Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Olahraga

Frans Doyapo: Dengan keterbatasan mengharumkan nama Papua

August 8, 2025
Waktu Membaca: 5 mins read
0
Penulis: Sudjarwo Husain - Editor: Syofiardi
Papua Frans Doyapo

Frans Doyapo meraih medali emas di World Ability Sport Youth Games 2024 di Thailand. -- Instagram Frans Doyapo

Jayapura, Jubi – Frans Marselino Doyapo telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Meski menyandang disabilitas fisik pada lengan kanannya, remaja berusia 17 tahun dari Kampung Puay, Kabupaten Jayapura, Papua itu, mampu mengubah kekurangan menjadi sebuah kebanggaan.

RELATED POSTS

Empat Atlet NPCI Papua masuk Pelatnas persiapan ASEAN Para-Games 2025

Hana Resti, atlet para tenis meja Papua yang menjadi juara dunia

Menengok latihan tim sepak bola CP Papua, kegembiraan dalam keterbatasan 

Kini, Frans dikenal sebagai atlet para-atletik berprestasi yang mengharumkan nama Papua.

Sejak kecil, Frans, anak bungsu tujuh bersaudara dari keluarga petani, harus berdamai dengan kondisi fisiknya yang tidak sempurna. Semula kondisi ini membuatnya merasa minder sehingga ia kerap mengenakan baju lengan panjang untuk menyembunyikan ‘kekurangannya’ itu.

Meski begitu, Frans adalah sosok yang ramah dan mudah bergaul. Ia menjalani masa kecilnya dengan normal.

“Saya sebelum menjadi atlet di NPCI tetap bergaul dengan teman-teman seperti biasa dan tidak ada perbedaan. Tapi saya masih sering minder dengan kondisi tangan saya yang beda. Saya jarang tunjukkan tangan saya ke orang-orang,” katanya kepada Jubi.

Kehidupan Frans berubah setelah dipertemukan dengan Naomi Awoitauw. Kerabatnya itu melihat potensi besar dalam diri Frans.

Infografis Frans Doyapo Papua

Naomi bercerita, suatu kali, saat Frans mengikuti kegiatan Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kampung Yokiwa, anak perempuannya melihat Frans kerap menyembunyikan tangannya saat sesi foto. Ia kemudian menyadari jika Frans memiliki keterbatasan fisik.

Naomi yang juga ketua Biro Pemberdayaan Daerah di National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Papua, tergerak untuk mencari tahu lebih banyak tentang Frans.

Ia lalu menemui orang tua Frans dan menyampaikan keyakinannya bahwa Frans memiliki bakat luar biasa yang bisa diasah menjadi seorang atlet. Awalnya, Frans masih diselimuti keraguan dan rasa malu.

“Kami datang ke rumah orang tuanya dan sampaikan bahwa Frans ini bisa menjadi atlet dan mengikuti kegiatan Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional dan Pekan Paralimpiade Nasional. Saat kita menyampaikan itu Frans masih malu dan menarik diri,” kata Naomi kepada Jubi, Rabu (6/8/2025).

Naomi meyakinkan Frans dan mendorong kepercayaan dirinya, hingga perlahan ia mulai membuka diri. Naomi juga meyakinkan Frans untuk melanjutkan sekolah ke SMA reguler sambil tetap dibina dan berlatih sebagai atlet di NPCI.

Namun, Frans memilih bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), sebuah keputusan yang justru membuka pintu menuju dunia atletik.

“Dia tetap mau masuk ke SLB. Awalnya bersekolah di SLB Negeri Pembina Provinsi Papua, SMA Kelas I baru dia gabung di NPCI Papua,” kata Naomi.

Frans Doyapo Papua
Frans Doyapo saat tampil di kejuaraan. — Instagram Frans Doyapo

Atlet pertama Papua di sekolah khusus

Setelah memutuskan melanjutkan pendidikannya di SLB, Frans mencoba menguji kemampuannya dengan bergabung dengan NPCI Papua pada 2022. Ia mengikuti seleksi Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional (Peparpenas) dan lolos, lalu mengikuti pemusatan latihan di Palembang, Sumatera Selatan.

Di bawah bimbingan pelatih dan pendamping, rasa minder Frans kian berkurang. Keberaniannya tumbuh, keyakinannya menguat, dan ia mulai memandang keterbatasannya bukan sebagai kekurangan.

“Saya mulai bergabung dengan NPCI pada 2022, waktu itu saya ikut seleksi untuk Peparpenas di Palembang. Saya memilih cabang olahraga para-atletik dan saya lolos dalam seleksi itu,” kata Frans.

Nilai positif Frans tak hanya terlihat pada ketekunannya saat berlatih, tetapi ia juga sosoknya yang dikenal rendah hati, santun, dan taat beribadah.

“Saya dapat informasi dari pelatihnya, setiap pagi kalau bangun dia baca alkitab dan berdoa sebelum dia pergi berlatih. Dia anak yang penurut dan ‘dengar-dengaran’,” ujar Naomi.

Berkat keteguhan hati dan kerja kerasnya, Frans berhasil meraih medali emas pada debut pertamanya sebagai atlet pada ajang Peparpenas X di Palembang pada 2023.

Prestasi gemilang itu membawanya pada sebuah kesempatan emas. Ia mendapatkan panggilan dari NPCI untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Khusus Olahraga Disabilitas (SKODI) di Solo, Jawa Tengah.

Di SKODI, awalnya Frans merasa kesulitan beradaptasi dan ingin pulang, tetapi berkat dorongan semangat dari Naomi dan keluarganya, ia akhirnya bisa bertahan.

“Bangga bisa ada di sini, saya tidak pernah membayangkan bisa seperti sekarang ini,” kata Frans.

Kini Frans sudah dua tahun menjadi siswa SKODI, sejak masuk pada Oktober 2023. Frans menjadi remaja pertama dari Papua yang bersekolah di sekolah khusus yang didirikan pada era Presiden Jokowi itu.

Frans Doyapo Papua
Frans Doyapo usai bertanding di ajang Peparnas XVII 2024 Solo. –Jubi/Dok Sudjarwo Husain

Ia mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tua. Ayahnya, Balsazar Doyapo adalah petani yang mengelola kebun dengan bermacam tanaman yang bisa dijual. Sedangkan ibunya, Yuslina Fiobetauw sehari-hari mengurus rumah tangga.

“Orang tua saya sangat mendukung sekali. Harapan saya bisa bergabung dengan Pelatnas agar bisa membanggakan orang tua saya dan juga NPCI Papua,” ujar Frans.

Karena itu, di SKODI Frans bertekad menembus Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) untuk membanggakan orang tua, keluarga, dan NPCI Papua yang telah membinanya.

Keinginannya untuk menjadi atlet nasional tak sekadar mimpi. SKODI mendekatkannya kepada berbagai iven olahraga disabilitas bergengsi hingga level internasional.

SKODI adalah wadah pengembangan bakat atlet-atlet disabilitas terbaik dari seluruh Indonesia. Sebuah sekolah khusus untuk melahirkan bibit-bibit atlet disabilitas yang berprestasi.

Lulusan SKODI diharapkan dapat melanjutkan karier mereka ke tingkat yang lebih tinggi, salah satunya adalah bergabung dengan Pelatnas yang diadakan oleh NPCI untuk mewakili Indonesia di kancah nasional dan internasional.

Beberapa alumni SKODI bahkan telah berhasil menjadi atlet Pelatnas dan berprestasi di ajang seperti ASEAN Para Games dan Asian Para Games.

Mendulang prestasi

Perjuangan Frans Doyapo melampaui keterbatasan fisiknya dan membuahkan hasil yang membanggakan. Pada ajang bergengsi Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII 20245 di Solo ia kembali dipercaya menjadi bagian dari kontingen NPCI Papua.

Frans Doyapo Papua
Frans Doyapo meraih medali emas di ajang World Ability Sport Youth Games 2024 di Thailand. — Instagram Frans Doyapo

Sebagai atlet ‘anak baru’ di kompetisi ini, Frans berhasil mempersembahkan medali perak pada cabang para-atletik nomor estafet 400 meter, bersama rekan-rekannya.

“Saya tampil di lima nomor, tapi mendapatkan satu medali perak di nomor estafet 400 meter. Peparnas Solo menjadi penampilan pertama saya,” katanya.

Usai perhelatan Peparnas XVII Solo, remaja kelahiran 2008 ini terus berlatih. Ia mencoba mengembangkan kemampuannya dalam pusat pembinaan di SKODI. Frans tak pernah menyerah meski dengan kondisi keterbatasan fisik. Ia bahkan punya moto pribadi untuk selalu menyemangati dirinya.

“Tetap semangat walaupun keadaan tidak sesuai harapan dan jadikan kekurangan sebagai kelebihan. Itu pesan untuk diri saya dan teman-teman yang lain,” ujarnya.

Alhasil, kerja kerasnya dalam latihan membuahkan prestasi. Frans berhasil mengukir namanya di atas podium juara kejuaraan dunia level remaja ‘World Ability Sport Youth Games’ di Thailand pada akhir 2024.

Tak tanggung-tanggung, pada ajang tersebut Frans menggondol dua medali emas para-atletik sekaligus di nomor lari 400 meter dan 800 meter putra. Ia membayar kegagalannya di ajang Peparnas Solo.

“Itu adalah prestasi membanggakan yang diukir oleh Frans Doyapo. Dia atlet muda kita yang kini dibina di SKODI Solo. Kita berharap Frans terus mengukir prestasi dan mengharumkan nama Papua,” kata H Jayakusuma, ketua NPCI Papua,.

Binpres NPCI Papua Kurdi juga menilai Frans Doyapo punya potensi untuk menjadi atlet nasional di masa mendatang. Ia menunjukkan peningkatan selama dibina di SKODI.

Frans Doyapo Papua
Frans Doyapo berada di podium medali World Ability Sport Youth Games Thailand. — Instagram Frans Doyapo

“Dia masuk dalam Pelatnas muda, perkembangannya cukup potensial. Dia meraih dua medali emas sekaligus di Thailand,” ujarnya.

Ketua Bidang Organisasi NPCI Rio Suseno berharap Frans Doyapo bisa mengikuti jejak Marinus Melianus Jowei yang merupakan atlet para-renang asal Papua yang telah meraih banyak prestasi di kancah nasional maupun internasional.

“Kita berharap dia dan adik-adik atlet Papua lainnya bisa menyamai pencapaian Marinus yang telah mengukir banyak prestasi di NPCI,” kata Rio.

Frans Doyapo yang masih berusia muda punya kesempatan besar untuk mewakili Indonesia di berbagai ajang internasional. Statusnya sebagai atlet muda prioritas NPCI yang dibina di SKODI memang dipersiapkan untuk tampil pada ajang sekelas Paralimpiade.

Hal itu menumbuhkan harapan besar dari ‘Bumi Kenambai Umbai’, tempat asal Frans Doyapo.

“Mimpi kami sangat besar sekali bisa melihat anak-anak Kabupaten Jayapura bisa tampil pada Paralimpiade sebagai puncak ajang olahraga tertinggi di dunia,” kata Ketua NPCI Kabupaten Jayapura Renaldy David Tokoro.

Kisah Frans Doyapo adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berprestasi. Seorang remaja yang berasal dari kampung bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan dukungan, setiap mimpi bisa diwujudkan. (*)

Tags: atlet NPCI PapuaFrans DoyapoPeparnasSKODI
ShareTweetSendShareShare
Sudjarwo Husain

Sudjarwo Husain

Related Posts

PBSI
Olahraga

PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional

April 25, 2026
PFL Series Papua 2026
Olahraga

PFL Series Papua: Manzaby FC Bintang tundukkan Moncongbulo FC

April 25, 2026
Sepak bola
Olahraga

Kolaborasi PTFI dan PSSI perkuat fondasi sepak bola di Papua

April 19, 2026
KONI
Olahraga

Dana belum cair, agenda KONI Papua Barat tertunda

April 6, 2026
KONI Papua
Olahraga

KONI Papua agendakan raker dan musorprov usai Paskah

April 2, 2026
Persipura
Olahraga

Dua penyerang Persipura masih butuh adaptasi

March 27, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Covid-19, RSUD Abepura

RSUD Abepura diminta percepat pembayaran insentif Covid-19

December 20, 2023
Bendungan Sadawarna

Jokowi resmikan Bendungan Sadawarna di Subang

December 27, 2022
Pelabuhan Jayapura, Pas Masuk Pelabuhan

Pelabuhan Jayapura uji coba pembayaran pas masuk pelabuhan dengan e-money 

December 10, 2024

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara