Jayapura, Jubi – Sepak bola adalah salah satu cabang olahraga paling digemari dan populer di Tanah Papua. Dari permainan jalanan “patah kaleng” hingga pertandingan di lapangan mini, bahkan di stadion megah seperti Stadion Lukas Enembe. Namun, tahukah kita siapa yang pertama kali membawa sepak bola dari daratan Eropa, khususnya Belanda dan Jerman, ke Tanah Papua – terutama ke Bukit Aitumeri, Miei, Teluk Wondama?
“Om datang dari Kampung Samber di Biak hanya untuk sekolah guru, dan tara tahu (tidak tahu) main sepak bola, olahraga apa itu. Kami belajar sepak bola di Sekolah Guru Miei,” kenang almarhum guru Th. Wospakrik, salah satu murid kesayangan Dr. Pdt. I.S. Kijne, kepada Jubi kala itu.
Ayah kandung Frans Wospakrik – mantan Rektor Universitas Cenderawasih – itu menuturkan, di Miei, sepak bola diajarkan kepada murid-murid sekolah guru. “Sepak bola ini menarik karena kedua tim harus berjabat tangan sebelum dan sesudah pertandingan. Lawan bertanding berpelukan dan bersalaman,” ujarnya. Nama Th. Wospakrik tercatat dalam buku Kota Emas karya Dr. Pdt. I.S. Kijne bersama dua nama lainnya: Tom dan Regi.
Dari sanalah, sepak bola menyebar ke berbagai kampung lewat para guru alumni Miei. Tom Wospakrik misalnya, membawa sepak bola ke Serui yang kemudian dilanjutkan oleh Pdt. W.L. Maloali dan kawan-kawan hingga lahir Seroei Bond yang berkembang menjadi Perseru Serui.
Di Hollandia, di Sekolah Bestuur di Yoka, Wospakrik membangun lapangan sepak bola dan membentuk klub OSIBA (Opleiding School voor Inheemse Bestuurs Ambtenaren – Sekolah Pamong Praja untuk Orang Pribumi) yang ikut dalam liga Hollandia Voetbal Bond, cikal bakal Persipura Jayapura. Th. Wospakrik bahkan memperkuat Hollandia Voetbal Bond dan menjuarai Piala Ratu Juliana pada 30 April 1950, mengalahkan Biak Bond di Lapangan Juliana (kini Lapangan Trikora Abepura).
Sejak era itu, sepak bola yang dibawa oleh para alumni Sekolah Guru Miei menyebar ke seluruh Nieuw Guinea. Olahraga ini kemudian melahirkan pesepak bola hebat asal Teluk Wondama yang berjaya di Papua maupun Indonesia, seperti Johanes Auri yang dijuluki “Black Silent,” Marthen Djopari, Adolf Kabo, Ronny Wabia – gelandang elegan Persipura dan timnas Indonesia – hingga Lodewijk Akwan, petinju legendaris Papua dan Indonesia.
Johanes Auri: “Black Silent” dari Perseman ke Persipura hingga Timnas

Karier sepak bola Johanes Auri melejit ketika memperkuat Perseman Manokwari di Piala Acub Zainal 1974 di Stadion Mandala, Jayapura. Saat itu Perseman meraih juara ketiga, sedangkan Persipura menjadi runner-up setelah kalah 2-3 dari Persimer Merauke. Hengky Heipon, pelatih Persipura kala itu, kemudian mengajak Auri bergabung untuk menghadapi Soeharto Cup III di Jakarta pada 1976.
Pada final 19 April 1976 di Stadion Senayan Jakarta, Persipura yang tidak diunggulkan justru tampil perkasa dan mengalahkan Persija 4-3. Lagu “Persipura” yang dipopulerkan Black Brothers lahir dari kemenangan bersejarah itu, dengan menyebut nama Auri dan Timo Kapisa.
Yohanes Auri, lahir di Manokwari, 30 Oktober 1954, dikenal dengan julukan Black Silent. Ia bermain sebagai bek kiri Persipura dan Persija, serta memperkuat timnas Indonesia di SEA Games, meraih medali perak. Setelah pensiun, ia bekerja di Pertamina hingga pensiun sebagai kepala depot.
Marthen Djopari: Bek Kanan Tangguh Persipura

Marthen Djopari, yang akrab disapa Mardjo, juga lahir dari Teluk Wondama dan berkarier di Perseman serta Persipura. Ia sempat dipanggil memperkuat timnas Indonesia untuk SEA Games dan Asian Games sebelum pensiun pada era 1980-an. Setelah karier sepak bolanya usai, ia bekerja di Kantor Pajak Provinsi Papua.
Adolf Kabo: Striker Haus Gol Perseman dan Timnas

Adolf Kabo, lahir di Manokwari, 3 Maret 1960, memulai karier bersama KNPI Irian Jaya dan sukses membawa tim PON Irian Jaya meraih medali perak di PON 1985. Pada 1986, ia membawa Perseman ke final Perserikatan melawan Persib Bandung. Kabo dikenal sebagai goal-getter ulung, yang kemudian memperkuat timnas Indonesia di Asian Games 1986 dan SEA Games 1987, meraih medali perunggu dan emas.
Ronny Wabia: Sang Striker PON XIII dan Persipura

Ronny Wabia, lahir di Biak, 23 Juni 1970, dikenal sebagai striker andalan tim PON Irian Jaya peraih emas PON XIII Jakarta 1993. Ia kemudian direkrut ke Persipura Jayapura dan membawa tim ke Divisi Utama Liga Indonesia. Wabia juga memperkuat timnas Indonesia pada 1996–1997.
Lodewijk Akwan: Legenda Petinju Kelas Berat Papua

Lodewijk Akwan, lahir di Wasior, 4 Januari 1950, adalah legenda tinju Papua dan Indonesia. Ia meraih sederet medali emas, termasuk di SEA Games XI Manila 1981, PON X 1981, dan berbagai kejuaraan ASEAN. Sosoknya menjadi inspirasi bagi atlet tinju di Papua.
Penulisan sejarah ini menunjukkan bahwa Bukit Aitumeri, Miei, bukan hanya pusat lahirnya sepak bola di Papua tetapi juga menjadi tempat lahirnya atlet-atlet berprestasi di tingkat nasional hingga Asia.
“Pertandingan berakhir setelah 90 menit, tetapi hidup harus terus berjalan,” kata Socrates, gelandang Brasil. Olahraga, sebagaimana pesan para missionaris di Miei, adalah sarana persaudaraan dan perdamaian bagi dunia – termasuk Tanah Papua. (*)











Discussion about this post