Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Tanah Papua

Abraham Wanggai dan kisah penyanderaan Mapenduma 1996

June 11, 2022
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: - Editor:
Abraham Wanggai

Abraham Wanggai mantan ASN Dinas Kehutanan Provinsi Papua-Jubi/dam

Jayapura, Jubi-Mungkin banyak tak mengira kalau Abraham Wanggai, pensiunan ASN Dinas Kehutanan Provinsi Papua pernah mengalami kisah yang sangat mencekam dalam hidupnya. Ia bersama para peneliti pernah disandera selama 130 hari oleh pentolan Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan, Kelly Kwalik di kawasan Nduga dan Mapenduma.

“Kami hanya berputar- putar selama ratusan hari di sekitar wilayah Kenyam dan Mapenduma,”kata Abraham Wanggai kepada test.jubi.id disela sela pelatihan Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) se Klasis Port Numbay di GKI Bukit Zaitun, Skyland Jumat (10/6/2022).

RELATED POSTS

Ada perubahan cara pandang terhadap perempuan di Tanah Papua

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

KNPB nyatakan sikap terhadap situasi Tanah Papua

Dia menambahkan mereka hanya jalan berputar putar di bawah todongan senjata, mendiang Kelly Kwalik dan kawan kawannya di Bukit Mapenduma, ibukota Kabupaten Nduga sekarang ini.

Lelaki berusia 60 tahun ini menuturkan kala itu, ia disandera bersama tim peneliti Lorenzt 1995 dan mahasiswa Universitas Nasional jurusan Biologi,  di seputar kawasan milik suku Nduga.

“Kami disandera oleh Kelly Kwalik dan Silas Kogoya di Mapenduma harus menghindari dari kepungan militer TNI Indonesia,”kata Wanggai.

Dia mengenang kala itu, ia dan kawan –kawannya harus bersembunyi di ketinggian ribuan meter dari permukaan laut, menahan dingin dan tiupan angin gunung yang kencang dan kuat. “Butiran embun di pagi hari juga menambah bekunya badan ini, apalagi kitorang ini orang pantai ,”kenang Paitua Wanggai ini.

Berbeda dengan Kelly Kwalik dan kawan kawan komandan TPN OPM di kawasan Mapenduma. “Bagi mereka dingin dan berjalan, bahkan berlari di ketinggian adalah hal yang biasa,”kata Wanggai.

Dia mengaku kawan kawannya sesama korban sandera sudah tak pernah kontak lagi, bahkan salah seorang rekan dosen antropolog Markus Warip sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu. “Praktis hubungan komunikasi terputus dan saya sendiri sudah pensiun dari ASN Dinas Kehutanan Provinsi Papua 2018 lalu tepat usia 58 tahun,”katanya.

Beruntung, kisah Abraham Wanggai dan kawan- kawasan saat disandera berhasil ditulis oleh Ray Rizal dan Nina Pane sebagaimana dituturkan Adinda Arimbi Saraswati, peneliti bidang hayati dari Universitas Nasional Jakarta. Buku setebal 325 halaman itu diberi judul “Sandera, 130 hari terperangkap di Mapenduma” terbitan Pustaka Sinar Harapan, 1997.

Tujuan penelitian tim Lorentz 95 secara umum adalah untuk memberikan informasi dasar mengenai keberadaan jenis jenis flora dan fauna di sekitar Mapenduma. “Di samping itu kami mempelajari bentuk,  pemanfaatan dan jenis jenisnya, serta masalah masalah utama yang berkaitan dengan Taman Nasional Lorenzt dengan mengkombinasikan pemikiran ilmiah dan kebijakan berpikir tradisional suku Nduga,”kata Adina Arimbi Saraswati peneliti dari Universitas Nasional Jakarta.

Abraham Wanggai
Buku berjudul “Sandera, 130 hari terperangkap di Mapenduma”.-Jubi/dam

Tim Lorenzt 95,  saat itu dibentuk berdasarkan kerja sama Biological Science Club (BScC) dari Indonesia dengan Emanuel College Cambridge University. Kegiatan penelitian ini dilakukan selama November 1995 sampai dengan Januari 1996, berlokasi di Kampung Mapenduma, Kabupaten Jayawijaya, Irian Jaya yang letaknya di bagian Timur Laut Cagar Alam Lorentz yang kini menjadi Taman Nasional Lorenzt.

Menurut Adinda Saraswati tim peneliti dari Indonesia adalah Navy WTH Panekenan, Matheis Y Lasamahu, Jualita Tanasale.Sedangkan anggota tim dari Inggris melibatkan Daniel Start, William Bill Oates, Anette van der Kolk dan Anna McIvor. “Tim kami dibantu oleh antropolog Markus Warip dari Universitas Cenderawasih dan Abraham Wanggai dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kanwil Kehutanan Provinsi Irian Jaya,”kata Adinda.

Dia menuturkan ada pula putra asal Nduga, Jacobus Wandikbo pegawai dari Pemda Kabupaten Jayawijaya yang diperbantukan sebagai pendamping Inpres Daerah Tertinggal (IDT) di Nduga.

Selama dalam penyanderaan di Mapnduma, Silas Kogoya mengawal mereka di kamp dengan sebelumnya melakukan long march mengitari kawasan Kenyam. Silas Kogoya yang selama ini peduli soal makan dan minum para sandera, Namun dia akhirnya meninggalkan mereka karena mungkin sudah jenuh. Terpaksa Abraham Wanggai dan kawan kawan mencari tikus tanah untuk dimakan. Beruntung dosen antropolog Markus Warip punya pengalaman memasak tikus tanah sehingga makanan itu sudah menjadi bekal sarapan dan makan siang selama dalam penyanderaan itu.

Negosiasi Kelly Kwalik dengan ICRC atau International Committee of The Red Cross Regional Delegation in Jakarta pun sia-sia dan tak berhasil membebaskan para sandera. Namun selama sebulan ICRC terus mengikuti perkembangan penyanderaan dari pemberitaan media. Dalam buku itu Adinda mengatakan kekasihnya Navy dan teman lainnya Matheis dibantai hingga akhirnya kehilangan nyawa di dalam peristiwa penyanderaan tersebut.

Di tengah perjuangan menyelamatkan diri dari pembantaian akhirnya suara teriakan minta tolong didengar oleh anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).”Kami terus berlari sampai dari kejauhan kulihat bayangan hitam hitam tapi tak jelas siapa. Aku berteriak-teriak,”Tolong,tolong saya sandera.” Kata Adinda Saraswati dalam buku tersebut. Selanjutnya salah seorang dari anggota ABRI berseru,”Kami ABRI Batalyon 330.” Mereka semua selamat hanya Navy dan Matheis yang menjadi korban dalam akhir penyanderaan itu. Bagi Abraham Wanggai peristiwa penyanderaan ini meninggalkan trauma yang sangat mendalam dan kini sudah mulai melupakan peristiwa mencekam.

Mapenduma kini menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Nduga sejak 2008 awalnya nama sebuah distrik dengan luas adalah 2.202 KM2 atau 17 persen dari total luas wilayah kabupaten Nduga Provinsi Papua.(*)

 

 

Tags: Abraham WanggaiFeaturesKisah Penyanderaan MapendumaTanah PapuaTim Lorentz 95
ShareTweetSendShareShare
News Desk

News Desk

Related Posts

Direktorat Koordinasi dan Supervisi (Korsup) Wilayah V Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dian Patria perwakilan saat menjadi pembicara pada diskusi hari pangan internasional di Sorong, Sabtu (18/10/2025). – Jubi/Gamaliel
Domberai

Membongkar praktik buruk investasi di Tanah Papua

October 18, 2025
pastor
Meepago

Pastor Yance Yogi mengutuk pelaku penembak warga sipil di Intan Jaya

October 18, 2025
Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy, SH, - IST
Bomberai

LP3BH Manokwari protes: Relawan dianiaya aparat di Moskona Utara

October 18, 2025
Pinehas Torey
Domberai

Pinehas Torey, Anggota Nieuw Guinea Raad dari Teluk Wondama

October 18, 2025
Polda Papua Barat
Domberai

Polda Papua Barat kirim 169 personel BKO amankan perayaan 1 abad peradaban di Wondama

October 17, 2025
Kwamki Narama
Meepago

Pelajar dan Mahasiswa Mimika-Puncak desak penyelesaian konflik antar warga di Kwamki Narama

October 17, 2025

Discussion about this post

Recommended Stories

Bali United tetap serius lawan Persipura

February 24, 2022
KONI Papua

KONI Papua siap bantu pembentukan Pengprov Cabor Provinsi DOB

March 27, 2023
Puncak

Sembilan warga Puncak dilaporkan tewas tertembak saat operasi militer, salah satunya balita

April 18, 2026

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara