Nabire, Jubi – Dinas Kesehatan atau Diskes Provinsi Papua Tengah mencatat daerah dengan kasus malaria tertinggi di wilayah itu adalah Kabupaten Mimika.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinkes Papua Tengah, dr. Agus mengatakan akumulasi kasus malaria di delapan kabupaten di Papua Tengah pada 2025, mencapai 205.068 kasus. Sebanyak 190.597 kasus atau 80 persen dari jumlah kasus malaria itu ada di Kabupaten Mimika.
Menurut dr. Agus kasu malaria di setiap kabupaten di Papua Tengah pada 2025, adalah Kabupaten Mimika 190.597 kasus, Kabupaten Nabire 8.744 kasus, Kabupaten Puncak 3.025 kasus, Kabupaten Puncak Jaya 2.031 kasus, Kabupaten Intan Jaya 334 kasus, Kabupaten Paniai 273 kasus, Kabupaten Deiyai 51 kasus, dan Kabupaten Dogiyai 13 kasus.
“Dengan keseluruhan sebanyak 205.068 kasus Malaria di Papua Tengah,” kata dr. Agus di kantor, di jalan Merdeka, Kabupaten Nabire, ibu kota Papua Tengah, Senin (2/3/2026).
Katanya, penyebab utama tingginya kasus malaria adalah keberadaan nyamuk anopheles dan parasit plasmodium yang ada di tubuh manusia. Nyamuk ini pembawa bibit penyakit dari orang ke orang. Faktor lainnya adalah kebersihan lingkungan, seperti genangan air akibat curah hujan tinggi, sampah dan sebagainya.
“Di lingkungan yang kurang bersih dan perilaku hidup yang belum sehat itu yang jelas tempat berkembang biak nyamuk,” ucapnya.
Ia mengatakan, solusi utama adalah screening massal atau deteksi dini. Semua warga, baik yang sakit maupun sehat tanpa gejala, wajib melakukan pemeriksaan darah.
“Logikanya sederhana, semua orang diperiksa, hasilnya positif atau negative. Upaya penurunan kasus Malaria di Papua Tengah yang bisa dilakukan adalah screening massal dan pengobatan tuntas itu kunci utama solusi eliminasi malaria” ujarnya.
Setelah dilakukan screening massal lanjut dr. Agus, apa bila ditemukan ada yang positif malaria, maka harus diberi obat untuk diminum secara tuntas.
Ia menjelaskan, obat malaria diminum tiga hari awal, kemudian dilanjutkan dengan melakukan periksaan ulang setelah 14 hari. Jika hasilnya masih positif, ulangi pengobatan hingga jadi negatif.
“Ini agar menghilangkan plasmodium dari tubuh agar nyamuk tidak lagi membawa infeksi ke orang lain. Misalnya seseorang positif tanpa gejala minum obat tuntas, periksa ulang negatif. Meski digigit nyamuk, dia tidak lagi menularkan penyakit karena parasit sudah hilang,” katanya.
Ia menambahkan, hambatan utama dalam memerangi malaria adalah kurangnya disiplin mengkonsumsi obat. Masyarat juga tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungan,
“Tanpa pengobatan tuntas, bibit penyakit tetap ada didalam tubuh. Nyamuk gigit, lalu infeksi menyebar,” ujar Agus.(*)











Discussion about this post