Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Indepth Story

Jejak sumur bor, eksplorasi minyak di Papua

Ratusan nelayan di pesisir Jayapura memprotes pemotongan puluhan rumpon oleh tim survei seismik Kementerian ESDM. Sebelumnya terjadi di Teluk Arguni, saat nelayan dilarang melaut akibat aktivitas survei seismik. Penolakan ini menandai eskalasi ketegangan di tengah ekspansi energi Indonesia ke Papua dari emas, sawit, gula, nikel ke minyak dan gas. Bagaimana jejak tambang di Papua?

March 19, 2026
Waktu Membaca: 5 mins read
0
Penulis: Dominggus A. Mampioper - Editor: Angela Flassy
Papua

Ladang minyak Kasim Selle di Sorong, era 1970 an- Jubi/tripatra.com

Jayapura, Jubi – Jejak tambang emas di Papua Nugini berawal dari praktik sederhana masyarakat lokal yang mengolah tanah liat menjadi tembikar. Namun sejak 1825, ketika kolonial Inggris mulai masuk dan melakukan eksplorasi emas di Teluk Erdscar, arah pemanfaatan sumber daya alam di wilayah ini berubah drastis, dari kerajinan tradisional menuju industri ekstraktif.

Padahal jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, penduduk asli Nugini telah lama memanfaatkan kekayaan alamnya dengan menambang dan memperdagangkan alat batu serta oker selama ribuan tahun, sekaligus mengolah tanah liat menjadi berbagai peralatan sehari-hari. Demikian dilansir test.jubi.id dari laman mininghistory.asn.au, Rabu (18/3/2026).

RELATED POSTS

Ada perubahan cara pandang terhadap perempuan di Tanah Papua

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

KNPB nyatakan sikap terhadap situasi Tanah Papua

“Emas pertama kali ditemukan pada 1852 sebagai jejak tak sengaja pada tembikar dari Teluk Redscar, Semenanjung Papua,” tulis geolog George A Mealey.

Demam emas pertama di Papua Nugini, ditulis pula oleh geolog George A Mealey dalam buku berjudul Grasberg. Dalam laporannya itu tercatat pada 1878 di dekat Port Moresby eksplorasi emas dilakukan oleh Inggris dan Australia.

Sedangkan di Papua Barat, baru dieksplorasi pada era 1967 hingga eksport perdana pada Maret 1973. “Freeport adalah yang pertama melakukan penambangan dan sampai saat ini satu satunya,” tulis Mealey.

Berbeda dengan emas, ternyata para pencari sumber minyak dari Inggris, Belanda dan Amerika Serikat sudah menapaki jejak jejak mereka untuk mengebor tanah-tanah di Papua Nugini maupun di Papua Barat di zaman pemerintahan Nederlands Nieuw Guinea. Mereka datang untuk mencari ladang-ladang minyak baru di dataran tanah Papua sedari dulu, ketika itulah penjajahan dimulai.

Di Papua Nugini, eksplorasi minyak di Papua Nugini dimulai sejak 1919. Saat itu penemuan besar  pertama adalah Ladang Kutubu pada 1986, diikuti oleh Ladang Gas Hides pada 1987. Sejak 2008, industri LNG berkembang pesat, terutama lewat proyek PNG LNG. Pada 2017, Papua Nugini tercatat sebagai eksportir gas alam cair ke-17 terbesar di dunia.

Di Papua Nugini, kurang dari 275 sumur eksplorasi asli telah dibor selama abad terakhir. Sumur bor Wohumul dibor di daerah Sungai Oriomo di Provinsi Barat, dekat Daru, pada 1925, meskipun ini merupakan uji coba dangkal.

Michael McWalter mantan direktur Divisi Perminyakan dan penasihat pemerintah Papua Nugini yang dikutip test.jubi.id dari laman internet,www.pngbusinessnews.com mengatakan eksplorasi minyak di Papua Nugini bukanlah hal baru. Kegiatan ini telah berlangsung selama beberapa dekade, menghasilkan hasil yang menggiurkan dan telah menarik minat banyak penjelajah minyak bumi.

Lebih lanjut Mc Walter menambahkan bahwa sumur bor dalam pertama di Papua Nugini dibor di Kariava-1 di Provinsi Gulf. Perlu dicatat, pengeboran sumur ini dimulai pada 8 Maret 1941, dihentikan pada 1942 karena Perang Dunia II, dan pengeboran dilanjutkan pada 1946 sebelum sumur tersebut ditinggalkan pada 1948.

“Keberhasilan signifikan akhirnya diraih pada 1986 dengan sumur Iagifu 2-X, ketika Niugini Gulf Oil “, yang kemudian tergabung ke dalam Chevron Corp, sebagai Chevron Niugini. Mereka menemukan akumulasi minyak mentah  yang besar di dekat Danau Kutubu. Penemuan ini mengarah pada Proyek Pengembangan Minyak Bumi Kutubu pada 1990,”kata Mc Walter seraya menambahkan bahwa setelah ditemukannya cadangan minyak mentah yang dapat diekstraksi di Kutubu pada 1986, banyak perusahaan minyak dan gas memperoleh izin eksplorasi di Papua Nugini.

“Namun, hanya sedikit yang akhirnya berhasil melakukan penemuan. Di antara perusahaan-perusahaan yang melakukan eksplorasi di Papua Nugini tetapi pergi tanpa penemuan besar adalah Conoco, Shell, Phillips, Pennzoil, Statoil, Mobil, Amoco, Marathon, Petrofina, Santos, Woodside dan Union Texas Petroleum, bersama dengan banyak perusahaan kecil lainnya,” kata Mc Walter.

Papua LNG
Para pekerja sedang bor minyak di Klamono, Nederlands Nieuw Guinea 1935- Jubi/Koninklijk Instituut voor Taal, Land- en Volkenkunde (KITLV)

NNGPM dan perusahaan minyak Amerika Serikat

“Sebagian besar orang mengira bahwa Nederlandsche Nieuw Guinea Petrolium Maatschappij,yang kemudian dikenal orang-orang di tanah Papua, NNGPM adalah perusahaan yang dijalankan Belanda, tetapi tidak sepenuhnya demikian,”tulis Greg Poulgrain dalam buku terjemahan Indonesia berjudul “Bayang bayang Intervensi, Perang Siasat Jhon F Kennedy dan Allen Dulles atas Sukarno.

Lebih lanjut Pulgrain menjelaskan, Belanda hanya menguasai 40% saham, sedang sisanya dimiliki oleh dua perusahaan asal Amerika Serikat (AS) yaitu Standar Vacum Oil dan Stadar Oil of California yang memegang kendali dengan saham sebesar 60% .

Ternyata kedua perusahaan ini sangat erat kaitannya dengan keluarga legendaris Rockefeler. Tercatat anak kelima dari Gubernur negara Bagian New York dan Nelson Rockefeller, dan merupakan generasi keempat anggota Keluarga Rockefeller. Anak kelimanya bernama Michael Rockefeller menghilang selama ekspedisi di wilayah Asmat, Papua pada 1961.

Poulgrain juga menulis salah satu keluarga Rockefeler juga pernah mendarat di lokasi tambang Freeport pada 1982 untuk memeriksa urat emas terbesar di dunia dengan menumpang helikopter Freeport Mc Moran.

Shell survey minyak di Nederlands Nieuw Guinea

Perusahaan minyak asal Belanda, Shell mulai melakukan survey di wilayah Nederlands Nieuw Guinea pada 1928. Waktu itu, pemerintah kolonial Belanda mengimbau kepada Shell bersama Stanvac dan Caltex untuk berpatungan mengekplorasi Nieuw Guinea dan membentuk perusahaan patungan NV Nederlansche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM).

Setelah mencapai kesepakatan pada 1935, usaha patungan ini selanjutnya dikelola oleh Shell, karena mereka telah melakukan survei sejak 1928. Pemerintah kolonial waktu itu memberikan hak konsesi khusus selama 25 tahun. Hasilnya pada 1938 berhasil ditemukan lapangan minyak Klamono dan disusul dengan lapangan Wasian, Mogoi, dan Sele yang masih beroperasi hingga saat ini.

Kendala transportasi dan cuaca yang berubah-ubah serta tenaga kerja dari luar Nederlands Nieuw Guinea sehingga Perusahaan sulit berkembang waktu itu. Memang ada ladang yang kecil-kecil, dan belum menemukan ladang yang besar sebelum 1942, kegiatan pun terhenti saat pecah Perang Dunia Kedua. Setelah Perang Dunia usai aktivitas eksplorasi minyak di Sorong pun mulai berjalan terutama di Klamono.

Kaimana, awal penolakan investasi minyak

NNGPM juga melebarkan sayap eksplorasi dari Sorong ke Teluk Etna, Kaimana di era 1950an pasca Perang Dunia Kedua. Kehadiran perusahaan minyak jelas mendapat penolakan dari warga karena eksplorasi sering merugikan warga, karena dilakukan tanpa negosiasi atau berdialog dengan masyarakat adat kala itu.

Namun cerita kekecewaan dan kemarahan terhadap pertambangan minyak di Papua juga muncul sejak awal ekstraksi sumber daya alam di wilayah itu. Salah satunya terjadi di Teluk Etna, Kaimana, pada 1954.

Arnold Mampioper, yang saat itu menjabat Kepala Distrik Kaimana, mengaku tak diundang oleh NNGPM saat perusahaan itu menggelar seremoni pengeboran sumur di Kampung Weribi.

“Tidak ada juga pimpinan adat yang memegang hak ulayat yang diundang,” ujar Arnold kepada Leontine Visser antropolog dari Universitas Leiden Belanda.

Kasus kasus penyerobotan lahan atas nama pembangunan atau pun investasi terus terjadi ketika Irian Barat  (Papua Barat) menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mulai terjadi sejak 1 Mei 1963 sampai dengan pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.

Sejak penemuan ladang minyak Kasim, 1972, sekitar delapan puluh lima sumur telah dibor oleh Petromer Trend di Cekungan Salawati. Petromer Trend Corp, suatu kontraktor Amerika, mulai mengeksplorasikan sumber minyak di lapangan Kasim, waktu itu mencapai 70.000 barrel/hari. Selanjutnya perusahaan Phillips Petroleum Company Indonesia menjadi tuan rumah di pulau Salawati.

Kemudian 1985, Conoco melakukan pengeboran dalam tahap eksplorasi untuk mencari cadangan minyak. Pengeboran sedalam 14.800 kaki atau 4,5kilometer dilakukan di sumur Noordwest-1. Namun persoalan lubang (hole problems) menghambat log evaluation (metode untuk menganalisa penyebaran cadangan hidrokarbon.

Blok Warim Agimuka Mimika

Memasuki era 2000 mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan bahwa pemerintah Indonesia menemukan potensi ‘harta karun’ berupa minyak bumi dengan jumlah potensi cadangan mencapai 27 miliar barel yang berlokasi di Wilayah Warim, Timika, Papua Tengah.

Meskipun wilayah Agimuga terdapat ladang minyak bumi dengan potensi terbesar di Indonesia diyakini pemerintah berada di Papua. Blok Warim, nama lapangan minyak itu, telah dilelang pemerintah selama setahun terakhir.

Tak heran kalau warga merasa was-was dengan rencana investasi minyak di Blok Warim, bbc.com melaporkan bahwa warga asli Papua di Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika, telah berulang kali menyatakan penolakan terhadap pengembangan Blok Warim. Peristiwa 1977 yang pernah terjadi di Bumi Amungsa menyimpan banyak peristiwa menyedihkan.

Mama Theresia Pinimet, istri dari mendiang anggota polisi Cosmos Kemong menuturkan saat peristiwa 1977, rumah mereka dibakar, mereka lari menyelamatkan diri dan berjalan kaki ke gunung tinggal di sana sampai keadaan aman.

Bukan hanya itu saja, seorang warga di SP II di Timika, mendiang Demianus Katagame mengingat banyak warga Agimuga mengungsi dan berjalan tiga bulan ke perbatasan negara tetangga Papua Nugini di Ok Tedi selama setahun.

Tak heran kalau peristiwa 1977 disebut,Komisi Hak Asasi Manusia Asia sebagai “genosida yang terabaikan” di Bumi Amungsa kala itu. (*)

Tags: Kilang Minyaksejarah penambangan minyaksurvei seismikTanah Papua
ShareTweetSendShareShare
Angela Flassy

Angela Flassy

Related Posts

odong-odong
Indepth Story

Pemuda Papua yang mencari nafkah dari odong-odong

April 23, 2026
Pasukan Non-organik
Indepth Story

Kekerasan tentara non-organik terhadap Orang Asli Papua terus berulang

April 21, 2026
Daniel Hanasbey
Indepth Story

Kisah Daniel Hanasbey, pesepakbola Papua pertama di Eropa

April 21, 2026
Poster film dokumenter Pesta Babi - Dok. Jubi
Indepth Story

Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

April 19, 2026
Pasar Lama Sentani
Indepth Story

Pasar Lama Sentani, tetap hidup dan menghidupi

April 18, 2026
Persipura Experience
Indepth Story

Persipura Experience obati kerinduan pencinta Persipura

April 11, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Covid-19, RSUD Abepura

RSUD Abepura diminta percepat pembayaran insentif Covid-19

December 20, 2023
Bendungan Sadawarna

Jokowi resmikan Bendungan Sadawarna di Subang

December 27, 2022
Pelabuhan Jayapura, Pas Masuk Pelabuhan

Pelabuhan Jayapura uji coba pembayaran pas masuk pelabuhan dengan e-money 

December 10, 2024

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara