Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Ketika warga Konya menuntut hak hidup layak

Warga Konya hidup di tengah ancaman perusakan lingkungan. Permukiman mereka juga terancam digusur.

June 6, 2024
Waktu Membaca: 2 mins read
0
Penulis: Ratty Auparai - Editor: Aries Munandar
Warga Koya

Perkampungan Koya di Kelurahan Kota Baru, Kota Jayapura. - dok. Jubi

Jayapura, Jubi – Warga Konya di Kelurahan Kota Baru, Distrik Abepura masih terus berjuang untuk mendapat hak hidup yang layak. Selain bermukim di daerah langganan banjir, mereka kini menghadapi ancaman penggusuran.

Nengsi Barry, warga Konya mengatakan mereka menerima surat pemberitahuan pengosongan lokasi dari PT Papua Graha Mandiri pada September tahun lalu. Mereka kemudian menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua untuk meminta pendampingan hukum.

RELATED POSTS

Sisa makanan penyumbang sampah terbesar di Kabupaten Jayapura

Penggusuran paksa tanah masyarakat adat Biak diadukan ke Komnas HAM

Antropolog: Penggusuran kawasan kumuh di Port Moresby tak selesaikan masalah sosial

“Warga memiliki keterbatasan ekonomi [untuk membayar pengacara]. Karena itu, kami meminta bantuan [pendampingan hukum] ke LBH Papua,” kata Barry, saat diskusi ‘Warga Konya di Tengah Ancaman Kerusakan Lingkungan hidup’, Rabu malam (5/6/2024).

Direktur LBH Papua Emanuel Gobay mengatakan PT Papua Graha Mandiri mengultimatum warga segera mengosong lokasi tersebut pada bulan ini. Jika tidak, mereka akan menggusur permukiman warga tersebut.

“Pihak PT Papua Graha Mandiri memberi waktu satu bulan, terhitung mulai Mei 2024 kepada warga untuk mengosongkan tempat tinggal mereka. PT Papua Graha Mandiri tidak menjelaskan sama sekali tujuan penggusuran,” kata Gobay.

Meski demikian, dia meminta warga tetap tenang. LBH Papua akan berupaya membela mereka.

“Warga Konya jangan panik dengan [ancaman] penggusuran. Ada upaya-upaya yang akan diusahakan LBH Papua untuk menegakkan keadilan bagi warga Konya,” ujar Gobay.

Warga Koya
Diskusi ‘Warga Konya di Tengah Ancaman Kerusakan Lingkungan hidup’, Rabu malam (5/6/2024). – Jubi/Ratty Auparai

Langganan banjir

Nengsi Bary menetap di Konya sejak sekitar 1980. Suasana kampung saat itu masih asri. Mereka bahkan sering mencari ikan di sepanjang Sungai Konya.

Kondisi itu mulai berubah ketika banyak warga menjual tanah mereka. Pemilik yang baru kemudian membabat pohon sagu yang tumbuh di tanah tersebut. Sejak itu, banjir pun mulai sering melanda Koya karena makin berkurangnya daerah resapan air.

“Awalnya mulanya [sering] banjir itu karena penebangan sagu dan pembangunan Kompleks Perumahan Organda. Daerah itu [dahulunya] merupakan resapan air,” ujar warga RT 002 Koya tersebut.

Fredrik Wader, warga RT 001 Konya mengatakan ketinggian air saat banjir bisa mencapai sepinggang hingga seleher orang dewasa. Banjir tersebut biasa bertahan hingga sepekan.

“Banjir terparah terjadi pada 1996. Ketinggian air mencapai [puncak] pohon sagu. Ada tiga rumah rusak berat akibat banjir tersebut,” kata Wader.

Selain melumpuhkan aktivitas warga, banjir mendatangkan penyakit di Konya. Banyak warga terserang diare dan gatal-gatal pada kulit setelah banjir surut.

Warga Koya
Direktur LBH Papua Emanuel Gobay (kiri) menerima berkas pengaduan warga Koya terhadap pengukuran tanah oleh BPN Kota Jayapura, Selasa (16/1/2024). – Jubi/Theo Kelen

Hak hidup layak

Sungai Konya saat ini juga dipenuhi sampah plastik. Kondisi tersebut makin memperburuk dan meningkatkan kerentanan terhadap banjir.

Menurut warga, sampah-sampah tersebut merupakan kiriman dari Kompleks Perumahan Organda, Kampus Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, serta Universitas Cenderawasih. Saat hujan deras, banyak juga sampah yang hanyut dari sejumlah lokasi di Abepura ke Konya.

“Masyarakat Kampung Konya sangat tahu diri [juga peduli dengan kebersihan lingkung]. Mereka mengelola sampah dengan baik,” ujar Yansen Warwe, sesama warga Konya.

Warse mengatakan ada lebih 10 mata air di Konya. Apabila mata air itu juga sampai tersumbat oleh sampah, dia memastikan akan terjadi banjir yang lebih parah lagi di perkampungan tersebut .

“Konya dikelilingi beberapa mata air. Daerah resapan dan aliran sungainya seharusnya tidak boleh ada pembangunan [pendirian bangunan],” kata Warse.

Dina Danumira dari Komunitas Papua Trada Sampah menilai Pemerintah Kota Jayapura sering mengabaikan persoalan kebersihan lingkungan. Menurutnya, sampah masih berserakan di sejumlah lokasi.

“Kita harus melawan ketidakadilan ini [terhadap Warga Konya] karena setiap orang berhak atas kehidupan yang layak. Hak itu dijamin oleh hukum nasional maupun internasional,” kata Danumira.

Tonny Ukago dari Green Papua menegaskan Pemerintah Kota Jayapura juga harus menerapkan pembangunan yang ramah lingkungan. Penerapan tersebut termasuk terhadap pembangunan di Koya.

“Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari kondisi lingkungan. Karena itu, daerah resapan air [di Konya] seharusnya dilindungi bukan malah dibangun rumah sakit,” kata Ukago. (*)

Tags: hak hidupKebersihan LingkunganKonyaPenggusuransampah
ShareTweetSendShareShare
Victor Mambor

Victor Mambor

Related Posts

Sampah Sisa makanan
Lingkungan

Sampah sisa makanan berdampak lebih kuat terhadap pemanasan global

April 25, 2026
Komunitas IBAYAUW
Lingkungan

Komunitas IBAYAUW bersihkan kawasan Hutan Perempuan

April 24, 2026
jepang
Lingkungan

Sumur, kapal, monyet peninggalan Tentara Jepang di tepi Gunung Mher Teluk Youtefa

April 13, 2026
Papua
Domberai

Kasih Rumbai Koteka, menyalakan harapan anak putus sekolah di Papua Barat

April 12, 2026
pedagang pakaian
Features

Potret lesu pedagang pakaian kaki lima jelang Idulfitri di Jayapura

March 17, 2026
Tanah Papua
Lingkungan

Gereja mesti tegas terhadap krisis tanah dan lingkungan di Tanah Papua

March 7, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara