Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Features

Jan van Baal dari Gubernur Nederlands Nieuw Guinea sampai pakar antropologi

January 8, 2023
Waktu Membaca: 2 mins read
0
Penulis: - Editor:
Jan van Baal

Prof Dr Jan van Baal, 1909-1992- Jubi/ist

 

RELATED POSTS

Kisah Daniel Hanasbey, pesepakbola Papua pertama di Eropa

Sejarah Pekabaran Injil di Tanah Papua Merupakan Batu Peradaban bagi Orang Papua

Sejarah Panjang Pertambangan di Negara Tetangga, Papua Nugini

Jayapura, Jubi- Jan van Baal mengawali karier politiknya di wilayah Nederlands Nieuw Guinea, sebagai Kepala Kantor Bevolkingzaken di Hollandia,  sekarang dikenal sebagai Kota Jayapura. Lembaga yang dipimpin Jan van Baal ini selalu menerima laporan-laporan etnografi dan budaya dari para Bestur atau Kepala Distrik di seluruh wilayah Nederlands Nieuw Guinea.

Melalui laporan budaya dan etnis setiap suku di tanah Papua, pemerintah Nederlands Nieuw Guinea dan juga pemerintah Belanda membuat kebijakan untuk membuat rencana pembangunan masa depan Papua kala itu.

Selanjutnya pada 1953, Jan van Baal menjadi Gubernur Nederlands Nieuw Guinea menggantikan Gubernur SLJ van Waardenburg hingga 1958. Selama menjadi Gubernur Jan van memindahkan Kantor Gubernur Nederlands Nieuw Guinea dari Hollandia Binnen ke Hollandia Haven atau Dok II Kota Jayapura sekarang.

Setelah menjadi Gubernur Nederlands Nieuw Guinea, pada  1958 Jan van Baal kembali ke negeri Belanda dan menjadi salah satu ahli antropologi kenamaan dari Universitas Leiden di Negeri Belanda.

Dr Jan van Baal pada 1966 menerbitkan buku hasil penelitiannya tentang Suku Marind Anim, lelaki Melanesia di South New Guinea atau Provinsi Papua Selatan sekarang. Buku Marind Anim berjudul “ Dema” setebal 1035 halaman ini ditulis Jan van Baal bersama Pastor J Verschuren MSc.

Salah satu konsepnya yang terkenal di era 1980 an berjudul Erring Acculturation yang kemudian dimuat di dalam Royal Institute for the Tropus, Amsterdam yakni istilah “akulturasi” digunakan dalam pengertian tertentu.

Konsep itu yang dikutip oleh Manuel Kaisiepo dalam artikelnya berjudul “Menghindari Modernisasi yang keliru”, penerbit Pustaka Sinar Harapan, 1987.  Antara lain menyebutkan konsep akulturasi yang keliru ( erring acculturation) adalah ketidakmampuan untuk mencapai sasaran yang diinginkan selama terjadinya proses kontak kebudayaan. Dijelaskan akulturasi yang keliru terjadi apabila proses kebudayaan kehilangan arah dan berkembang ke sasaran-sasaran yang salah dan menuju konsekuensi-konskuensi yang merugikan.

Kaisiepo,  mantan jurnalis Kompas dan eks redaksi Majalah Prisma era 1980 an lalu meminjam pendapat Jan van Baal tentang erring acculturation untuk mengingatkan bahwa hal serupa bisa terjadi dalam proses modernisasi, yaitu timbulnya “modernisasi yang keliru.atau erring modernization, apabila proses modernisasi itu kehilangan arah, dibimbing oleh sasaran sasaran yang salah dan menuju ke konsekuensi konsekuensi yang merugikan..,”

Bahaya yang paling besar dalam erring acculturation menurut van Baal adalah,  benturan modernisasi bisa menyebabkan terjadinya proses “menyusutnya kebudayaan (cultural lost) “ dalam suatu masyarakat tertentu.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa proses ini bakal mengakibatkan banyak anggota masyarakatnya kehilangan makna dan pegangan hidup mereka, terutama di kalangan generasi mudanya. Ini berarti proses modernisasi itu tidak saja dapat menimbulkan proses pemiskinan secara ekonomi, tetapi juga( dan ini lebih parah) proses secara kultural dalam masyarakat tersebut.

Antropolog Prof Dr Jan van Baal lahir pada 25 November 1909 di Scheweningen dan meninggal pada usia 82 tahun di Doorn, Belanda pada 9 Agustus 1992. Prof Dr Jan van Baal mulai kuliah Indologi di Universitas Leiden. Kuliahnya berhubungan dengan konteks masa pemerintahan kolonial di Hindia Timur Belanda. Pada 1934 ia dipromosikan untuk fenomena atau pengayauan di Marind-anim, sebuah Rakyat Papua dari pantai selatan Nugini. Tak lama setelah promosinya Jan van Baal bertugas sebagai administrator di Merauke di Nugini Belanda. Ia mencapai karier puncaknya di tanah Papua sebagai Gubernur Nederlands Nieuw Guinea.(*)

 

 

Lanjut Baca
Tags: FeaturesJan van Baalsejarah
ShareTweetSendShareShare
News Desk

News Desk

Related Posts

Papua
Domberai

Kasih Rumbai Koteka, menyalakan harapan anak putus sekolah di Papua Barat

April 12, 2026
pedagang pakaian
Features

Potret lesu pedagang pakaian kaki lima jelang Idulfitri di Jayapura

March 17, 2026
KPA
Features

Lebih dari 20 tahun, 3 Perempuan Petani perjuangkan Hak Tanah

June 8, 2025
Biak
Features

Biak 1944: Neraka di Tanah Pasifik

April 17, 2025
Peserta belajar membuat gerabah menggunakan mesin putar. -Jubi/Fitri Ramadhani
Features

‘Menoken gerabah’ di Kampung Abar, menjaga tradisi lewat tanah liat

February 11, 2025
Mansinam
Domberai

Berkah dari Pulau Mansinam

February 5, 2025
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara