Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Domberai

Otsus tidak berikan makna signifikan di Papua Barat Daya, Kambuaya : segera evaluasi ulang

November 22, 2024
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Gamaliel M Kaliele - Editor: Edho Sinaga
Otsus

Ilustrasi - Jubi. Dok

Sorong, Jubi – Agustinus R. Kambuaya, anggota DPD RI, mengkritik pelaksanaan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Otonomi Khusus (Otsus) yang dianggap tidak memberikan makna signifikan bagi keberlanjutan Otsus Jilid II di Papua Barat Daya.

Kambuaya menilai perayaan Otsus kali ini hanya dilakukan secara seremonial tanpa kegiatan strategis yang mendorong langkah konkret dalam implementasi kebijakan tersebut.

RELATED POSTS

DPD RI Perwakilan Papua desak penghentian kekerasan dan transparansi penyelesaian konflik

PAHAM Papua desak DPD RI dan MRP akhiri polemik, fokus pada implementasi Otsus

JDP minta TPN PB, TNI, Polri tidak berperang di permukiman

Kambuaya menyampaikan kekecewaannya terhadap pandangan beberapa pejabat yang memanfaatkan Otsus sebagai kesempatan untuk meraih jabatan dan keuntungan pribadi, tanpa memahami tujuan utama dari Otsus yang seharusnya menjadi solusi penyelesaian konflik, seperti yang tercapai di Aceh melalui Perjanjian Helsinki, atau di luar negeri seperti di Spanyol dan Quebec.

Meskipun Otsus bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan Orang Asli Papua (OAP), kebijakan ini dinilai semakin kabur dalam hal afirmasi, proteksi, dan pemberdayaan.

Sebagai anggota DPR yang terlibat aktif dalam pembahasan dan penulisan Tim Pansus Revisi Otsus Papua Barat serta Tim Panja DOB PBD, Kambuaya menilai pemerintah daerah Papua Barat Daya dan perangkat OPD tidak menjiwai HUT Otsus kali ini.

Ia menyarankan agar perayaan Otsus menjadi momentum untuk menggelar diskusi serius mengenai pencapaian Otsus selama 20 tahun, mengidentifikasi hambatan yang ada, serta merumuskan langkah-langkah konkret, khususnya di sektor pendidikan yang semakin terpuruk.

Kambuaya juga menekankan pentingnya pengelolaan kewenangan yang lebih terstruktur, termasuk implementasi UU Nomor 2 Tahun 2021 dan Peraturan Pemerintah (PP) 106 dan 107 yang berkaitan dengan izin besar seperti HGU sawit dan IUP pertambangan, yang harus dikendalikan secara terpusat.

Ia juga menyarankan agar masalah pengakuan masyarakat adat dalam Otsus dapat diterjemahkan dalam Peraturan Daerah Khusus (PERDASUS).

Terkait kebijakan ASN, Kambuaya mengusulkan agar pengangkatan dan penempatan ASN dalam kerangka Otsus diatur lebih bijak dalam PERDASUS untuk menghindari ketidakpuasan publik yang sering muncul akibat demonstrasi terkait isu kepegawaian.

Tak kalah penting, Kambuaya menyoroti isu pengendalian penduduk di Papua Barat Daya yang semakin sulit dikendalikan, mengingat terbatasnya anggaran daerah (APBD) yang hanya mencapai 3 triliun rupiah, sementara arus migrasi terus meningkat.

Ia mengusulkan agar kebijakan pengendalian penduduk di Yogyakarta dan Bali dapat menjadi contoh bagi Papua.

Kambuaya menegaskan bahwa semua pihak yang terlibat dalam Otsus harus lebih serius dan tidak hanya menjadikannya sebagai isu politik atau keuntungan pribadi. Otsus, katanya, bukanlah kebijakan yang datang begitu saja, melainkan hasil perjuangan panjang yang melibatkan darah, air mata, dan pengorbanan para pejuang keadilan di Papua.

“Jangan hanya menuntut, tetapi kita harus bekerja dengan kewenangan yang sudah ada di tangan kita. Otsus bukan turun dari langit, ada perjuangan yang harus dihargai. Kita harus membangun sistem sosial, politik, dan pemerintahan yang mampu menyelesaikan masalah di Papua,” tegas Agustinus R. Kambuaya, anggota Tim Pansus Otsus DPR Papua Barat dan Tim Panja DOB Papua Barat Daya.

Sementara, Ketua Yayasan Pelita Hidup Papua yang bergerak di bidang pendidikan, Timotius Daud Yelimolo, meminta tegas kepada Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya untuk segera melakukan evaluasi kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) Papua.

Yelimolo menegaskan bahwa evaluasi ini merupakan perintah Undang-Undang Otonomi Khusus Nomor 2 Tahun 2021 Pasal 78 yang mengharuskan pelaksanaan undang-undang ini dievaluasi setiap tahun, dan evaluasi pertama harus dilakukan pada akhir tahun ketiga setelah undang-undang ini berlaku.

Yelimolo juga menekankan bahwa yang perlu dievaluasi dari Otsus adalah pola pikir pejabat Papua yang telah menjabat selama 23 tahun. Ia menyoroti bagaimana mereka mengimplementasikan amanat Undang-Undang Otsus untuk mewujudkan pemberdayaan, perlindungan, dan keberpihakan terhadap Orang Asli Papua (OAP).

“Sejauh mana orang Papua dilindungi dari ancaman genosida? Sejauh mana orang Papua diberdayakan untuk mendapatkan posisi dan jabatan penting di lembaga kementerian, BUMN, dan organisasi internasional yang berbicara tentang hak-hak orang Papua?” tegas Yelimolo.

Ia juga menambahkan evaluasi ini harus dilakukan secara objektif dan melihat konteks bangsa Papua, bukan berdasarkan suku tertentu. Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa pejabat hanya mementingkan kelompok atau suku mereka saja, maka sebaiknya Otsus dikembalikan ke Jakarta atau dievaluasi tegas oleh Presiden, karena kebijakan Otsus harus berlaku untuk setiap anak Papua tanpa sekat suku dan kelompok.

“Jangan hanya euforia di atas penderitaan dan air mata anak negeri. Mulailah bekerja sebagai pelayan yang benar-benar melayani masyarakat dengan hati dan rasa tanggung jawab,” tutupnya. (*)

Tags: Agustinus R KambuayaDPD RIOtsusPapua Barat Daya
ShareTweetSendShareShare
Reinardo Sinaga

Reinardo Sinaga

Related Posts

Foto saat IDAI Gelar Skrining Jantung Anak Gratis di RSUD Sele Be Solu Sorong (23/4/2026).. Ditemukan sejumlah kasus serius yang butuh operasi - Jubi/ Gamaliel
Domberai

IDAI gelar skrining jantung anak gratis di RSUD Sele Be Solu Sorong, temukan sejumlah kasus serius yang butuh operasi

April 24, 2026
e-Sport
Domberai

Cabor E-Sport dan Perbasi sinergi dorong perbaikan KONI Papua Barat

April 24, 2026
Taruna
Domberai

Polisi periksa 12 orang pascainsiden SMK Taruna Kasuari Manokwari

April 23, 2026
SMK Taruna
Domberai

Siswa SMK Taruna Manokwari dianiaya senior, orangtua laporkan ke Polisi

April 24, 2026
kredit
Domberai

Perkara Kredit Prajurit TNI di Manokwari belum ada tersangka

April 21, 2026
Lapas
Domberai

Lapas Kelas III Teminabuan Komitmen Berantas Halinar

April 20, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara