Sentani, Jubi – Suara pedagang di depan los A dan B di Pasar Pharaa Sentani tidak kalah bising dibanding tempat para pedagang ikan berjualan di lapak yang berjarak sekitar 50 meter dari teras pasar terbesar di Sentani, Ibu Kota Kabupaten Jayapura, Papua, itu.
Ada yang berteriak “pinang”, “sirih”, ada pula yang berteriak “kangkung”, “betatas”, dan beragam tawaran barang dagangan lainnya. Suara bising di sana bahkan lebih bising dibanding suasana los itu sebelum Pasar Pharaa terbakar pada 2 Desember 2024.
Kebakaran itu melalap tempat berjualan dan dagangan para pedagang di los B dan C pasar itu. Kebakaran tersebut terjadi ketika para pedagang tengah mengumpulkan pundi-pundi usahanya hingga akhir tahun, menjelang Hari Raya Natal dan tahun baru. Bukannya untung, malah kerugian puluhan juta rupiah yang mereka alami.
Marta Ibo, pedagang pinang yang sudah berjualan di Pasar Pharaa sejak pasar itu berdiri, berdiri di depan los C. Ia memiliki meja jualan berbentuk kotak yang biasanya berisi barang-barang dagangannya.
“Semua habis terbakar. Isi dalam kotak dan meja jualan ini ada pinang, sirih, bahkan sagu tiga karung. Semuanya habis pada 2 Desember pagi itu,” ujar Marta saat ditemui di tempat jualannya yang baru, Kamis (12/12/2024).
Marta Ibo bercerita, dalam tiga tahun terakhir Pasar Pharaa sudah beberapa kali terbakar. Kebakaran itu sangat berdampak terhadap pedagang, karena memusnahkan modal usaha yang dikumpulkan dalam waktu lama.

Ibo juga menuturkan bahwa menjelang Natal seharusnya para pedagang bisa mempersiapkan segala sesuatu bersama keluarga. “Namun apalah daya kami sebagai pengusaha, hanya bisa gigit jari saja. Sebelum terbakar, jualan di dalam los C [membuat saya] ada pemasukan untuk kebutuhan dalam keluarga, termasuk kebutuhan sekolah anak-anak,” jelasnya.
Kedua los pasar yang terbakar tak bisa lagi dijadikan tempat berjualan, karena diberi garis pembatas polisi agar tak dimasuki pedagang ataupun pembeli. Sebagian besar pedagang seperti Ibu diberi tempat jual baru di depan halaman parkir.
“Tiga hari setelah kejadian, kami semua pindah dan bangun lapak sendiri. Dengan modal yang ada, [saya] berjualan kembali,” ujar ibu dua anak itu.
Hal senada juga dijelaskan Muhammad Sulaiman. Ia pedagang barang kelontong yang memiliki lapak di lantai dua los B yang terbakar.
Sulaiman mengisahkan modal usahanya senilai puluhan juta sudah ia belanjakan barang dagangan seperti pakaian, sepatu, dan barang kebutuhan dapur, dan barang kelontong lain yang biasanya laris dicari pembeli menjelang Natal.
“Jadi, akhir November stok barang [baru] sudah ada di gudang. Sebagian sudah dibawa ke tempat jualan di lantai dua pada 1 Desember. [Hari itu, sejak] pagi sampai siang itu [saya] mengatur dan menata barang jualan. Pagi subuh [tanggal 2 Desember, semua barang dagangan] itu terbakar dan habis,” ujarnya.
Saat ini, barang dagangan Sulaiman adalah sisa stok barang dagangan dari gudangnya. Sebagian besar modalnya untuk berbelanja berbagai barang dagangan itu tidak akan kembali.
“Ini seperti memulai usaha dari awal. Yang buat kami bertahan adalah sesama pedagang yang tetap ada dan terus berjualan dengan modal apa adanya. Yah, ada Rp200 juta hingga Rp300 juta, ditambah modal bisa mencapai Rp500 juta rupiah yang kami anggap terbakar,” jelasnya.
Mirisnya, dalam tiga tahun terakhir Sulaiman sudah mengalami kejadian yang sama. Saat itu, kondisinya bahkan lebih buruk, karena gudangnya kosong sehingga ia tidak memiliki barang dagangan yang bisa dijual.
“Kami berharap pemerintah lebih serius mengurus pasar dengan baik. Di siniada hak dan kewajiban yang dijalankan, hal itu sama sekali tidak seimbang. Lebih besar kewajiban kami [laksanakan ketimbang] hak [yang kami] peroleh dari pasar ini,” ujar Sulaiman.

Kios darurat
Seperti Sulaiman dan Ibo, banyak pedagang yang kios atau lapak dagangannya terbakar membangun kios atau lapak darurat di halaman parkir Pasar Pharaa. Kepala Pasar Pharaa Sentani, Keliopas Mehue menjelaskan bahwa pihaknya memang mengizinkan setiap pedagang yang kios/lapaknya terbakar untuk membangun atau mendirikan kios atau lapak darurat di halaman parkir pasar.
Mehue menyebutkan ada 150 pedagang yang membangun lapak dan kios di sepanjang pelataran parkir Pasar Pharaa. Deretan kios darurat itu berjajar hingga bagian samping dari los E.
“Yang lain adalah pedagang musiman atau tiba berangkat, jumlahnya [sekitar] 100 hingga 130 pedagang. Jumlah tersebut tergantung dengan ketersediaan barang dagangan mereka,” ujarnya.
Menurutnya, pasca kebakaran pada 2 Desember 2024 itu, dua bangunan los pasar memang ditutup dan diberi garis pembatas polisi. “Tempat Kejadian Perkara itu [sedang] dalam proses penyelidikan pihak berwajib. Sisa puing bangunan yang terbakar itu penting untuk dijauhkan dari aktivitas masyarakat, sehingga seluruh akses masuk ke kedua los itu ditutup, termasuk [akses ke] kios dan lapak bagian belakang,” ujarnya.
Mehue mengaku belum mengetahui berapa anggaran yang akan disediakan Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk membangun kembali bangunan Pasar Pharaa yang terbakar. Ia menyatakan tugasnya hanya menjalankan aktivitas pasar, dan mengawasi aktivitas masyarakat agar tidak memasuki puing bangunan yang terbakar.
“Jadi, 20 hingga 50 pedagang daging ayam sementara bergabung di lapak pedagang ikan di bagian luar los besar. Sementara ada lapak daging ayam yang sedang dipersiapkan. Untuk pedagang musiman, tetap berjualan di bagian depan tempat parkir. Pedagang musiman lainnya, sebanyak 30 pedagang, berjualan di depan terminal taksi,” jelas Mehue. (*)











Discussion about this post