Sentani, Jubi – Danau Sentani, permata air tawar seluas hampir 9.360 hektare di kaki Pegunungan Cycloop yang membentang di Kota dan Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, telah menjadi nadi kehidupan bagi masyarakat adat Sentani selama ratusan tahun. Kini, ketenangan danau terluas kedua di Provinsi Papua itu terancam oleh kiriman lumpur sisa penambangan emas yang dilakukan masyarakat adat di hulu sejumlah sungai yang bermuara di Danau Sentani.
Setiap hari, Danau Sentani menghidupi masyarakat adat Sentani yang turun temurun bermukim di sana. Mereka yang mencari rejeki dengan menangkap ikan, antara lain dengan menyelam (molo) untuk berburu ikan, mulai mengeluh karena air Danau Sentani semakin keruh. Mereka yang menangkap ikan dengan jaring atau bubu jebakan ikan (dalam bahasa lokal disebut bhukere) juga mengeluh karena ikan tangkapannya berkurang banyak.
Ada 70 keluarga yang tinggal di pinggiran Sungai Thombulu (sungai itu sekarang dikenal dengan sebutan Jembatan Dua) yang bermuara di Danau Sentani. Mereka menggantungkan sebagian penghidupannya dengan menangkap ikan Danau Sentani.
Hans Ohee adalah satunya, dan ia mengeluhkan pendangkalan muara Sungai Thombulu yang dekat dengan rumahnya. “Sedimentasi atau sisa material dari aktivitas pendulangan itu dari atas hulu bermuara ke Danau Sentani, dekat dengan rumah saya,” ujar Hans Ohee saat ditemui di dekat rumahnya, Waena, Kota Jayapura, Senin (13/10/2025).
Masyarakat adat setempat sudah mengetahui potensi emas di kawasan Bumi Perkemahan (Buper) Waena sejak lama. Aktivitas menambang emas di sana sudah dimulai sejak 1999, dan masih ada hingga kini. Penambangan emas itu dikelola secara mandiri oleh pemilik hak ulayat atau tuan tanah lokasi tambang, namun sayangnya pihak yang paling terdampak juga masyarakat adat Sentani.
Penambangan emas itu menimbulkan banyak lumpur sisa tambang yang lantas dibuang ke sungai, termasuk Sungai Thombulu. Air di hulu Sungai Thombulu penuh sedimen lumpur dan tanah berwarna merah, bercampur pasir dan batu, yang lantas terbawa aliran air sungai hingga bermuara ke Danau Sentani. Muara Sungai Thombulu di Waena, wilayah perbatasan Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, kini berwarna cokelat pekat.

Hans Ohee mengisahkan kehidupan masyarakat adat di muara Sungai Thombulu saat aktivitas penambangan emas belum marak. Menurutnya, saat itu air di muara Sungai Thombulu jernih, dan ramai oleh ikan.
Warga di sana kerap menangkap ikan dengan bhukere, sejenis bubu penangkap ikan berbahan pelepah sagu yang biasa ditanam antara satu hingga tiga bulan, sehingga ikan tangkapannya akan bertelur di dalamnya. Cara lainnya, molo atau menyelam untuk berburu ikan. Warga juga menangkap ikan dengan jaring. Dengan berbagai cara tradisional itu, hasil tangkapan masyarakat adat Sentani dulu melimpah, hingga bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.
Hans bercerita ikan juga mudah didapati di tepian danau, misalnya di Kampung Telagamaya, Kampung Telagaria. Perairan muara Sungai Thombulu, Kampung Telagamaya, dan Kampung Telagaria adalah rumah bagi ikan endemik Danau Sentani seperti ikan gabus (Glossogobius sentaniensis), ikan pelangi sentani (Chilatherina sentaniensis), dan ikan pelangi merah (Glossolepis incisus).
“Rumah kami berbentuk panggung di atas danau. Kalau mencari ikan, [kami] cukup [menangkapnya] di bawah atau dekat bagian depan rumah saja. Sekarang, kalau buat sarang ikan [atau bhukere], [dalam waktu] seminggu [malah] dipenuhi lumpur. Mau molo-molo, jarak pandang di dalam air danau sangat susah [karena keruh],” ujar Hans.
Ikan makin jarang
Masyarakat adat yang bermukim di Danau Sentani menduga air di muara Sungai Thombulu keruh karena membawa lumpur sisa aktivitas tambang di kawasan Buper Waena. Lokasi tambang emas itu berjarak sekitar 5 kilometer dari maura Sungai Thombulu di Jembatan Dua, Waena.
Setelah memasuki perairan Danau Sentani, air Sungai Thombulu yang keruh kecokelatan itu menyebar ke perairan berbagai kampung, terutama ke perairan kampung terdekat seperti Telagaria, Telagamaya, Waena, hingga Kampung Yoka.
Masyarakat yang melakukan budidaya ikan di perairan itu juga terdampak sedimen lumpur kecokelatan dari muara Sungai Thombulu. “Ada belasan kolam ikan di bagian darat yang dimiliki masyarakat dengan memanfaatkan potensi air sungai yang deras dan jernih waktu itu. Tetapi [sekarang] semuanya sudah ditimbun atau tertutup [sedimen] karena kondisi air [sungai] yang kabur dan berwarna coklat,” ujar Hans Ohee.
Pendapatan warga di sana pun susut. Hans menuturkan dulu para warga selalu memiliki tambahan pendapatan untuk uang saku anak mereka sekolah, juga untuk untuk membayar taksi (sebutan untuk angkutan umum di Kota dan Kabupaten Jayapura) anak mereka, karena setiap pagi selalu ada pembeli yang datang ke rumah untuk membeli ikan. Para pembeli senang membeli ikan tangkapan masyarakat adat Sentani, karena ikan mereka segar.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, lanjut Hans, masyarakat adat Sentani kini harus mencari ikan di perairan yang jauh dari muara Sungai Thombulu, perairan yang tidak terdampak sedimen kecokelatan muara sungai itu. Mereka yang enggan mencari ikan ke tempat yang jauh pun berhenti menangkap ikan.
Tradisi leluhur masyarakat adat Sentani yang turun temurun menangkap sendiri ikan yang mereka butuhkan kini beralih menjadi aktivitas membeli ikan di pasar. Masyarakat adat Sentani yang dulu mendapatkan penghidupan dari aktivitas menangkap berbagai jenis ikan Danau Sentani kini sekadar menjadi konsumen yang membeli ikan di pasar.
“Kami semua berharap ada aturan yang baku untuk mengatur aktivitas pendulang lokal, entah dari pemerintah maupun pihak masyarakat adat itu sendiri. Tidak boleh ada yang dikorbankan [dari aktivitas tambang emas itu], “ kata Hans.

Danau Sentani adalah sumber penghidupan banyak orang. Data Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua pada 2023 menyebutkan bahwa jumlah nelayan tangkap di Danau Sentani mencapai 892 orang. Mereka terbagi di tiga wilayah dengan besaran terdistribusi 45 persen di wilayah barat danau, 42 persen di wilayah tengah danau, dan 13 persen di wilayah timur Danau Sentani.
Hendrik Ohee adalah salah satu nelayan dari Bhubay, kampung yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Jembatan Dua. Ia turut merasakan dampak sedimen lumpur sisa tambang yang dibawa aliran Sungai Thombulu. Edy, sapaan akrab Hendrik Ohee, menjelaskan dulu aktivitas perikanan tangkap di Danau Sentani menjadi sumber pendapatan keluarganya.
Sebagai nelayan tangkap, dulu Edy menjual ikan yang setiap hari ditangkapnya dengan jaring, pancing, molo-molo, ataupun menaruh bhukere dan keramba apung. Dulu, Edy bisa molo atau menyelam di bawah rumah panggungnya.
Dengan menyelam dan memburu ikan dalam radius 50 meter dari rumahnya saja, Edy bisa mendapat sekitar tiga hingga lima ikat tali ikan, dengan ikan seukuran telapak tangan (seikat tali ikan biasanya berisi tujuh hingga delapan ekor ikan tangkapan). Itu berarti ia mendapat sekitar 20 – 40 ekor ikan dari molo.
Jika mencari ikan dengan memakai jaring, Edy mendapat ikan lebih banyak lagi. Dulu, panenan ikan dari bubu bhukere yang dipasang Edy juga melimpah.
“Ikan danau di pasaran memiliki harga tersendiri. Kalau setiap hari [kami mendapat] tiga sampai lima tali, itu sama dengan Rp600 ribu hingga Rp1 juta,” kata Edy.
Tapi kini ia tidak bisa lagi mencari ikan di sekitar rumahnya, karena sedimen lumpur sisa tambang Sungai Thombulu terbawa ke perairan di sekitar rumahnya. “Apalagi dengan cuaca seperti saat ini, sering hujan, air kabur dari muara terbawa sampai di bawah rumah kami,” ujar Edy.
Kini, untuk menyelam atau molo, juga untuk menjaring atau memancing ikan, Edy harus mendayung hingga jauh dari rumah. Bubu atau bhukere yang ditaruh di dekat rumah Edy pun tak banyak menghasilkan ikan, karena justru dipenuhi lumpur. Ikan tangkapan dalam bhukere kini tak lagi bertelur dan berkembang biak. Uang yang didapat Edy dari ikan tangkapannya pun berkurang banyak.
Ia juga jera menyelam atau molo di perairan rumahnya. Jika ia menyelam di sana, badan akan terasa gatal, muncul kaskado dan kurap (penyakit kulit) di seluruh badan.
Bukan lagi sumber air bersih
Hans Ohee mengeluhkan air Danau Sentani yang kini tak lagi bersih. Dahulu, masyarakat adat Sentani menggantungkan pemenuhan kebutuhan air bersih mereka dari air Danau Sentani—termasuk untuk keperluan makan, minum, dan mencuci. Masyarakat adat Danau Sentani biasa memanen air di tengah danau yang jauh dari permukiman, karena lebih jernih dan bersih.
Kini, air Danau Sentani tidak bisa lagi diandalkan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya, masyarakat adat Sentani memilih mengambil air dari mata air di kaki gunung yang tak jauh dari pinggir danau.
“Secara swadaya masyarakat memasang instalasi [pipa atau selang] yang mengalirkan air bersih ke setiap rumah warga. Tidak mungkin lagi kita gunakan air danau untuk kebutuhan setiap hari seperti makan, minum, dan mencuci,” jelasnya.
Hendrik Ohee juga mengeluhkan hal serupa. Untuk makan dan minum, ia tak lagi bisa menggunakan air Danau Sentani. Keluarganya hanya menggunakan air Danau Sentani untuk mencuci pakaian atau piring kotor. Untuk mengolah makanan dan minum, keluarga Edy kini harus membeli air kemasan atau air galon yang dijual depot air.
“Sudah jelas dampak [aktivitas tambang di hulu Sungai Thombulu] sangat besar. Tambah lagi satu item pengeluaran [kami sekeluarga], membeli air yang kayak dikonsumsi,” ujarnya.

Tokoh masyarakat adat di wilayah Sentani Timur turut prihatin dengan kondisi air di Danau Sentani yang keruh karena sedimen lumpur sisa tambang emas di hulu Sungai Thombulu. Ondofolo Kampung Nendali, Yanpiet Wally salah satunya. “[Penambangan] itu dampaknya kurang bagus bagi keberlangsungan dan kehidupan semua makhluk hidup yang tinggal baik di dalam air maupun yang berada di pinggiran Danau Sentani,” ujar Yanpiet Wally di Sentani.
Yanpiet Wally menyatakan ia tidak mengetahui seberapa tercemarnya Danau Sentani jika ditilik dari ukuran ilmu pengetahuan modern. Namun masyarakat adat Sentani telah merasakan dampak aktivitas tambang emas di hulu sejumlah sungai yang bermuara ke Danau Sentani. “Selama ini kami hanya mengikuti tanda-tanda alam yang sudah diajarkan secara turun-temurun oleh orang tua terdahulu,” ujarnya.
Yanpiet menuturkan warga Kampung Nendali dulu kerap pergi mencari ikan di wilayah perairan kampungan tetangga di sebelah timur. Menurutnya, generasi muda lebih suka molo atau menyelam untuk mencari ikan di tempat yang jauh dari kampungnya.
“Biasa anak-anak muda yang pergi molo, itu dari kampung ini sampai di Bhubai, dekat Jembatan Dua. Anak muda ini yang beri kabar kalau air di wilayah tersebut sangat kotor dan kabur,” jelas Yanpiet Wally.
Wally menyatakan masyarakat adat Sentani mengenali bagaimana Danau Sentani secara alami mampu memulihkan ekosistemnya sendiri, antara lain jika mendapat kiriman sedimen tanah atau pasir yang secara alami terbawa ke Danau Sentani. Semua aktivitas masyarakat adat Sentani pun dilakukan dengan mematuhi berbagai aturan adat yang berlaku secara turun temurun.
“Semua aktivitas untuk pemenuhan hidup masyarakat di atas dan di dalam Danau Sentani tidak hanya dilakukan begitu-begitu saja atau kebetulan. Semua yang terjadi itu sudah berjalan turun temurun sejak nenek moyang kami. Bhukere, molo ikan, dan menangkap dengan menggunakan jaring,” katanya.
Kini Yanpiet Wally mengkhawatirkan dampak sosial lain yang akan ditimbulkan oleh berbagai dampak aktivitas tambang di hulu berbagai sungai yang bermuara di Danau Sentani. Ia khawatir aktivitas tambang akan berdampak terhadap habitat pohon sagu, pisang, matoa, rambutan, durian yang ada di kebun masyarakat adat. Juga kemungkinan dampaknya terhadap mata air, satwa, dan manusia yang hidup di Danau Sentani.
Wally mengingatkan, tidak ada manusia yang akan merasakan puas dan cukup. Sekali saja sebuah lokasi ditambang dan menghasilkan emas, maka lokasi tambang itu akan dibongkar sampai ke akar-akarnya. Selalu ada risiko aktivitas tambang, yaitu termasuk risiko kerusakan alam di sekitar lokasi tambang.
“Karena dampaknya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat yang hidup di atas Danau Sentani, maka [dampak di Danau Sentani] harus diperhatikan secara serius [dari pemerintah atau masyarakat adat]. Sementara untuk lokasi tempat tambang adalah urusan pemilik hak ulayat,” kata Wally.
Bisa semakin cepat dangkal
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua, Dave Muchaimin menyatakan sedimentasi atau pendangkalan Danau Sentani semakin cepat terjadi karena aktivitas tambang di berbagai hulu sungai yang bermuara di danau itu. Pendangkalan itu terjadi di sejumlah wilayah tepian Danau Sentani.
Menurut Dave, jika sedimentasi Danau Sentani tidak dikendalikan, sedimentasi itu akan semakin merusak habitat dan ekosistem Danau Sentani, dan berdampak terhadap hewan maupun tumbuhan di danau itu. “Sedimen yang berlebihan akan menghasilkan polutan seperti logam berat, pestisida, dan bakteri. Saat sedimen mengendap, polutan itu dapat terlepas kembali ke dalam air, mencemari sumber air minum dan ekosistem secara keseluruhan,” kata Dave.
Dave menjelaskan upaya pengendalian terhadap material tanah, pasir, dan batu yang terbawa arus dari hulu sungai yang bermuara di Danau Sentani sudah dilakukan dengan memasang cekdam di sejumlah sungai. Namun ia mengakui bahwa kapasitas cekdam menahan kiriman tanah, pasir, dan batu ke Danau Sentani, termasuk kapasitas cekdam di Sungai Thombulu, sudah berkurang karena tanggal berjajar itu telah terisi sedimen. Jika sedimentasi dan pendangkalan baru terus terjadi, Dave khawatir sedimen yang terbawa aliran sungai pada musim hujan akan langsung masuk ke Danau Sentani.
Menurut Dave, BWS Papua tidak berwenang menindak penambang emas di sekitar kawasan hulu sungai yang bermuara di Danau Sentani. “Tugas kami memang hanya di bagian aliran sungai saja. Sementara [untuk lokasi] pusat kerja tambang, ada pihak lain yang menanganinya. Diperlukan kolaborasi ekstra [para pemangku kepentingan] untuk dapat berjalan bersama,” kata Dave.

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kabupaten Jayapura, Yusuf Yambeyapdi menjelaskan bahwa ada banyak masyarakat adat yang menggantungkan penghidupan mereka sebagai nelayan tangkap di Danau Sentani. Danau Sentani juga diandalkan masyarakat adat yang melakukan budidaya ikan, di mana luasan perikanan budidaya di Danau Sentani mencapai 149,76 hektare, setara 1,6 persen dari luasan danau itu.
Menurut Yusuf Yambeyapdi, aktivitas tambang di wilayah timur Danau Sentani dilakukan oleh masyarakat adat pemilik hak ulayat lokasi tambang. Menurutnya, aktivitas tambang itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pendapatan keluarga pemilik hak ulayat.
“Secara formal, pemerintah daerah sudah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk meminimalisir dampak negatif yang terjadi,” ujar Yambeyapdi saat ditemui pada kegiatan Tanam Sejuta Pohon Bersama Senator Papua di kaki Gunung Cycloop, Kampung Sereh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, pada Sabtu (11/10/2025).
Yambeyapdi mempercayai proses alamiah yang terjadi dan dilakukan sendiri oleh alam—baik itu di Pegunungan Cycloop maupun di Danau Sentani—akan menjaga keberlangsungan hidup masyarakat di Kabupaten Jayapura. Yambeyapdi menegaskan bahwa alam ini diciptakan Yang Maha Kuasa dengan menyediakan segala yang kita inginkan untuk menjalankan roda kehidupan yang lebih baik.
Yambeyapdi mengingatkan semua pihak untuk bijaksana mengambil hasil alam, dan memikirkan dampak dari setiap aktivitas mereka. Dia berharap agar semua pihak, khususnya masyarakat adat di wilayah timur Danau Sentani, dapat duduk bersama dan mendiskusikan dampak aktivitas tambang yang dilakukan oleh masyarakat adat dan berdampak terhadap masyarakat adat yang lain.
“Dampak sosial [aktivitas tambang harus dipikirkan]. Ketika nelayan tangkap berpindah profesi dengan bekerja disektor yang lain, akan menjadi beban besar bagi kita semua. Apakah peluang untuk kerja tersedia atau tidak?” ujar Yambeyapdi. (*)











Discussion about this post