Jayapura, Jubi – Di sebuah aula sederhana milik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih, tawa dan sorak bergema. Di panggung depan, belasan siswa SMA berdiri tegang menatap layar komputer — bukan untuk bermain gim, melainkan menjawab soal-soal sains yang menguji logika, ketelitian, dan rasa ingin tahu mereka.
Inilah babak final Kompetisi MIPA dan Komputer (KOMIKOM) 2025, ajang tahunan yang mempertemukan para pelajar terbaik dari berbagai penjuru Papua: dari lembah Jayawijaya hingga pesisir Sentani. Sebanyak 28 tim dari 13 sekolah beradu kecerdasan dalam bidang matematika, fisika, kimia, biologi, dan komputer.
“Dengan pendidikan sains yang baik, generasi muda diharapkan mampu berpikir kritis, logis, dan inovatif,” ujar Nathan Kum, Senior Vice President Sustainable Development PT Freeport Indonesia (PTFI). “Keterampilan seperti inilah yang paling dibutuhkan di dunia kerja saat ini.”

Sains, Jalan Sunyi Menuju Harapan
Dukungan Freeport bukan sebatas kata-kata. Tahun ini, perusahaan tambang raksasa itu menyumbangkan peralatan laboratorium sains bagi sekolah-sekolah peserta sebagai bentuk apresiasi. Bagi banyak sekolah di pedalaman, alat-alat itu bukan sekadar perlengkapan eksperimen — melainkan jendela menuju masa depan.
“Selamat kepada para pemenang,” lanjut Nathan, “prestasi ini menjadi bukti semangat dan potensi besar generasi muda Papua dalam bidang sains dan teknologi.”
Dalam ajang ini, Tim 1 dari SMAN 1 Jayapura berhasil menyabet juara pertama. Diikuti oleh Madrasah Aliyah Darud Da’wah wal Irsyad Entrop sebagai juara kedua, dan Madrasah Aliyah YPKP Sentani di posisi ketiga. Di mata mereka, kemenangan bukan sekadar piala, tapi pengakuan bahwa anak-anak Papua juga bisa menaklukkan rumus, algoritma, dan logika yang sering dianggap rumit itu.
Sebuah Panggung untuk Menemukan Diri

Bagi Dr. Dirk Y.P. Runtuboy, Wakil Rektor I Universitas Cenderawasih, kompetisi ini adalah ruang kecil yang menyimpan makna besar.
“Kegiatan seperti ini membangun karakter kompetitif, kreativitas, dan rasa cinta terhadap sains serta teknologi informasi,” ujarnya.
Ia menatap wajah-wajah muda yang berseri-seri di akhir lomba, seolah melihat kilatan masa depan Papua yang sedang beranjak dari ketertinggalan.
“Dunia berkembang begitu cepat,” tambahnya, “dan penguasaan sains serta teknologi menjadi kunci menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.”
Dari Jayapura untuk Dunia
KOMIKOM 2025 mengusung tema “Eksplorasi Ilmu, Wujudkan Prestasi.” Selama empat bulan — sejak Juli hingga Oktober — para peserta melewati dua tahap: penyisihan berbasis Computer-Based Test dan babak final dengan sistem gugur interaktif. Di sini, 16 tim terbaik berkompetisi melalui science games, studi kasus, hingga eksperimen sederhana yang menuntut kerja sama dan ketepatan berpikir.

Di tengah derasnya arus digital, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa Papua juga sedang menulis bab baru dalam sejarah pendidikan dan teknologi. Bahwa di tanah yang dulu dikenal karena tambang, kini tumbuh semangat baru: tambang pengetahuan.
Cahaya yang Menyala di Timur
Sore mulai turun di Jayapura ketika lomba usai. Namun, wajah-wajah muda itu belum ingin pulang. Mereka berfoto bersama, tertawa, dan berbagi cerita kecil di halaman kampus. Di tangan mereka, bukan emas atau tembaga — melainkan mimpi dan semangat.
Dan mungkin, dari salah satu di antara mereka, kelak lahir ilmuwan besar pertama dari tanah Papua. Karena sains, sebagaimana cahaya, selalu mencari tempat-tempat yang paling gelap untuk dinyalakan.(*)











Discussion about this post