Human akhirnya menyerahkan salah satu rumahnya di Polimak untuk dijadikan asrama,” kata Stefanus.

Stefanus sendiri dijemput langsung oleh Pak Human dari Biak pada 2001. Kini, di usianya yang sudah 53 tahun, ia memegang tanggung jawab sebagai senior dan koordinator di Yayasan Humania.
Di Yayasan itu semua dilakukan secara mandiri. Kemandirian Nelman dan rekan-rekannya bukan tumbuh begitu saja. Sebagian besar dari mereka adalah lulusan sekolah khusus di Biak. Di sana, mereka tidak hanya diajarkan membaca braille, tetapi ditempa untuk menjadi manusia yang tidak menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain.
“Mereka masak sendiri, atur semua sendiri. Yayasan ini tidak seperti yang lain yang perlu pembinaan lagi. Ini tempat menampung orang yang sudah mandiri untuk cari hidup,” sebut Stefanus.
Dulu, para penghuni Yayasan itu memproduksi sendiri keset dan sapu lidi untuk dijual. Namun, seiring berjalannya waktu, bahan baku semakin sulit didapat. Kini, mereka beralih menjadi pengecer. Setiap beberapa hari sekali, mereka pergi ke pasar untuk membeli barang yang akan dijual.
”Jadi yang dijual itu keset kaki, sapu lidi, sama kemoceng. Tapi kalau keset kaki dengan sapu lidi ini, kita sudah tidak produksi sendiri lagi karena bahan baku susah. Jadi sekarang itu kita semua hanya beli-beli saja, beli baru jual,” ujar Stefanus.
Selain berjualan, beberapa penyandang disabilitas netra di Yayasan Humania juga mengasah keterampilan mereka, seperti bermain musik.
Beberapa penghuni Yayasan mahir memainkan instrumen dan membentuk grup band. Mereka sering berlatih pada waktu senggang atau saat ada panggilan untuk mengisi pujian di gereja pada hari Minggu. (*)











Discussion about this post