Jayapura, Jubi – Warga Kampung Enggros di Kota Jayapura, Papua, masih mengalami kesulitan mengakses air bersih. Kondisi ini memaksa masyarakat membeli air dari Kota Jayapura untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti memasak, minum, mencuci, dan mandi.
Markus Hanasbey, tokoh masyarakat Kampung Enggros, menyampaikan bahwa masalah ini telah berlangsung lama dan menjadi kendala serius bagi warganya.
“Untuk mendapatkan air bersih, masyarakat harus membeli di kota, kemudian diangkut menggunakan perahu fiber. Air itu disimpan dalam tangki ukuran 200 liter untuk digunakan sehari-hari,” katanya saat ditemui Jubi.id di Kampung Enggros, Senin (20/01/2025).
Markus menambahkan bahwa air yang dibeli biasanya hanya cukup untuk tiga hari.
“Dalam satu minggu, masyarakat bisa membeli air satu hingga tiga kali,” ujarnya.

Proses pengangkutan air pun memakan biaya besar. Satu tangki air isi ulang seharga Rp120 ribu, ditambah biaya transportasi perahu fiber Rp100 ribu.
“Jadi, sekali angkut biaya totalnya Rp220 ribu. Dalam satu bulan, pengeluaran untuk air bisa mencapai Rp1 juta,” jelasnya.
Menurut Markus, upaya penyambungan pipa PDAM ke Kampung Enggros sempat dilakukan, namun pipa tersebut rusak karena arus laut yang kuat.
“Sudah beberapa tahun ini kami tidak dapat air bersih, sehingga kami harus membeli,” katanya.

Aser Semra, Kaur Pemerintahan Kampung Enggros, menjelaskan bahwa pemerintah kampung telah berusaha menyediakan akses air bersih melalui program pemasangan pipa sejak 2024.
Namun, proyek ini terkendala kondisi geografis dan kekurangan anggaran.
“Pipa yang dipasang sering putus akibat arus pasang surut di teluk. Kami juga sedang berusaha menyelesaikan tangki penampungan di Pulau Debi, tapi hingga kini belum selesai,” ujar Aser.
Selain itu, masyarakat juga harus mengambil air dari Pulau Radi, yang jaraknya sekitar 200 meter dengan perahu, atau membeli air dari Kota Jayapura.
“Untuk saat ini, air bersih menjadi perhatian utama. Kami berharap proyek ini dapat selesai di tahun 2025,” jelasnya.
Warga Kampung Enggros berharap pemerintah Kota Jayapura, Provinsi Papua, dan pemerintah kampung dapat menjadikan air bersih sebagai prioritas utama.
“Air adalah kebutuhan pokok yang sangat penting. Kami ingin akses air bersih segera terwujud, agar masyarakat tidak lagi terbebani biaya tinggi untuk membeli air,” kata Markus Hanasbey.
Aser Semra menambahkan bahwa perhatian dari pemerintah yang baru terpilih sangat diharapkan.
“Selain di Kampung Enggros, saudara-saudara kami di Holtekamp juga masih kesulitan mendapatkan air bersih,” katanya.
Saat ini, Kampung Enggros dihuni oleh 395 jiwa yang terus berjuang memenuhi kebutuhan air bersih mereka. (*)











Discussion about this post