Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Tanah Papua

Jane Elizabeth Lense, mahasiswa pertama di Indonesia meraih tiga sertifikat drone

June 9, 2022
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: - Editor:
mahasiswa indonesia drone

Mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua Jane Elizabeth Lensa menunjukkan tiga sertifikat drone yang diperolehnya. -Dok. Lense.

Jayapura, Jubi – Jane Elizabeth Lense, mahasiswa Universiitas Papua, mulai berkenalan dengan drone empat tahun lalu, tepatnya 2018. Saat itu drone lagi ramai digunakan untuk pengambilan video.

“Tahu drone sejak 2018. Awal drone booming 2018-2019, orang mulai bikin video pakai drone,” kata Lense kepada Jubi melalui panggilan telepon beberapa waktu lalu.

RELATED POSTS

Mahasiswa nyatakan sikap terhadap sengketa tapal batas di Kapiraya

Drone aparat keamanan serang rumah warga di Dekai, satu orang meninggal

Mahasiswa Papua tolak Otsus dan desak penarikan militer dari Tanah Papua

Lense memang dari dulu sudah tertarik dengan teknologi modern. Maka tak heran perempuan 20 tahun tersebut jatuh hati terhadap drone.

“Saya menyukai teknologi, drone termasuk teknologi yang modern. Kelihatan drone keren bisa ambil foto dan video dari jauh. Tapi semakin saya suka lagi ternyata drone dan mapping (pemetaan) bisa disatukan, jadi kenapa tidak untuk belajar. Saya suka dengan pemetaan,” ujarnya.

Lense sangat tertarik bisa memiliki drone. Ia kemudian berusaha mencari tahu harga drone. Namun ia harus memendam keinginan itu karena harga satu unit drone lumayan mahal.

Seiring berjalannya waktu, perempuan kelahiran Australia pada 2001 itu kembali diperkenalkan dengan drone oleh dosennya, Zulfikar, S.Hut,M.Si. Dosennya tersebut mengajaknya untuk mengikuti pelatihan pemetaan memakai drone.

“Kayaknya menarik, jarang sekali ada pemetaan pakai drone yang istilahnya unik. Kemudian saya coba ikut,” kata mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Papua tersebut.

Ia kemudian mengikuti pelatihan pertamanya secara online untuk memetakan rektorat Universitas Papua. Dari pelatihan pertama itu ia semakin tertarik dan ingin belajar lebih banyak tentang drone. Apalagi drone dapat digunakan untuk pemetaan yang membuat Lensa semakin tertarik.

“Baru tahu kalau drone juga bisa dipakai untuk pemetaan dan di kuliah juga belajar tentang pemataan di darat dan laut. Dari situ saya mulai tertarik untuk langsung coba [terbangkan drone],” ujarnya.

Pada 12-17 Febuari 2022 adalah kesempatan bagi Lense untuk bisa memperdalam ilmunya, sekaligus untuk pertama kali menerbangkan drone. Selama enam hari itu ia bersama 19 peserta lainnya mendapatkan kesempatan belajar dari Asosiasi Pilot Drone Indonesia.

Mereka mulai diperkenalkan dengan jenis-jenis drone, cara menerbangkan drone yang benar, dan aturan bermain drone yang disampaikan Kementerian Perhubungan Indonesia.

“Mereka datang ke Manokwari untuk kasih pelatihan. Saya coba ikut lagi dan ternyata gampang, tidak sesusah yang orang pikir. Dan diaplikasikan ke pemetaan juga ternyata menurut saya pribadi lebih mudah daripada pakai citra satelit,” katanya.

Usai pelatihan para peserta langsung dites menjadi seorang pilot drone untuk mendapatkan lisensi secara legal untuk menerbangkan drone. Mereka kemudian dites memakai mode GPS dan Attitude atau ATTI (Mode-A).

Saat pelatihan peserta diberi kesempatan dari pagi sampai sore menggunakan drone sampai bisa mengendalikannya.

Menurut Lense, dorne mode GPS lumayan gampang, karena drone tersambung dengan GPS dan jika terkena angin drone akan diam, tidak apa-apa.

“Sedangkan ATTI membutuhkan skill untuk mengendalikan drone, itu lumayan harus cepat dan lincah. Mau tidak mau kalau ada angin kencang drone keluar jalur terjadi kesalahan begitu, jadi harus diulang-ulang karena ada angin lumayan kencang dan latihan di lapangan terbuka,” ujarnya.

Berkat kerja keras yang telah dipersiapkan jauh-jauh hari, Lense berhasil menyabet tiga sertifikat sekaligus dan menjadikannya sebagai mahasiswa pertama di Indonesia yang mampu memperoleh tiga sertifikat dalam waktu enam hari.

“Puji Tuhan ikut semua dengan baik dan lulus,” katanya.

Sertifikat yang dimaksud adalah Sertifikast Pilot Drone, Sertifikat pemetaan menggunakan drone, dan yang paling prestisius adalah Lisensi Remote Pilot Drone yang dikeluarkan oleh DKPP Kementerian Perhubungan Indonesia.

“Istilahnya SIM untuk terbangkan drone,” ujarnya.

Lense berpesan agar mahasiswa yang memang memiliki hobi agar serius menekuni dan terus dikembangkan menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat bagi pribadi dan tentu bagi kepentingan masyarakat banyak.

Walaupun telah memiliki kemampuan terkait drone, Lense tak memiliki rencana yang muluk-muluk. Ia hanya ingin terus belajar sambil bisa berkontribusi dalam pemetaan geospasial secara khusus di Papua.

“Mungkin saya fokus berkontribusi ke bagian pemetaan,” katanya.

Lense tak hanya berprestasi bidang dorne. Selama di Perguruan Tinggi ia juga pernah meraih

Best Speaker dan Juara 1 Lomba NUDC (debat berbahasa Inggris) tingkat jurusan dan juara 4 Lomba NUDC tingkat fakultas. (*)

Tags: Dronemahasiswa PapuaPemetaan GeospasialUniversitas Papua
ShareTweetSendShareShare
News Desk

News Desk

Related Posts

Direktorat Koordinasi dan Supervisi (Korsup) Wilayah V Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dian Patria perwakilan saat menjadi pembicara pada diskusi hari pangan internasional di Sorong, Sabtu (18/10/2025). – Jubi/Gamaliel
Domberai

Membongkar praktik buruk investasi di Tanah Papua

October 18, 2025
pastor
Meepago

Pastor Yance Yogi mengutuk pelaku penembak warga sipil di Intan Jaya

October 18, 2025
Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy, SH, - IST
Bomberai

LP3BH Manokwari protes: Relawan dianiaya aparat di Moskona Utara

October 18, 2025
Pinehas Torey
Domberai

Pinehas Torey, Anggota Nieuw Guinea Raad dari Teluk Wondama

October 18, 2025
Polda Papua Barat
Domberai

Polda Papua Barat kirim 169 personel BKO amankan perayaan 1 abad peradaban di Wondama

October 17, 2025
Kwamki Narama
Meepago

Pelajar dan Mahasiswa Mimika-Puncak desak penyelesaian konflik antar warga di Kwamki Narama

October 17, 2025

Discussion about this post

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara