Waghete, Jubi – Guna memenuhi kebutuhan Sumber Daya manusia (SDM) bidang kesehatan di Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, maka Bupati Deiyai Ateng Edowai rencananya akan segera menyekolahkan 15 hingga 20 anak asli Deiyai pada jurusan dokter umum dan dokter gigi.
Bupati Ateng Edowai mengatakan hal itu bertujuan mengimplementasikan Permenkes 37 Tahun 2022 tentang bantuan pendidikan kedokteran afirmasi. Ia mengaku, daerah yang dipimpinnya merupakan daerah paling pertama memenuhi Permenkes tersebut di dalam pemerintahan Provinsi Papua Tengah.
“Melalui program ini, saya akan menyekolahkan 15 sampai 20 anak asli Deiyai pada dua jurusan yakni pendidikan dokter umum dan dokter gigi di dua universitas yang kami sudah kerja sama,” katanya, Minggu (9/7/2023).
Menurutnya, hal itu mulai ada titik terang ketika pihaknya menemui Menteri Kesehatan Republik Indonesia di Jakarta belum lama ini, sehingga pihaknya mendapat kunjungan dari Direktur Pendayagunaan Nakes Kementerian Kesehatan di Dirjen Nakes Kemenkes, Anna Kurniati bersama 22 orang lainnya pada Kamis (6/7/2023), sebagai tindak lanjut kebijakan yang dibangun Bupati Deiyai Ateng Edowai bersama Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Deiyai yang bertemu Menteri Kesehatan beberapa waktu lalu di Jakarta untuk melaporkan kondisi kesehatan di daerah Tigi, terutama dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di Deiyai.
“Sehingga, hasilnya Menteri Kesehatan mengirim tim sebanyak 23 orang untuk percepatan pemenuhan sumber daya manusia di beberapa kabupaten dalam Provinsi Papua Tengah,” ujarnya.
Kualitas pelayanan kesehatan di daerah Tigi, lanjut dia, masih menjadi perhatian serius. Pasalnya, RS Pratama Deiyai harus memiliki lima dokter umum, dua dokter gigi, empat dokter spesialis yakni spesialis bedah, spesialis penyakit dalam, spesialis kandungan dan spesialis anastesi.
Sementara delapan dari 10 puskesmas bisa dijangkau dengan kendaraan darat dan dua puskesmas dijangkau melalui jalur udara yakni pesawat maupun helikopter, lima pustu dan satu dari dua puskesmas perawatan bisa dijangkau melalui speed boat.
“Sehingga kami benar-benar mengalami hambatan karena harus dicarter pesawat atau pun helikopternya,” katanya.
Menteri Kesehatan telah mengutus tim dan pihaknya sudah melakukan pertemuan di kampus Akper Nabire. Ia juga mengapresiasi Menteri Kesehatan yang telah mengirim tim yang langsung mendatangi Nabire, guna mendukung program afirmasi tersebut.
“Pokoknya tahun ini kami mulai kuliahkan 15 sampai 20 anak asli Deiyai, saya sudah mulai kerja sama dengan Unhas Makassar, beberapa universitas di Gorontalo dan di Jakarta, ini demi daerah dan masyarakat tercinta,” katanya. (*)










