Jayapura, Jubi – Capaian imunisasi dalam Pekan Imunisasi atau PIN Polio di Provinsi Papua masih jauh di bawah target. Puskesmas diminta harus lebih gencar melakukan pemberian vaksin Polio. Pasalnya, paket imunisasi Polio lengkap memerlukan empat tahapan yang totalnya memakan waktu dua bulan dan 2 pekan.
Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Elia Tabuni Mgr MSc mengatakan pelaksanaan imunisasi Polio di Provinsi Papua dalam PIN Polio yang dimulai sejak Mei lalu baru mencapai 18,5 persen dari total sasaran. Dari 118.659 anak berumur 0 – 7 tahun yang menjadi sasaran imunisasi Polio di Provinsi Papua, baru 34.846 anak yang telah terimunisasi. Artinya, masih ada 83.813 anak dalam kelompok sasaran imunisasi yang belum menerima vaksin polio.
“Secara keseluruhan, anak-anak yang sudah dimunisasi itu untuk dosis pertama mencapai 18,5 persen. Untuk PIN Polio, cakupan target itu seharusnya [mencapai] 95 persen. Kami [di Provinsi Papua] masih jauh sekali di bawah [target,” kata Tabuni pada Rabu (5/6/2024).

Tabuni mengatakan ribuan anak-anak yang sudah mendapatkan imunisasi Polio diantaranya umur 0 – 59 bulan (17.689 anak), umur 5 sampai umur kurang 7 tahun (10.320 anak) dan umur 7 tahun (6.837 anak).
Anak-anak itu antara lain tersebar di Kota Jayapura (7.732 anak dari target 66.163 anak), Kabupaten Jayapura (7.266 anak dari target 34.800 anak), Kabupaten Keerom (3.948 anak dari target 12.597 anak), Kabupaten Sarmi (4.102 anak dari target 8.164 anak).
Di Kabupaten Biak Numfor, PIN Polio baru menjangkau 7.465 anak dari target 24.932 anak, sementara di Kabupaten Supiori PIN Polio baru menjangkau 1.955 anak dari target 5.265 anak. Capaian yang rendah juga terjadi di Kabupaten Kepulauan Yapen (1.593 anak dari target 21.574 anak), Kabupaten Waropen (516 anak dari target 7.510 anak) dan Mamberamo Raya (269 anak dari target 7.654 anak).
Butuh 12 pekan
Pemberikan vaksin Polio bagi anak-anak di Tanah Papua mendesak dilakukan. Kementerian Kesehatan RI mencatat dalam 12 bulan terakhir telah ditemukan sejumlah kasus anak positif Polio yang menyebabkan anak lumpuh. Hal itu menunjukkan adanya transmisi virus polio di sejumlah wilayah Tanah Papua.
Sekilas, waktu pelaksanaan PIN Polio 2024 yang berlangsung sejak 27 Mei hingga September 2024 masih panjang. Akan tetapi, paket lengkap imunisasi Polio bukanlah pemberian vaksin Polio satu kali.
Untuk membangun kekebalan tubuh anak terhadap virus poliovirus, anak harus menjalani empat tahapan pemberian vaksin. Di antara setiap tahapan pemberian vaksin polio, harus ada interval atau jeda waktu. Secara total, waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan empat tahapan pemberian vaksin Polio adalah 12 pekan, alias dua setengah bulan.

Kerumitan itulah yang membuat Tabuni mencemaskan capaian PIN Polio di Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Mamberamo Raya, dan Kota Jayapura yang belum mencapai 20 persen dari total sasaran.
“Sampai saat ini, kami lihat cakupan masih rendah. Misalnya, di Kota Jayapura, [capaiannya baru] 11,7 persen. Artinya banyak sekali puskesmas yang belum menjalankan PIN Polio. [Padahal dari] sisi akses, logistik, dan penyampaian informasi, [pemangku kepentingan di Kota Jayapura] mendapatkan informasi secara baik,” ujarnya.
Tabuni mengatakan upaya akselerasi capaian PIN Polio telah dilakukan, termasuk melalui koordinasi dengan pimpinan dinas kesehatan kabupaten/kota. Dinas Kesehatan Papua menyarankan penyelenggaran PIN Polio untuk beberapa kampung yang berdekatan dapat digabungkan, dan meminta penambahan tim di wilayah dengan jumlah anak sasaran PIN Polio yang banyak. “Kami mengharapkan pimpinan daerah melakukan intervensi,” katanya.
Masih ada penolakan
Di lapangan, petugas kesehatan berhadapan dengan penolakan orangtua untuk mengizinkan anak mereka diimunisasi. Petugas Kesehatan Puskesmas Abepantai, Bidan Mariam mengatakan jika orangtua melarang anaknya diimunisasi, petugas medis tidak bisa memberikan vaksin Polio.
“Masih ada penolakan dari orang tua,” kata Mariam pada Rabu.
Mariam mengatakan target sasaran imunisasi polio di wilayah kerjanya sekitar 1.000 anak yang tersebar di Kampung Enggros, Abepantai, Nafri dan Koya Koso. Hingga awal Juni, pihaknya sudah melaksanakan imunisasi bagi 221 anak umur 0 – 59 bulan, 94 anak berumur 5 – 7 tahun, dan 202 anak berumur 7 tahun atau lebih.

Penolakan juga dialami Petugas Kesehatan Puskesmas Tanjung Ria. Bidan Nur Serovina mengakui bahwa masih ada orangtua yang ragu mengizinkan anaknya diberi vaksin polio.
“Sebagian masyarakat belum ada yang tau ini PIN Polio. Di jalan-jalan tidak ada baliho [informasi PIN Polio] atau pemberitahuan. Jadi masyarakat masih agak ragu. Tapi kami berusaha memberikan pemahaman lagi,” ujar Nur saat dihubungi melalui panggilan telepon pada Rabu.
Nur mengatakan pihaknya baru memberikan vaksin Polio bagi 739 anak dari target sasaran 1.460 anak. Ia menghimbau agar masyarakat atau orangtua tidak menolak anaknya menerima vaksin Polio. “Dari 30 Mei 2024 sampai hari ini, [kami] sudah dapat 739 anak, sudah lewat dari 50 persen,” ujarnya.

Petugas Kesehatan Yoka, Margried V Dumpel juga mengatakan adanya penolakan dari orangtua. Margried mengaku tidak mengetahui alasan dari orang tua tersebut.
Menurutnya, Puskesmas Yoka telah memberikan vaksin Polio bagi 340 dari 988 anak target sasaran. “Target kami satu hari 50 anak. [Tapi] ada juga orangtua yang menolak anaknya diimunisasi Polio. [Saya] tidak tahu alasannya, tapi mereka pasti punya alasan sendiri,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari mengakui capaian PIN Polio di Kota Jayapura masih jauh dari target sasaran. Pihaknya tengah berusaha menggenjot pemberian vaksin Polio bagi semua umur 0 – 7 tahun.
“Memang masih jauh. Kalau [kami jalan] sendiri, pasti tidak bisa. Selain [diberikan] di sekolah, Posyandu, Puskesmas, [informasi dan anjuran imunisasi Polio] juga [dapat disampaikan] melalui kalangan agama. Pada prinsipnya. (*)







Discussion about this post