Jayapura, Jubi- Jan van Baal mengawali karier politiknya di wilayah Nederlands Nieuw Guinea, sebagai Kepala Kantor Bevolkingzaken di Hollandia, sekarang dikenal sebagai Kota Jayapura. Lembaga yang dipimpin Jan van Baal ini selalu menerima laporan-laporan etnografi dan budaya dari para Bestur atau Kepala Distrik di seluruh wilayah Nederlands Nieuw Guinea.
Melalui laporan budaya dan etnis setiap suku di tanah Papua, pemerintah Nederlands Nieuw Guinea dan juga pemerintah Belanda membuat kebijakan untuk membuat rencana pembangunan masa depan Papua kala itu.
Selanjutnya pada 1953, Jan van Baal menjadi Gubernur Nederlands Nieuw Guinea menggantikan Gubernur SLJ van Waardenburg hingga 1958. Selama menjadi Gubernur Jan van memindahkan Kantor Gubernur Nederlands Nieuw Guinea dari Hollandia Binnen ke Hollandia Haven atau Dok II Kota Jayapura sekarang.
Setelah menjadi Gubernur Nederlands Nieuw Guinea, pada 1958 Jan van Baal kembali ke negeri Belanda dan menjadi salah satu ahli antropologi kenamaan dari Universitas Leiden di Negeri Belanda.
Dr Jan van Baal pada 1966 menerbitkan buku hasil penelitiannya tentang Suku Marind Anim, lelaki Melanesia di South New Guinea atau Provinsi Papua Selatan sekarang. Buku Marind Anim berjudul “ Dema” setebal 1035 halaman ini ditulis Jan van Baal bersama Pastor J Verschuren MSc.
Salah satu konsepnya yang terkenal di era 1980 an berjudul Erring Acculturation yang kemudian dimuat di dalam Royal Institute for the Tropus, Amsterdam yakni istilah “akulturasi” digunakan dalam pengertian tertentu.
Konsep itu yang dikutip oleh Manuel Kaisiepo dalam artikelnya berjudul “Menghindari Modernisasi yang keliru”, penerbit Pustaka Sinar Harapan, 1987. Antara lain menyebutkan konsep akulturasi yang keliru ( erring acculturation) adalah ketidakmampuan untuk mencapai sasaran yang diinginkan selama terjadinya proses kontak kebudayaan. Dijelaskan akulturasi yang keliru terjadi apabila proses kebudayaan kehilangan arah dan berkembang ke sasaran-sasaran yang salah dan menuju konsekuensi-konskuensi yang merugikan.
Kaisiepo, mantan jurnalis Kompas dan eks redaksi Majalah Prisma era 1980 an lalu meminjam pendapat Jan van Baal tentang erring acculturation untuk mengingatkan bahwa hal serupa bisa terjadi dalam proses modernisasi, yaitu timbulnya “modernisasi yang keliru.atau erring modernization, apabila proses modernisasi itu kehilangan arah, dibimbing oleh sasaran sasaran yang salah dan menuju ke konsekuensi konsekuensi yang merugikan..,”
Bahaya yang paling besar dalam erring acculturation menurut van Baal adalah, benturan modernisasi bisa menyebabkan terjadinya proses “menyusutnya kebudayaan (cultural lost) “ dalam suatu masyarakat tertentu.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa proses ini bakal mengakibatkan banyak anggota masyarakatnya kehilangan makna dan pegangan hidup mereka, terutama di kalangan generasi mudanya. Ini berarti proses modernisasi itu tidak saja dapat menimbulkan proses pemiskinan secara ekonomi, tetapi juga( dan ini lebih parah) proses secara kultural dalam masyarakat tersebut.
Antropolog Prof Dr Jan van Baal lahir pada 25 November 1909 di Scheweningen dan meninggal pada usia 82 tahun di Doorn, Belanda pada 9 Agustus 1992. Prof Dr Jan van Baal mulai kuliah Indologi di Universitas Leiden. Kuliahnya berhubungan dengan konteks masa pemerintahan kolonial di Hindia Timur Belanda. Pada 1934 ia dipromosikan untuk fenomena atau pengayauan di Marind-anim, sebuah Rakyat Papua dari pantai selatan Nugini. Tak lama setelah promosinya Jan van Baal bertugas sebagai administrator di Merauke di Nugini Belanda. Ia mencapai karier puncaknya di tanah Papua sebagai Gubernur Nederlands Nieuw Guinea.(*)






