Sentani, Jubi – Festival Literasi dan Resilliensi yang digelar Dewan Gereja Papua (DGP) bersama Pusat Studi HAM, Sosial, dan Pastoral STT Walter Post Jayapura (STT WPJ) disebut sebagai ruang merawat ingatan dan memperkuat ruang kemanusiaan di Papua.
Festival ini digelar di Aula Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Kelurahan Yabansai, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Rabu hingga Jumat (19 November 2025-21 November 2025).
Moderator Dewan Gereja Papua, Dr. Pdt Benny Giay menjelaskan, latar belakang digelarnya festival itu karena melihat banyak persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat, dalam hal ini situasi HAM, rasisme, kondisi hutan yang dirusak, pengungsian akibat konflik, dan sebagainya.
Menurutnya, korban konflik yang terjadi antara tentara dan TPNPB itu berdampak secara khusus untuk masyarakat gereja. Bukan hanya masyarakat gereja, tapi para pendatang yang tinggal di wilayah konflik juga kena dampaknya. Selain itu, pertambangan yang terus ada tanpa memperhatikan ekosistem.
“Itulah festival ini diadakan bertujuan untuk kami mencari dan membangun kekuatan, ruang refleksi untuk mengunggah kesadaran publik tentang pentingnya mengingat peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi itu untuk mencari jalan keluar,” kata Pdt. Benny Giay dalam jumpa pers, di Sentani, Senin (17/11/2025).
Festival akan menghadirkan seni, sastra, dan literasi sebagai media pemulihan. Kegiatan ini melibatkan penulis, seniman, jurnalis, akademisi, musisi, aktivis lingkungan, hingga keluarga pengungsi.
Sementara itu, Sekretaris Pusat Studi HAM, Sosial, dan Pastoral STT WPJ Rutina Labene mengatakan ada sejumlah pameran foto pengungsian dari berbagai wilayah konflik, kerusakan hutan adat akibat Proyek Strategis Nasional (PSN), lukisan dan etalase buku, dan UMKM mama-mama Papua dan karya komunitas pengungsian.
Selain itu ada penampilan seni, seperti puisi, musik akustik, dan tarian anak-anak sekolah sore Pos 7 Sereh. Ada juga, diskusi mengenai perspektif HAM, dan masih banyak lagi.
Ketua Pusat Studi HAM, Sosial, dan Pastoral STTWPJ, Hendrica Henny Ohoitimur mengajak para rohaniawan dan masyarakat untuk hadir dalam Festival Literasi dan Resiliensi itu.
Dia berharap kegiatan ini bisa menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan untuk memupuk rasa persatuan dan semangat baru dalam menghadapi situasi dan kondisi di Tanah Papua.
“Kami sangat menantikan, mengharapkan dan menyambut hangat kehadiran bapak, ibu, dan teman-teman dalam kegiatan ini,” ujarnya. (*)







Discussion about this post