Jayapura, Jubi – Asosiasi Wartawan Papua (AWP) menggelar rapat evaluasi tahunan 2024 di Kota Jayapura, Papua, Jumat (17/1/2025). Acara tersebut diikuti puluhan anggota AWP, termasuk redaktur, wartawan asli Papua dari berbagai media lokal dan nasional, serta pemilik media lokal.
Sebagian anggota mengikuti acara secara daring dari luar Jayapura, sementara anggota di Jayapura dan sekitarnya hadir langsung.
Ketua AWP, Elisa Sekenyap, menjelaskan bahwa sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), evaluasi dan program bersama harus dilaksanakan setiap tahun. Namun, karena kendala teknis, evaluasi tahun 2024 baru dapat dilaksanakan di awal 2025.
“Hari ini AWP mengevaluasi program tahun 2024. Beberapa program telah kami lakukan, tetapi ada yang belum selesai dan akan dilanjutkan tahun ini,” kata Sekenyap.
Ia memaparkan sejumlah program yang telah dijalankan, termasuk kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan PT Freeport Indonesia untuk peliputan isu pendidikan, kesehatan, dan lainnya di wilayah Papua, seperti Jayapura, Keerom, Sentani, dan Wamena.
Selain itu, AWP juga melaksanakan program pengembangan kapasitas wartawan, termasuk pelatihan sebelum Rapat Kerja (Raker). Menurut Sekenyap, penguatan kapasitas sangat penting untuk mendukung profesionalisme wartawan asli Papua.
“Di tahun ini, kami juga fokus pada advokasi, termasuk menangani kasus bom di kantor Jubi, kasus intimidasi dan kekerasan terhadap wartawan di Nabire, Sorong, dan Jayapura. Semua ini menjadi bagian dari evaluasi untuk menentukan langkah ke depan,” tambahnya.
Dalam diskusi evaluasi, AWP merumuskan rencana untuk memperbanyak pelatihan investigasi, jurnalistik, fotografi, dan karya jurnalistik lainnya. Elisa Sekenyap berharap program yang dirumuskan dapat meningkatkan solidaritas dan kompetensi wartawan asli Papua.
“Kami juga akan fokus pada kegiatan festival foto, video, atau karya jurnalistik lainnya untuk mendorong kreativitas dan inovasi,” ujarnya.
Sekenyap menekankan pentingnya peran bidang pengembangan SDM, advokasi, gender, dan riset dalam merancang program kerja yang lebih rinci dan terarah.
“Kami berharap program ini dapat mempererat kerja sama dengan pemerintah maupun LSM untuk mendukung berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi wartawan asli Papua,” katanya.
Anggota AWP dari Papua Tengah, Melky Dogopia, menyatakan bahwa situasi di Papua memerlukan perhatian serius. Wartawan asli Papua harus memiliki kompetensi yang memadai untuk mengangkat isu-isu penting di tanah Papua.
“Di Papua, kondisi tidak baik-baik saja. Oleh karena itu, program AWP tahun ini harus fokus pada pelatihan dan peningkatan SDM wartawan asli Papua,” tegas Dogopia. (*)











Discussion about this post