Jayapura, Jubi – Para pedagang di pasar Youtefa, Kota Jayapura, Papua menyatakan harga beras melambung sejak tiga bulan terakhir.
Menurut pedagang, naiknya harga beras kemungkinan disebabkan faktor cuaca, atau dampak dari kebijakan pemerintah. Sebab beras yang mengalami kenaikan harga bukan hanya produksi petani lokal, juga yang didatangkan dari Pulau Jawa dan Makassar, Sulawesi Selatan.
Nur, salah satu pedagang di Pasar Youtefa mengatakan, harga beras yang naik selama tiga bulan terakhir mulai dari yang jenis premium, medium dan beras dari gudang Badan Urusan Logistik atau Bulog.
“Naik semua harga beras, yang paling murah itu eceran Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. [Padahal] biasanya hanyabRp12 ribu hingga Rp13 ribu per kilogram,” kata Nurul, Senin (25/8/2025).
Katanya, pedagang di Pasar Youtefa terpaksa menaikkan harga beras, sebab harga beli dari agen juga naik. Misalnya beras Bulog 20 kilogram yang semula Rp330 ribu kini menjadi Rp345 ribu. Begitu pula beras jenis premium dan medium.
“Beras [merk] 99 sebelumnya kan cuman Rp330 ribu, sekarang naik menjadi Rp340 ribu. Beras karung kuning biasa itu kami beli dengan harga Rp290 ribu sekarang harganya naik Rp310 ribu, sehingga kami harus jual dengan harga Rp320 ribu,” ujarnya.
Nur berharap, pemerintah dapat menstabilkan kembali harga beras di pasaran. “[Mungkin] karena pemerintah mau ambil keuntungan dari pajak makannya semua barang dikasih naik dan selama ini beras yang paling naik sekali,” ucapnya.
Pedagang lain, Ipung mengatakan hal yang sama. Menurutnya, pihaknya pun mesti menjelaskan kepada pembeli apabila mereka menanyakan mengapa harga beras kini naik.
“Masyarakat juga mengeluh dengan naiknya harga beras. Pemerintah bilang harga beras stabil, akan tetapi kenyataannya masih mahal juga kalau di pasaran,” kata Ipul. (*)











Discussion about this post