Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Indepth Story

Geliat kopi ‘barista jalanan’ di Kota Jayapura

February 23, 2026
Waktu Membaca: 5 mins read
0
Penulis: Sudjarwo Husain - Editor: Syofiardi Bachyul Jb
kopi

Usaha Black Koteka Coffee milik anak muda Papua di Skyline. – Foto: Dok Black Koteka Coffee

Jayapura, Jubi – Matahari baru menyapa ketika Jonathan Mebri tiba di kantornya di kawasan Abepura. Jarum jam menunjuk pukul 07.00 WIT. Tak ada meja kayu atau pendingin ruangan. Yang ada hanya barisan sepeda motor listrik dengan boks yang melekat di bagian depannya. Jonathan, pemuda berusia 23 tahun itu, segera melakukan absensi dan mengecek stok kopi.

Pukul 08.30 WIT, ia sudah memacu motornya menuju depan Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen). Di sana, ia memarkir gerobak khas berwarna kuning milik JET Kopi, usaha milik bosnya.

RELATED POSTS

Dinas UMKM Papua Tengah dorong OAP jadi pelaku utama pembangunan ekonomi

37 tahun berjualan ikan asar, sekolahkan enam anak hingga lulus

Jelang HUT Otsus Papua ke-24, Pemprov Papua Tengah gelar berbagai lomba

Jonathan tidak sendirian. Di bahu jalan yang sama, beberapa kawannya juga menjajakan kopi. Ada yang membawa merek serupa, ada pula yang mengusung bendera berbeda. Suasana di depan gedung auditorium itu menjadi titik kumpul para ‘barista jalanan’.

“Awalnya saya iseng-iseng saja karena baru lulus kuliah dan belum ada kerjaan,” kata Jonathan kepada Jubi, Kamis (19/2/2026).

Daripada berdiam diri di rumah, ia mengambil tawaran saudaranya untuk berjualan kopi keliling. Sudah delapan bulan ia melakoni rutinitas ini.

​Di Kota Jayapura, kopi motoran atau kopi gerobakan bukan lagi pemandangan asing. Fenomena ini tumbuh subur di tengah sulitnya mencari lapangan kerja formal bagi lulusan baru.

Meski terlihat santai, kedisiplinan tetap nomor satu. Setiap pagi mereka harus melakukan ceklok tepat waktu sebelum armada disebar ke titik-titik strategis seperti Abepura, Entrop, hingga pusat kota.

“Jam kerja dimulai dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Kami tiba di kantor jam 7 tepat untuk absen, menyiapkan sepeda, dan memasukkan stok kopi. Biasanya, maksimal pukul 08.30 semua armada sudah berada di tempat mangkal masing-masing,” kata Jonathan.

Jayapura kopi

Dari 20 karyawan di tempat Jonathan bekerja, mayoritas adalah anak muda Papua yang masing-masing berasal dari Sentani, Biak, hingga Serui, dan Waropen. Hanya sekitar enam orang yang berasal dari luar Papua. Hal ini menunjukkan bahwa geliat ekonomi mikro ini menjadi tumpuan bagi putra daerah untuk tetap produktif.

“Semuanya ada 17 armada yang jualan, mayoritas adalah anak muda Papua, sementara hanya sekitar enam orang yang non-Papua,” ujarnya.

​Sistem upahnya bagi hasil. Ada gaji pokok dan tunjangan, namun angkanya hanya separuh dari Upah Minimum Provinsi (UMP) yang mencapai Rp4,3 juta. Untuk menutupi kebutuhan, pemilik usaha memberi jatah makan dua kali sehari dan bonus jika target tercapai.

“Pendapatan kami menggunakan sistem pembagian hasil. Ada gaji pokok dan tunjangan, namun besarannya sekitar setengah dari UMP. Kami mendapatkan bonus serta jatah makan dua kali sehari (makan siang dan makan malam) dari bos,” ujarnya.

​Keberadaan kopi gerobakan di depan Auditorium Uncen ini menjadi penyelamat bagi mahasiswa seperti Marlev. Hampir setiap hari, sebelum masuk ruang kuliah atau saat jeda siang, Marlev menyempatkan diri berdiri di samping gerobak kuning milik Jonathan.

Menurutnya, kehadiran kopi gerobakan ini sangat membantu mahasiswa yang butuh asupan kafein, namun dengan isi kantong yang terbatas.

​”Kopi motoran ini praktis. Kita tidak perlu masuk ke kafe mahal hanya untuk segelas kopi enak. Rasanya bersaing, harganya mahasiswa sekali,” ujar Marlev sambil memegang cup kopinya.

Bagi Marlev, membeli kopi di sini juga bentuk dukungan kecil untuk sesama anak muda Papua yang sedang berjuang mencari nafkah.

​Melatih mental dan kerja sambilan

​Jonathan melihat tren ini sebagai sekolah mental bagi kawan-kawannya. Banyak di antara penjual ini yang sebenarnya masih berstatus mahasiswa aktif. Mereka membagi waktu antara ruang kuliah dan pinggir jalan demi membiayai studi atau sekadar uang saku.

jayapura kopi
Jonathan Mebri siap melayani pelanggan di depan Auditorium Uncen. – Jubi/Sudjarwo Husain

“Fenomena ini sangat bagus untuk memotivasi anak muda agar semangat bekerja dan taat aturan. Banyak pekerja yang juga masih berstatus mahasiswa aktif,” ujarnya.

Namun, ia memberi catatan kritis. Menurutnya, pengawasan terhadap hak pekerja, terutama soal pemenuhan gaji dan fasilitas yang dirasa masih kurang, perlu diperketat oleh instansi terkait.

​Uniknya, di dunia kopi gerobakan ini ada kebiasaan yang disebut Jonathan sebagai ‘transfer pemain’. Persaingan antar-merek seperti JET, Kaks Kopi, Lami Kopi, Terpikat, Sedari, hingga Kopi Hati sangat cair.

Para penjual kerap berpindah merek mengikuti kenyamanan atau tawaran upah yang lebih menarik. Perpindahan ini sudah dianggap biasa, menciptakan dinamika kerja yang unik di aspal jalanan Jayapura.

​Beberapa kilometer dari sana, tepatnya di kawasan Entrop, Yuli berdiri di balik gerobak berwarna merah dan putih, bernama Kopi Piko. Saban hari ia mangkal di jalan tanjakan sebelum Kantor Walikota Jayapura.

Berbeda dengan sistem bagi hasil yang diterima Jonathan, Yuli menerima gaji bulanan tetap. Ia mengelola satu dari tiga gerobak milik bosnya yang baru merintis usaha ini.

​Bagi Yuli, pekerjaan ini adalah batu loncatan sambil menunggu panggilan kerja lain. Meski begitu, ia serius melayani pelanggan yang datang dari berbagai usia, mulai dari anak sekolah hingga pegawai kantor. Harga kopinya dipatok mulai dari Rp9.000 untuk jenis presso hingga Rp12.000.

​”Orang suka bukan karena murahnya saja, tapi takarannya pas, tidak terlalu manis. Sehari bisa laku 500 ribu atau sekitar 30 cup,” kata Yuli.

Penjelasannya itu mempertegas mengapa kopinya tetap dicari meski persaingan kopi gerobakan atau kopi jalanan kian marak.

Salah satu pelanggan setianya adalah Rosa, seorang pekerja kantoran di kawasan tersebut. Saban hari setelah makan siang, Rosa kerap berjalan kaki menuju gerobak Yuli untuk memesan kopi sebelum kembali ke meja kerjanya.

“Biasanya kalau habis makan siang itu mengantuk, jadi butuh kopi. Daripada pesan lewat aplikasi yang kena biaya ongkir mahal, lebih enak jalan sedikit ke sini,” kata Rosa.

Ia mengaku menyukai racikan kopi gerobakan karena kualitasnya yang tak kalah enak dengan kopi buatan kafe. Bahkan harganya sangat murah.

“Rasanya enak juga, tidak kalahlah sama yang di kafe-kafe. Harganya murah tapi rasanya bisa dibandingkan dengan yang lain,” ujarnya.

jayapura kopi
Yuli, penjual kopi di kawasan Entrop. – Jubi/Sudjarwo Husain

​Kemandirian Anak Papua

​Di sisi lain kota, tepatnya di kawasan Skyline yang menawarkan pemandangan teluk, Acel dan dua kawannya yang asli Papua memilih jalur berbeda. Mereka tidak ikut merek besar yang sudah punya belasan armada, melainkan merintis usaha sendiri bernama Black Koteka Coffee.

Bisnis itu mereka rintis dengan modal keberanian dan kerja sama kolektif. Usaha mereka itu baru berjalan sejak Oktober 2025. Mereka mengusung misi pemberdayaan yang lebih personal untuk menularkan inspirasi bagi sesama anak asli Papua.

“Utama karena ingin punya pendapatan, kedua saya pribadi ingin berdayakan teman-teman kita sama-sama anak Papua, biar paham tentang usaha,” kata lulusan strata satu ini.

Sebelum terjun ke dunia kopi, Acel lebih banyak bergerak di bisnis konveksi pakaian. Pengalaman berdagang sebelumnya ia terapkan untuk membangun merek kopi lokalnya sendiri.

​Menu yang ditawarkan Black Koteka Coffee lebih variatif dan mengikuti selera kekinian, seperti black koteka signature, kopi gula aren, hingga es kopi pandan.

Namun, menjadi pemilik usaha memiliki beban yang berbeda dengan menjadi pekerja. Acel merasakan bagaimana operasional usaha terkadang mencekik.

“Positifnya, saya tahu usaha itu tidak instan. Butuh tenaga, pikiran, dan uang lebih. Negatifnya pendapatan tidak menentu kadang tidak cukup untuk menutupi operasional,” ujarnya.

​Fenomena menjamurnya barista motoran ini rupanya masuk dalam radar pemerintah Kota Jayapura. Plt Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Kota Jayapura Alberto Fred Itaar mengatakan pihaknya memberikan perhatian khusus terhadap pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Ia menjelaskan, di Kota Jayapura, sektor ekonomi kreatif seperti bisnis kopi motoran ini tak hanya menjadi perhatian Disperindagkop dan UKM, tapi juga masuk dalam agenda program instansi lain.

“Perlu diketahui, di Kota Jayapura ini ada irisan dengan Dinas Pariwisata untuk sektor ekonomi kreatif. Sampai hari ini kami masih berkoordinasi mengenai data komunitas kopi di Jayapura yang ada di bawah naungan Pariwisata,” ujarnya.

​Tren kopi gerobakan di Jayapura ini lebih dari sekadar urusan lidah. Ini adalah potret perlawanan terhadap rasa gengsi. Di tengah pesatnya pembangunan, anak-anak muda ini memilih untuk berpeluh di pinggir jalan. Mereka tidak hanya menjual kopi, tapi juga sedang merintis disiplin dan mentalitas baru.

Di balik deru mesin motor gerobak warna-warni, tersimpan harapan tentang kemandirian ekonomi. Mereka membuktikan bahwa bagi anak muda Papua, masa depan tidak harus melulu menunggu di balik meja kantor. (*)

Lanjut Baca
Tags: Dinas Koperasi dan UMKMKafe Kopipelaku UMKMpelaku UMKM asli Papuausaha kopi
ShareTweetSendShareShare
Sudjarwo Husain

Sudjarwo Husain

Related Posts

odong-odong
Indepth Story

Pemuda Papua yang mencari nafkah dari odong-odong

April 23, 2026
Pasukan Non-organik
Indepth Story

Kekerasan tentara non-organik terhadap Orang Asli Papua terus berulang

April 21, 2026
Daniel Hanasbey
Indepth Story

Kisah Daniel Hanasbey, pesepakbola Papua pertama di Eropa

April 21, 2026
Poster film dokumenter Pesta Babi - Dok. Jubi
Indepth Story

Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

April 19, 2026
Pasar Lama Sentani
Indepth Story

Pasar Lama Sentani, tetap hidup dan menghidupi

April 18, 2026
Persipura Experience
Indepth Story

Persipura Experience obati kerinduan pencinta Persipura

April 11, 2026

Discussion about this post

Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara