Jayapura, Jubi – Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, mengunjungi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau geotermal Muara Laboh di Sumatra Barat untuk menandai dimulainya perluasan proyek pembangkit listrik tersebut — sebuah tonggak penting dalam transisi energi bersih Indonesia.
Indonesia memiliki potensi geotermal terbesar di dunia dan memprioritaskan tenaga geotermal yang memanfaatkan panas alami bumi untuk menghasilkan listrik dasar yang bersih dan andal. Demikian keterangan pers yang diterima test.jubi.id dari [email protected].
Wakil Duta Besar Kamath mengatakan dirinya senang dapat menyaksikan dimulainya proyek perluasan tersebut.
“Australia dan Indonesia bekerja sama untuk memanfaatkan peluang ekonomi dari transisi energi yang inklusif. Proyek ini menunjukkan bagaimana mekanisme pembiayaan campuran dapat membuka akses modal swasta untuk proyek-proyek berdampak besar serta rendah karbon yang penting untuk mencapai target emisi nol bersih,” ujarnya.
Australia menjadi katalisator dalam pembiayaan perluasan Muara Laboh dengan menyediakan pinjaman lunak sebesar US$15 juta melalui Australian Climate Finance Partnership. Pinjaman ini merupakan bagian dari perjanjian pembiayaan senilai US$92,6 juta antara Asian Development Bank (ADB) dengan PT Supreme Energy Muara Laboh untuk Proyek Muara Laboh Unit 2.
Listrik yang dihasilkan dari PLTP Muara Laboh akan berkontribusi pada bauran energi terbarukan di jaringan listrik Sumatra, yang mampu memasok listrik bagi sekitar 435.000 rumah tangga.
Perluasan Muara Laboh juga mengintegrasikan Rencana Aksi Gender yang mempromosikan kepemimpinan dan peluang kerja terampil bagi perempuan, magang berbayar di bidang STEM bagi lulusan perempuan, serta kebijakan sumber daya manusia yang inklusif.
Secara lebih luas, proyek yang diperkirakan selesai pada akhir 2027 ini memprioritaskan penciptaan lapangan kerja lokal, keterlibatan masyarakat, dan pengelolaan lingkungan di Kabupaten Solok Selatan untuk memastikan transisi energi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat.
Mekanisme pembiayaan campuran juga menjadi fokus utama KINETIK — Kemitraan Iklim dan Infrastruktur Australia–Indonesia. (*)











Discussion about this post