Jayapura, Jubi – Frans Marselino Doyapo telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Meski menyandang disabilitas fisik pada lengan kanannya, remaja berusia 17 tahun dari Kampung Puay, Kabupaten Jayapura, Papua itu, mampu mengubah kekurangan menjadi sebuah kebanggaan.
Kini, Frans dikenal sebagai atlet para-atletik berprestasi yang mengharumkan nama Papua.
Sejak kecil, Frans, anak bungsu tujuh bersaudara dari keluarga petani, harus berdamai dengan kondisi fisiknya yang tidak sempurna. Semula kondisi ini membuatnya merasa minder sehingga ia kerap mengenakan baju lengan panjang untuk menyembunyikan ‘kekurangannya’ itu.
Meski begitu, Frans adalah sosok yang ramah dan mudah bergaul. Ia menjalani masa kecilnya dengan normal.
“Saya sebelum menjadi atlet di NPCI tetap bergaul dengan teman-teman seperti biasa dan tidak ada perbedaan. Tapi saya masih sering minder dengan kondisi tangan saya yang beda. Saya jarang tunjukkan tangan saya ke orang-orang,” katanya kepada Jubi.
Kehidupan Frans berubah setelah dipertemukan dengan Naomi Awoitauw. Kerabatnya itu melihat potensi besar dalam diri Frans.

Naomi bercerita, suatu kali, saat Frans mengikuti kegiatan Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kampung Yokiwa, anak perempuannya melihat Frans kerap menyembunyikan tangannya saat sesi foto. Ia kemudian menyadari jika Frans memiliki keterbatasan fisik.
Naomi yang juga ketua Biro Pemberdayaan Daerah di National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Papua, tergerak untuk mencari tahu lebih banyak tentang Frans.
Ia lalu menemui orang tua Frans dan menyampaikan keyakinannya bahwa Frans memiliki bakat luar biasa yang bisa diasah menjadi seorang atlet. Awalnya, Frans masih diselimuti keraguan dan rasa malu.
“Kami datang ke rumah orang tuanya dan sampaikan bahwa Frans ini bisa menjadi atlet dan mengikuti kegiatan Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional dan Pekan Paralimpiade Nasional. Saat kita menyampaikan itu Frans masih malu dan menarik diri,” kata Naomi kepada Jubi, Rabu (6/8/2025).
Naomi meyakinkan Frans dan mendorong kepercayaan dirinya, hingga perlahan ia mulai membuka diri. Naomi juga meyakinkan Frans untuk melanjutkan sekolah ke SMA reguler sambil tetap dibina dan berlatih sebagai atlet di NPCI.
Namun, Frans memilih bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), sebuah keputusan yang justru membuka pintu menuju dunia atletik.
“Dia tetap mau masuk ke SLB. Awalnya bersekolah di SLB Negeri Pembina Provinsi Papua, SMA Kelas I baru dia gabung di NPCI Papua,” kata Naomi.

Atlet pertama Papua di sekolah khusus
Setelah memutuskan melanjutkan pendidikannya di SLB, Frans mencoba menguji kemampuannya dengan bergabung dengan NPCI Papua pada 2022. Ia mengikuti seleksi Pekan Paralimpiade Pelajar Nasional (Peparpenas) dan lolos, lalu mengikuti pemusatan latihan di Palembang, Sumatera Selatan.
Di bawah bimbingan pelatih dan pendamping, rasa minder Frans kian berkurang. Keberaniannya tumbuh, keyakinannya menguat, dan ia mulai memandang keterbatasannya bukan sebagai kekurangan.
“Saya mulai bergabung dengan NPCI pada 2022, waktu itu saya ikut seleksi untuk Peparpenas di Palembang. Saya memilih cabang olahraga para-atletik dan saya lolos dalam seleksi itu,” kata Frans.
Nilai positif Frans tak hanya terlihat pada ketekunannya saat berlatih, tetapi ia juga sosoknya yang dikenal rendah hati, santun, dan taat beribadah.
“Saya dapat informasi dari pelatihnya, setiap pagi kalau bangun dia baca alkitab dan berdoa sebelum dia pergi berlatih. Dia anak yang penurut dan ‘dengar-dengaran’,” ujar Naomi.
Berkat keteguhan hati dan kerja kerasnya, Frans berhasil meraih medali emas pada debut pertamanya sebagai atlet pada ajang Peparpenas X di Palembang pada 2023.
Prestasi gemilang itu membawanya pada sebuah kesempatan emas. Ia mendapatkan panggilan dari NPCI untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Khusus Olahraga Disabilitas (SKODI) di Solo, Jawa Tengah.
Di SKODI, awalnya Frans merasa kesulitan beradaptasi dan ingin pulang, tetapi berkat dorongan semangat dari Naomi dan keluarganya, ia akhirnya bisa bertahan.
“Bangga bisa ada di sini, saya tidak pernah membayangkan bisa seperti sekarang ini,” kata Frans.
Kini Frans sudah dua tahun menjadi siswa SKODI, sejak masuk pada Oktober 2023. Frans menjadi remaja pertama dari Papua yang bersekolah di sekolah khusus yang didirikan pada era Presiden Jokowi itu.

Ia mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tua. Ayahnya, Balsazar Doyapo adalah petani yang mengelola kebun dengan bermacam tanaman yang bisa dijual. Sedangkan ibunya, Yuslina Fiobetauw sehari-hari mengurus rumah tangga.
“Orang tua saya sangat mendukung sekali. Harapan saya bisa bergabung dengan Pelatnas agar bisa membanggakan orang tua saya dan juga NPCI Papua,” ujar Frans.
Karena itu, di SKODI Frans bertekad menembus Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) untuk membanggakan orang tua, keluarga, dan NPCI Papua yang telah membinanya.
Keinginannya untuk menjadi atlet nasional tak sekadar mimpi. SKODI mendekatkannya kepada berbagai iven olahraga disabilitas bergengsi hingga level internasional.
SKODI adalah wadah pengembangan bakat atlet-atlet disabilitas terbaik dari seluruh Indonesia. Sebuah sekolah khusus untuk melahirkan bibit-bibit atlet disabilitas yang berprestasi.
Lulusan SKODI diharapkan dapat melanjutkan karier mereka ke tingkat yang lebih tinggi, salah satunya adalah bergabung dengan Pelatnas yang diadakan oleh NPCI untuk mewakili Indonesia di kancah nasional dan internasional.
Beberapa alumni SKODI bahkan telah berhasil menjadi atlet Pelatnas dan berprestasi di ajang seperti ASEAN Para Games dan Asian Para Games.
Mendulang prestasi
Perjuangan Frans Doyapo melampaui keterbatasan fisiknya dan membuahkan hasil yang membanggakan. Pada ajang bergengsi Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII 20245 di Solo ia kembali dipercaya menjadi bagian dari kontingen NPCI Papua.

Sebagai atlet ‘anak baru’ di kompetisi ini, Frans berhasil mempersembahkan medali perak pada cabang para-atletik nomor estafet 400 meter, bersama rekan-rekannya.
“Saya tampil di lima nomor, tapi mendapatkan satu medali perak di nomor estafet 400 meter. Peparnas Solo menjadi penampilan pertama saya,” katanya.
Usai perhelatan Peparnas XVII Solo, remaja kelahiran 2008 ini terus berlatih. Ia mencoba mengembangkan kemampuannya dalam pusat pembinaan di SKODI. Frans tak pernah menyerah meski dengan kondisi keterbatasan fisik. Ia bahkan punya moto pribadi untuk selalu menyemangati dirinya.
“Tetap semangat walaupun keadaan tidak sesuai harapan dan jadikan kekurangan sebagai kelebihan. Itu pesan untuk diri saya dan teman-teman yang lain,” ujarnya.
Alhasil, kerja kerasnya dalam latihan membuahkan prestasi. Frans berhasil mengukir namanya di atas podium juara kejuaraan dunia level remaja ‘World Ability Sport Youth Games’ di Thailand pada akhir 2024.
Tak tanggung-tanggung, pada ajang tersebut Frans menggondol dua medali emas para-atletik sekaligus di nomor lari 400 meter dan 800 meter putra. Ia membayar kegagalannya di ajang Peparnas Solo.
“Itu adalah prestasi membanggakan yang diukir oleh Frans Doyapo. Dia atlet muda kita yang kini dibina di SKODI Solo. Kita berharap Frans terus mengukir prestasi dan mengharumkan nama Papua,” kata H Jayakusuma, ketua NPCI Papua,.
Binpres NPCI Papua Kurdi juga menilai Frans Doyapo punya potensi untuk menjadi atlet nasional di masa mendatang. Ia menunjukkan peningkatan selama dibina di SKODI.

“Dia masuk dalam Pelatnas muda, perkembangannya cukup potensial. Dia meraih dua medali emas sekaligus di Thailand,” ujarnya.
Ketua Bidang Organisasi NPCI Rio Suseno berharap Frans Doyapo bisa mengikuti jejak Marinus Melianus Jowei yang merupakan atlet para-renang asal Papua yang telah meraih banyak prestasi di kancah nasional maupun internasional.
“Kita berharap dia dan adik-adik atlet Papua lainnya bisa menyamai pencapaian Marinus yang telah mengukir banyak prestasi di NPCI,” kata Rio.
Frans Doyapo yang masih berusia muda punya kesempatan besar untuk mewakili Indonesia di berbagai ajang internasional. Statusnya sebagai atlet muda prioritas NPCI yang dibina di SKODI memang dipersiapkan untuk tampil pada ajang sekelas Paralimpiade.
Hal itu menumbuhkan harapan besar dari ‘Bumi Kenambai Umbai’, tempat asal Frans Doyapo.
“Mimpi kami sangat besar sekali bisa melihat anak-anak Kabupaten Jayapura bisa tampil pada Paralimpiade sebagai puncak ajang olahraga tertinggi di dunia,” kata Ketua NPCI Kabupaten Jayapura Renaldy David Tokoro.
Kisah Frans Doyapo adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk berprestasi. Seorang remaja yang berasal dari kampung bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang, membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan dukungan, setiap mimpi bisa diwujudkan. (*)











Discussion about this post