Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Headline

Dialog Damai Papua? Ini respon kelompok Pro Papua Merdeka

March 11, 2022
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: - Editor:
Dialog Papua

Ilustrasi - Dok. Jubi

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Kombas HAM), Ahmad Taufan Damanik mengaku pihaknya telah menginisiasi dialog damai antara pemerintah Joko Widodo dan Orang Asli Papua (OAP), termasuk dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pernyataan ini dibenarkan oleh Komisioner Komnas HAM RI, Beka Ulung Hapsara.

RELATED POSTS

Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura

Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

West Papua National Committee (KNPB) issues demands over alleged civilian casualties in Puncak Military Operation.

“Betul.. Kita sudah dapat “ijin” utk ketemu dan dialog dengan OPM. Baik di dalam maupun di luar negeri,” kata Beka kepada Jubi, Kamis (10/3/2022).

Dalam pernyataannya Ahmad Taufan Damanik mengklaim Presiden Jokowi, Menkopolhukam Mahfud MD hingga TNI-Polri telah setuju untuk melakukan dialog damai tersebut.

Lanjut Beka, Komnas HAM RI akan datang ke Papua minggu depan untuk membahas wacana ini dengan berbagai pihak.

Wacana dialog damai ini ditanggapi oleh mantan Tahanan Politik (Tapol) Papua, Filep Karma. Mantan tapol ini tidak yakin Komnas HAM RI bisa menjalankan proses dialog damai yang mereka wacanakan ini. Sekalipun Presiden Jokowi dikatakan oleh Komnas HAM RI sudah setuju proses dialog ini dimulai, Karma meragukannya karena Komnas HAM RI selama ini menurutnya tidak pernah tuntas menyelesaikan masalah HAM di Tanah Papua.

“Komnas HAM Indonesia ini selama ini ada dimana? Selama ini kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM di Papua hanya dipublikasikan tanpa penyelesaian. Setelah bikin publikasi terus kasih tinggal begitu saja. Baru sekarang mau inisiasi dialog?” tanya mantan Tapol Papua ini.

Karma mengatakan tahun 2019 lalu Jokowi sudah pernah mengatakan hal yang sama, mau berdialog dengan pihak pro-kemerdekaan Papua. Pernyataannya ini disampaikan di Istana Bogor. Pernyataannya ini merespon usulan sejumlah anggota DPRD se Papua dan Papua Barat.

“Tapi tidak terjadi sampai hari ini,” ujar Karma.

Saat ini, kata Karma, siapapun yang mau melakukan dialog damai atau apapun namanya yang berkaitan dengan persoalan Papua, harus melibatkan pihak internasional.

“Karena sudah jelas akarnya, Papua menjadi bagian dari Indonesia karena keterlibatan pihak internasional. PBB, Amerika Serikat dan Belanda terlibat secara diam-diam dalam aneksasi Papua oleh Indonesia,” kata Karma kepada Jubi, Kamis (10/3/2022).

Perjanjian New York (New York Agreement) 1962, Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969 dan Resolusi PBB Nomor 2504 Tahun 1969, yang menjadikan Papua bagian dari Indonesia menurutnya melibatkan pihak internasional.

Lanjutnya, rakyat Papua sudah belajar dari proses Kongres Rakyat Papua II tahun 2001 yang hanya melibatkan Jakarta dengan Rakyat Papua. Posisi rakyat Papua lemah karena pihak-pihak yang mewakili rakyat Papua saat itu tidak konsisten dan bermuka dua.

“Presidium Dewan Pappua (PDP) ada yang kakinya di dua sisi sehingga saat pengambilan keputusan yang krusial, mereka ragu-ragu dan takut. Kami, pihak tahanan politik Papua kalah suara,” kata Karma menjelaskan saat itu posisi tahanan politik Papua adalah Papua Merdeka, tidak ada pilihan lain.

Pihak yang paling tepat berdialog dengan Pemerintah Indonesia, lanjut Karma adalah United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang dulu dikenal sebagai Tentara Pembebasan Nasional OPM, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM). Kedua organ Papua Merdeka ini menurutnya adalah representasi yang tepat untuk mewakili rakyat Papua berdialog dengan Pemerintah Indonesia.

ULMWP menekankan dialog damai hanya bisa terjadi jika Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan dalam menangani akar masalah di Papua. Benny Wenda, Ketua ULMWP sebelumnya sudah mengajukan enam syarat agar dialog antara Pemerintah Indonesia dengan ULMWP bisa berlangsung. Syarat-syarat itu adalah : 1. Orang-orang Papua yang telah lama bertekad menuntut referendum, diikutsertakan dalam dialog; 2. Pertemuan dilakukan melalui mediasi pihak ketiga (Misalnya diselenggarakan oleh PBB atau negara pihak ketiga yang disepakati); 3. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia diizinkan untuk mengunjungi Papua Barat; 4. Pembebasan semua tahanan politik Papua; 5. Penarikan personel militer dan polisi dari seluruh tanah Papua; 6. Membuka akses untuk jurnalis dan LSM internasional ke Papua.

“Supaya kami percaya bahwa niat Indonesia ini serius, Indonesia harus menunjukkan itikad baik dan setuju pra-kondisi kami. Keinginan kami adalah mencapai referendum yang demokratis, untuk menjunjung tinggi hak kami untuk mandiri,” jelas Benny sambil mengulangi syarat-syarat yang sudah pernah diajukan ULMWP.

Karma tegas menolak wacana dialog soal kesejahteraan yang selama ini diwacanakan pemerintah Indonesia.

“Rakyat Papua bukan ingin berdialog soal kesejahteraan. Tapi rakyat Papua harus berdialog soal masa depannya. Status politik dan kedaulatan rakyat Papua sebagai sebuah bangsa yang bebas menentukan nasibnya sendiri,” kata Karma.

Karma yang diyakini memiliki hubungan baik dengan kelompok pro Papua Merdeka juga menolak terlibat dalam proses yang diwacanakan oleh Komnas HAM RI ini. Ia menegaskan posisinya ada bersama rakyat Papua yang menginginkan Papua Merdeka.

“Saya orang yang pernah menjadi tahanan politik karena perjuangan Papua Merdeka. Saat ini pun saya masih menjadi tahanan di penjara yang lebih luas. Posisi saya tidak netral. Saya jelas ada di pihak Papua harus merdeka,” kata Karma. (*)

Lanjut Baca
Tags: DialogIndonesiaOPMPapuaULMWP
ShareTweetSendShareShare
Victor Mambor

Victor Mambor

Related Posts

Sidang di parlemen Belanda mengenai situasi hak asasi manusia di bekas koloni negara itu, Papua Barat, 21 April 2026 - RNZ Pasifik
Nasional & Internasional

Kelompok pro Papua Merdeka minta Belanda hentikan penjualan senjata ke Indonesia

April 24, 2026
DPD
Nasional & Internasional

DPD RI Perwakilan Papua desak penghentian kekerasan dan transparansi penyelesaian konflik

April 21, 2026
Pesta Babi
Nasional & Internasional

‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

April 21, 2026
Kabupaten Puncak
Nasional & Internasional

Peristiwa Puncak: Panglima TNI didesak evaluasi operasi penindakan TPNPB

April 18, 2026
West Papua
Nasional & Internasional

Pemimpin Oposisi Kepulauan Solomon minta dunia desak Indonesia buka West Papua

April 18, 2026
Komnas HAM
Nasional & Internasional

Dorong Dialog Damai, Komnas HAM perkuat koordinasi dalam penanganan situasi HAM di Papua

April 18, 2026

Discussion about this post

Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara