Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Menyapa Nusantara

Rekreasi yang jadi ritual pencarian validasi

November 18, 2025
Waktu Membaca: 4 mins read
0
Penulis: Antara - Editor: Jean Bisay
Rekreasi

Ilustrasi kolase foto para kreator konten melakukan pengambilan gambar kegiatan luar ruang dan wisata. - ANTARA/Sizuka

Jakarta, Jubi – Sejatinya, rekreasi adalah ruang jeda suci—cara manusia merawat jiwa dari tumpukan beban dan rutinitas. Namun, seiring berkembangnya era digital, jeda itu kini bertransformasi menjadi ritual perjalanan demi mengumpulkan validasi sosial. Fenomena ini, meski mendatangkan berkah bagi industri pariwisata, menyimpan kegelisahan tak kasatmata: seberapa banyak energi mental yang terbuang untuk memastikan liburan terlihat menyenangkan, alih-alih benar-benar terasa menyenangkan?.

Melalui lensa sosiologi Erving Goffman dan konsep “Tourist Gaze” John Urry, tulisan ini membongkar ironi liburan masa kini yang berpotensi memanen kelelahan emosional, menyoroti urgensi untuk kembali pada esensi sejati dari penyegaran batin yang disebut “Rekreasi Hati”.

RELATED POSTS

3 pulau lain di Pasifik Selatan juga punya ritual serupa Apen Bayeren

Masyarakat adat Sabu Raijua gelar ritual penguburan paus

Di atas kertas, rekreasi masih dipahami sebagai jeda: ruang bernapas di antara tuntutan hidup yang semakin rapat. Manusia berlibur untuk melepas, bukan untuk menambah beban.

Namun dalam kenyataannya, jeda itu pelan-pelan berubah menjadi semacam upacara modern—sebuah ritual perjalanan yang kini tak lagi ditujukan untuk diri sendiri, melainkan untuk khalayak yang bahkan tak kita kenal.

Dulu, orang pergi ke pantai untuk mendengar debur ombak, menenangkan kepala, atau sekadar membiarkan kaki tenggelam sebentar di pasir. Kini, agenda utama sering bergeser: memastikan kamera menangkap sudut terbaik, sebelum mata sempat menikmati pemandangan itu sendiri.

Rekreasi seolah menjadi transaksi: kita menukar waktu libur dengan satu set visual yang—kalau beruntung—bisa mendapatkan “persetujuan sosial”.

Tak heran jika objek wisata tumbuh seperti studio foto terbuka. Kementerian Pariwisata boleh saja bersyukur karena angka kunjungan meningkat; industri konten juga ikut menangguk keuntungan.

Tetapi, di balik semua itu, ada kegelisahan yang tak kasatmata: seberapa banyak energi mental yang habis untuk memastikan liburan terlihat menyenangkan, alih-alih benar-benar terasa menyenangkan.

Ketika liburan yang semestinya menyembuhkan justru menambah tekanan—dari kecemasan tampil buruk di foto, hingga rasa bersalah karena liburan “tidak seestetik orang lain”. Beban mental yang tidak disadari itu makin menumpuk.

Bukan mustahil, suatu hari nanti Kementerian Kesehatan akan menghadapi panen pasien yang kelelahan secara emosional, korban dari tren rekreasi yang lebih menuntut performa dibanding pemulihan.

Demi validasi

Jika dulu orang berlibur untuk mengambil jarak dari rutinitas, kini justru rutinitas baru yang tercipta: memastikan setiap detik liburan tampil sempurna di kamera.

Rekreasi
Ilustrasi mengabadikan aktivitas wisata dengan kamera ponsel. – ANTARA/Sizuka

Ada yang sibuk mengatur rambut sebelum angin laut mengacaknya, ada yang mengulang langkah tiga kali demi rekaman slow-motion yang “lebih halus”, atau menunda sarapan karena pencahayaan untuk foto makanan “belum ideal”. Rasanya, liburan itu hanya sah jika ada bukti visual yang bisa dipamerkan.

Sosiolog Amerika kelahiran Kanada Erving Goffman, yang terkenal dengan teori dramaturgi, rupanya masih relevan dikaitkan dengan fenomena kebaruan. Menurutnya, manusia kerap mengatur kesan yang ingin ditampilkan, seolah sedang berada di panggung.

Dalam konteks liburan masa kini, panggung itu bernama kamera ponsel.

Sementara, sosiolog Inggris John Richard Urry menyebutnya sebagai tourist gaze—pandangan wisatawan yang terfokus pada apa yang layak direkam kameranya untuk dibagikan.

Nyatanya, performa di depan kamera menjadi agenda utama. Kita berdiri di tebing, tapi bukannya menikmati laut yang birunya memukau, justru sibuk mengecek apakah garis horizon sudah simetris.

Kita masuk ke kafe unik, tapi alih-alih merasakan atmosfernya, kita lebih cemas pada warna kursinya, apakah cocok dengan setelan pakaian hari itu. Objek wisata yang tadinya ingin kita nikmati, perlahan turun derajat menjadi latar belakang semata.

Hal yang ironis, obsesi mengabadikan momen sering kali membuat momennya sendiri hilang. Kita datang ke air terjun, tapi tidak benar-benar melihat air mengalir—konsentrasi kita tersedot pada aplikasi kamera.

Kita mengunjungi desa budaya, tapi tidak sempat mengenal kehidupan masyarakatnya, karena terlalu sibuk mencari titik foto yang “paling Instagrammable”.

Liburan pun bergeser menjadi pekerjaan tambahan: menjadi model, kameramen, sekaligus editor konten bagi diri sendiri.

Dan inilah bagian paling lucu, sekaligus melelahkan: validasi sosial yang dikejar itu tidak pernah selesai.

Setelah foto diunggah, masih ada tugas lanjutan—menunggu komentar, menghitung jumlah suka (like), memantau siapa yang melihat. Kita seperti meminjam harga diri dari reaksi orang lain. Momen yang seharusnya menjadi perjalanan batin, berubah menjadi perlombaan impresi.

Rekreasi hati

Di tengah kecenderungan liburan yang kian mirip sesi pemotretan panjang, kita kadang lupa bahwa esensi rekreasi tidak selalu menuntut perjalanan jauh.

Di antara hiruk-pikuk perjalanan yang lebih sibuk mengurus citra daripada merawat jiwa, mungkin ada baiknya kita menengok ulang makna rekreasi.

Sebab pada dasarnya, rekreasi adalah pemenuhan kebutuhan rohani—ruang untuk bernapas, setelah keseharian yang melelahkan. Ketika liburan berubah menjadi ajang performa, bagian terdalam dari tujuan itu, justru luput.

Ritual

Sementara ada bentuk rekreasi yang tidak membutuhkan tiket masuk, kamera, atau panorama yang viral—rekreasi yang justru berlangsung di ruang paling dekat.

Kadang, penyegaran jiwa tidak datang dari pesawat yang terbang jauh, tidak harus ditempuh dengan koper besar dan kamera siap siaga. Ada bentuk rekreasi yang jauh lebih tenang dan tidak menuntut apapun: rekreasi hati, menyelam ke dalam diri.

Ia hadir dalam jeda-jeda kecil yang kita berikan kepada diri sendiri—ketika kita duduk diam tanpa agenda, ketika pikiran berhenti berlompatan, ketika kita mengizinkan batin mengambil jeda dari kebisingan dunia.

Rekreasi hati bisa muncul dari hal sederhana: menikmati sinar pagi di halaman, mendengarkan desir angin, menyapa tetangga yang lewat, atau sekadar memberi penghargaan pada kehadiran diri sendiri.

Pada titik ini, kita tidak mengejar validasi, tidak menunggu komentar atau tanda suka; kita hanya kembali menjadi manusia yang sedang istirahat dan bersyukur.

Dan justru di sinilah paradoksnya: semakin jauh kita berlari mengejar konten, semakin jauh pula kita dari ketenangan yang sebetulnya kita cari.

Sementara ketika kita berhenti sejenak, menatap ke dalam, dan menyadari karunia yang ada di sekitar, rekreasi menjadi lebih jujur, lebih bersahaja, dan lebih menyembuhkan.

Rekreasi hati adalah undangan lembut untuk mengistirahatkan diri dari kewajiban tampil. Untuk mengingat bahwa kesejahteraan jiwa tidak lahir dari pemandangan viral, tetapi dari hubungan kita dengan diri sendiri dan lingkungan yang kita huni.

Mungkin inilah bentuk rekreasi yang selama ini hilang: perjalanan ke dalam, yang tidak butuh kamera, tetapi memberi ruang bagi ketenangan yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, mungkin kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita masih berlibur untuk pulih, atau hanya ingin terlihat seperti seseorang yang sedang berlibur?

Sebab kalau rekreasi berubah menjadi ritual mencari pengakuan, yang letih bukan hanya tubuh, melainkan jiwa yang tak kunjung mendapat ruang untuk beristirahat.

Kita sibuk menciptakan citra tentang hidup yang terasa ringan, sementara kehidupan yang sebenarnya tak pernah diberi kesempatan untuk diringankan.

Barangkali, sesekali, ada baiknya kita meletakkan gawai, menurunkan ekspektasi, dan membiarkan dunia mengalir tanpa perlu dibuktikan. Sebab ketenangan yang tidak sempat kita unggah, justru sering menjadi ketenangan yang paling kita butuhkan. (*)

Tags: pencarian validasiRekreasiRitual
ShareTweetSendShareShare
Arga Reysamputra

Arga Reysamputra

Related Posts

warisan budaya takbenda
Menyapa Nusantara

Pemerintah tetapkan 514 warisan budaya takbenda Indonesia

December 16, 2025
BGN
Menyapa Nusantara

Wakil Kepala BGN minta setiap SPPG beri pendidikan gizi ke sekolah

December 16, 2025
Prabowo
Menyapa Nusantara

Prabowo perintahkan hunian sementara di Sumatera segera rampung

December 15, 2025
Kepala daerah
Menyapa Nusantara

Kepala daerah dilarang ke luar negeri

December 15, 2025
Komisi XIII DPR RI
Menyapa Nusantara

Komisi XIII DPR RI dorong program MBG di wilayah 3T di Papua

December 15, 2025
SPPG
Menyapa Nusantara

SPPG diminta utamakan penggunaan bahan baku pangan lokal

December 9, 2025

Discussion about this post

Recommended Stories

perempuan

Karyawan perempuan di Tambang Simberi, PNG berhak atas cuti melahirkan lebih 1 tahun

March 22, 2025
Bupati Jayapura

Pj Bupati Jayapura: Tes CPNS sangat penting 

September 25, 2023
Bawaslu

Rinto Pakpahan: Bawaslu dan wartawan memiliki fungsi yang sama

November 1, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara